ChatGPTImage25Apr202618.03.0

(Oleh: Al-Fakir)

Sekelompok manusia tanpa universitas, tanpa militer besar, tanpa anggaran negara, mengubah dunia secara permanen.

Mereka 70 orang generasi sahabat nabi.

Hari ini kita punya 1,8 milyar orang. Lebih dari cukup uang dan akses ke ilmu pengetahuan. Tapi dunia tidak bergerak karena kita (muslim).

Mengapa?

23 tahun.

Lebih pendek dari masa kerja seorang PNS. Dalam waktu itu, sekelompok manusia yang tidak bisa membaca, tidak punya negara, tidak punya senjata, menghapus dua imperium terbesar dimuka bumi, imperium Romawi dan imperium Persia. (2/3 dunia) Membebaskan jutaan budak. Menanamkan konsep keadilan yang belum pernah ada sebelumnya.

Hari ini dengan 1,8 milyar orang, masjid di setiap sudut kota, ceramah agama 24 jam di genggaman tangan, kita tidak bisa melindungi satu kota pun.

Pertanyaan ini bukan utnuk menyakiti kita, tetapi untuk memaksa kita berpikir tentang sesuatu yang kita  semua hindari.

Sebelum islam, mereka bukan siapa-siapa.

Abu Bakar, pedagang kain. Umar Preman Pasar. Bilal, budak yang namanya tidak punya harga. Khadijah janda di masyarakat yang tidak memberi ruang bagi perempuan untuk berpikir.

Tidak ada privilege. Tidak ada pendidikan terbaik. Tidak ada jaringan kekuasaan. Tapi dalam waktu 23 tahun mereka mengubah sejarah.

Lalu mengapa kita yang punya terjemahan Al-Qur’an dalam 50 bahasa, ribuan kitab tafsir, dan akses ke jutaan ceramah, tidak menghasilkan satu pun perubahan yang sebanding?, ada yang beda. Dan bukan soal zamanya.

Al-Qur”an turun kepada mereka satu dua ayat sekaligus.

Ibnu Mas’ud berkata;

“Kami tidak berpindah ke 10 ayat berikutnya sebelum benar-benar memahami dan mengamalkan 10 ayat sebelumnya”

Mereka tidak membacanya untuk khatam. Tidak untuk sertifikat hapalan. Tidak sebagai backsound vidio motivasi.

Mereka membacanya seperti menerima instruksi untuk mengubah dunia.

Karena itulah yg Al-Qur’an katakan tentang dirinya sendiri.

“Alif Laaam Ra, (ini adalah) kitab yang kami turunkan kepadamu (Muhammad) agar engkau mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya terang-benderang dengan izin Tuhan mereka (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa, Maha terpuji (QS. Ibrahim ; 1).

Bukan setelah mati, Sekarang. Di dunia ini.

Tanpa kita sadari terjadi pergeseran yang sangat besar. Al-Qur’an, yang tadinya peta untuk mengubah dunia, berubah menjadi sumber pahala yang dikumpulkan.

Khatam dapat syafaat, taruh di tempat yang tinggi agar rumah terlindungi. Dan tiba-tiba Al-Qur’an bukan lagi tentang bagaimana kita harus hidup, melainkan tentang berapa banyak poin yg bisa kumpulkan.

Kita berhasil mengubah firman Allah yang menggetarkan singgasana langit menjadi mesin reward poin.

Sementara korupsi juga terjadi diantara orang yang hapal Qur’an. Sementara ke zaliman di bela oleh orang yang rajin shalat. Dan sementara kita sudah merasa sangat ber agama.

Ada kata yg disebut 49 kali di dalam Al-Qur’an. Bukan “shalatlah” bukan “bersabarlah”.

“Afala Ta’qilun” (apakah kalian tidak menggunakan akal)?

Para sahabat tidak sekedar tersentuh Al-Qur’an. Mereka mengerti, dan ketika kita benar-benar mengerti apa yang Allah katakan, mustahil untuk tidak bergerak.

Umar menangis membaca ayat tentang penimbunan harta, lalu pergi mewakafkan kebun qurmanya. Abu Bakar membaca ayat tentang kemerdekaan budak, lalu pergi kepasar membeli dan membebaskan Bilal.

Mereka tidak berkata, “ayat ini indah sekali. Mereka bertanya; “ayat ini memintaku melakukan apa sekarang”?

Kita punya Al-Qur’an 50 bahasa. Tapi berapa banyak dari kita yang pernah duduk dan bertanya: “Apa yang ayat ini minta aku ubah dalam hidupku?”

Para sahabat menjadi luar biasa bukan karena mereka lebih suci. Tapi karena mereka memperlakukan Al-Qur’an sebagai alat berpikir, bukan sekedar sumber ketenangan.

Dunia yang ingin Allah ubah melalui Al-Qur’an tidak ber ubah hanya dengan niat baik. Ia berubah dengan manusia yang tahu cara berpikir dengan Al-Qur’an.

Dan mungkin, itu yang perlu kita mulai.

Semua prinsip kehidupan sudah dijelaskan di Al-Qur’an. Masalahnya, kita sering menganggap remeh kitab yang jadi jawaban perjalanan hidup kita.

Saya tidak menulis ini untuk menyalahkan siapapun. Saya menulis ini karena saya sendiri ber tahun-tahun membaca Al-Qur’an tanpa pernah bertanya;

“Apa yang ayat ini minta aku lakukan?”

Barakallahu fikum aj’main.

Sukamiskin

Our Social Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *