ChatGPTImage19Jun202611.40.2

(Oleh: Al – Fakir)

Tidak mesti eksis tidak harus pepuler, tak perlu harta melimpah, Uwais Al-Qarni dapat kemulian disisi Allah lewat jalur berbakti kepada orang tua, disebut dan dipesankan oleh Rasulullah, dicari oleh para sahabat untuk diminta doa dan istighfar oleh para sahabat.

Padahal ia bukan nama yang pepuler dikalangan sahabat Rasulullah.

Seorang lelaki sederhana, miskin,tanpa gelar,tanpa pangkat, bahkan tanpa pernah bertemu langsung dengan Rasulullah.

Ia adalah UWAIS AL- QARNI, hidup di Yaman, ia sangat merindukan Rasulullah, tapi pengabdian nya pada ibunya, membuatnya tak pernah sempat datang ke Madinah untuk menemui sang Nabi. Ia merawat ibunya yang sakit siang dan malam. Ironisnya dimata masyarakat saat itu, Uwais bukan siapa-siapa. Fakir, tidak dikenal, bahkan dianggap remeh, tapi kerenya dimata Allah, ia begitu mulia.

Sabda Rasulullah kepada para sahabat ;

“Akan datang kepada kalian seorang lelaki dari Yaman yang bernama Uwais. Ia memiliki seorang ibu yang ia sangat berbakti kepadanya. Jika ia bersumpah dengan nama Allah, niscaya Allah akan mengabulkanya. Jika kalian menjumpainya, mintalah doa darinya.” (HR. Muslim)

Kita coba bayangkan sahabat-sahabat besar Rasulullah yang sudah berjuang di medan perang, menegakan Islam dengan darah dan air mata.

Justru diminta oleh Rasullulah untuk minta doa kepada seorang lelaki miskin, yang bahkan, literally, tak pernah menatap wajah Rasulullah.

Kisah Uwais al-Qarni adalah sebuah paradoks dalam logika kapitalis modern:

– ia tidak populer

– ia tidak viral

– ia tidak punya panggung

– ia tidak bergelimang harta.

Tapi di hadapan Allah, ia lebih tinggi daripada orang-orang yang di elu-elukan manusia.

Uwais membuktikan kedekatan dengan Allah tidak butuh panggung.

Keberkahan tidak diukur darai followers, subscribers, atau branding diri.

Nilai tertinggi ada pada ihklas tersembunyi.

Hingga hari ini, nama Uwais di sebut sebagai simbol bakti kepada Ibu. Ia bukan tokoh perang, bukan  penulis kitab, bukan khalifah.

Tapi ia punya sesuatu yang membuat Rasulullah mengangkatnya begitu tinggi ; hati yang bersih, penuh bakti, penuh cinta.

Di dunia modern yang penuh pencitraan, kita sering lupa : Bisa jadi orang yang paling dekat dengan Allah, adalah mereka yang tidak pernah muncul di layar, tidak pernah trending, tidak pernah viral.

Mungkin mereka tetangga kita, mungkin orang terdekat kita, atau mungkin seseorang yang bahkan kita anggap remeh.

“Sungguh Allah tidak melihat rupa kalian, juga harta kalian. Tetapi Allah melihat hati kalian dan amal perbuatan kaluan.”(HR. Muslim)

Salam Juma’t penuh berkah.

Barakallahu fikum Aj’main.

Sukamiskin,

Our Social Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *