Foto. Dok KKL PWK FT Untan
Foto. Dok KKL PWK FT Untan
(Oleh: Ely Nurhidayati)
KUBU RAYA — Sebanyak 49 mahasiswa dan 4 dosen Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura (Untan) menyelenggarakan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) mata kuliah Perencanaan Kota di Kawasan Sungai Ambawang dan sekitarnya. Kegiatan ini mengusung tema besar “Dinamika Peri-Urban Sungai Ambawang” untuk mengkaji transformasi ruang, simpul transportasi, dan perkembangan fisik kawasan pinggiran kota pada Sabtu (10/10/2026). Adapun dosen pengampu mata kuliah Perencanaan Kota Baru adalah Dr.Ars. Ely Nurhidayati, Chairunnisa, ST., MT., Dr. Mira S. Lubis, dan Anthy Septianti, ST., MT. Kegiatan ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi fisik, aktivitas, fungsi lahan dan bangunan, aksesibilitas, serta hubungan terminal ALBN Ambawang dengan kawasan sekitarnya guna mengenali bagian kawasan yang aktif, stagnan, kurang termanfaatkan, maupun berpotensi dikembangkan sebagai dasar penyusunan konsep dan arahan awal perencanaan kawasan.
Kawasan Sungai Ambawang memiliki posisi strategis sebagai koridor utama yang menghubungkan Kota Pontianak dengan wilayah hinterland dan jalur lintas batas negara. Melalui kegiatan KKL ini, kajian mahasiswa dibagi ke dalam empat fokus tema utama. Pertama, mahasiswa mengkaji peran Terminal ALBN Sungai Ambawang sebagai pusat distribusi barang dan penumpang antar negara maupun antar-daerah dalam hierarki sistem kota, sekaligus sebagai simpul jalan arteri utama dalam pembentukan jaringan transportasi. Kedua, analisis dilakukan terhadap aglomerasi guna lahan sektor jasa dan pergudangan yang menjadi penopang logistik sektor beserta pemanfaatan ruang di koridor usaha. Ketiga, kajian memetakan karakteristik transisi desa-kota, termasuk fenomena urban sprawl dari pusat Kota Pontianak ke kawasan pinggiran, perubahan tutupan lahan, dan ketersediaan infrastruktur. Keempat, mahasiswa membedah tipologi morfologi Koridor Trans-Kalimantan Sungai Ambawang untuk memahami pola perkembangan fisik kota yang bersifat linier di sepanjang jalan utama, kemunculan pusat pertumbuhan baru, serta berbagai permasalahan ruang yang menyertainya.
”Kawasan Peri-Urban Sungai Ambawang dan sekitarnya merupakan laboratorium hidup perencanaan kota. Melalui KKL ini, mahasiswa PWK Untan dilatih membaca fenomena transisi desa-kota, aglomerasi logistik, serta dampak perkembangan di koridor Trans-Kalimantan agar mampu merumuskan penataan kawasan yang tertata, efisien, dan berkelanjutan,” jelas Ely.
Sebagai luaran KKL Perencanaan Kota data dan temuan survei di lapangan diolah mahasiswa menjadi menjadi dokumen laporan analisis perencanaan kawasan. Laporan tersebut disusun secara sistematis mencakup gambaran umum lokasi, analisis dan pembahasan sesuai tema kelompok, serta kesimpulan dan rekomendasi penataan kawasan. asil kajian ini diharapkan dapat menjadi masukan awal bagi perumusan kebijakan penataan ruang dan pengelolaan kawasan peri-urban Sungai Ambawang yang inklusif dan terintegrasi.