ChatGPTImage14Jun202612.32.1

(Oleh: Gusti Hardiansyah)

Surah At-Tagābun turun membawa pesan yang sangat tajam bagi manusia yang mudah tertipu oleh ukuran lahiriah. Nama At-Tagābun berarti hari ketika tampak siapa yang benar-benar beruntung dan siapa yang merugi. Pada hari itu, manusia baru sadar bahwa yang disebut menang bukan karena jabatan, pengaruh, harta, atau pujian publik. Kemenangan sejati ialah selamatnya iman, bersihnya amanah, dan terjaganya integritas di hadapan Allah.

Surah ini dibuka dengan kesadaran kosmik: Yusabbihu lillāhi mā fis-samāwāti wa mā fil-ardh, “Bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi.” Ayat ini menegaskan bahwa seluruh semesta tunduk kepada Allah. Maka manusia, siapa pun kedudukannya, tidak patut merasa paling kuat. Gubernur, bupati, wali kota, pejabat, akademisi, pengusaha, aktivis, dan generasi digital hanyalah bagian kecil dari ciptaan Allah. Mereka boleh memimpin, mengelola anggaran, membuat keputusan, dan mengatur kebijakan, tetapi semua itu tetap berada dalam pengetahuan Allah.

Inilah titik awal etika kekuasaan. Kekuasaan bukan panggung untuk meninggikan diri. Kekuasaan adalah ruang ujian. Allah mengetahui yang tampak dan tersembunyi. Dalam bahasa ayat, Allah mengetahui apa yang disembunyikan manusia di dalam dada. Karena itu, laporan kinerja yang indah tidak cukup. Serapan anggaran yang tinggi tidak cukup. Pidato pembangunan yang lancar tidak cukup. Yang lebih penting ialah apakah kebijakan itu adil, anggaran itu bersih, izin itu tidak diperjualbelikan, dan rakyat kecil benar-benar merasakan manfaatnya.

Surah ini juga mengingatkan manusia agar belajar dari umat terdahulu. Mereka menolak kebenaran karena sombong. Mereka berkata, Abasyarun yahdūnanā, “Apakah manusia yang akan memberi petunjuk kepada kami?” Kesombongan seperti ini masih hidup dalam berbagai bentuk. Ada pemimpin yang menolak kritik karena merasa lebih tahu. Ada birokrasi yang menutup data karena takut diawasi. Ada elite yang menganggap suara rakyat hanya penting saat pemilu. Padahal, dalam Islam, nasihat adalah bagian dari keselamatan publik. Kritik yang jujur bukan permusuhan. Ia dapat menjadi pintu perbaikan.

Ayat 7 sampai 10 menegaskan kepastian hari kebangkitan. Orang kafir mengira mereka tidak akan dibangkitkan. Allah memerintahkan Nabi menjawab bahwa kebangkitan itu pasti. Pesannya jelas: tidak ada perbuatan yang hilang. Korupsi yang tidak terbukti di pengadilan dunia tetap tercatat. Manipulasi proyek yang rapi secara administratif tetap terbaca. Janji politik yang dilupakan tetap memiliki beban moral. Fitnah digital yang tersebar dari jari-jari ringan tetap memiliki akibat. Pada hari At-Tagābun, semua transaksi moral akan dibuka.

Dalam kehidupan Indonesia hari ini, pesan ini sangat relevan. Kita masih sering menyaksikan benturan antara cita-cita konstitusi dan praktik kekuasaan. Pancasila menghendaki kemanusiaan, keadilan sosial, musyawarah, dan persatuan. Namun praktik politik kadang dikotori oleh korupsi, kolusi, nepotisme, dinasti, dan kepentingan kelompok. Surah At-Tagābun mengingatkan bahwa negara tidak cukup dibangun dengan infrastruktur fisik. Negara harus dibangun dengan kejujuran, keberanian moral, dan tanggung jawab kepada Allah serta rakyat.

Salah satu bagian paling kuat dari surah ini terdapat pada ayat 14 dan 15. Allah berfirman: Yā ayyuhalladzīna āmanū inna min azwājikum wa awlādikum ‘aduwwan lakum fahdzarūhum, “Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istri dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah terhadap mereka.” Ayat ini tidak mengajarkan kebencian kepada keluarga. Sebaliknya, ayat ini mengajarkan kewaspadaan moral. Keluarga bisa menjadi ujian ketika cinta berubah menjadi pembenaran terhadap penyimpangan.

Dalam riwayat asbābun nuzūl yang dinisbatkan kepada Ibnu Abbas, sebagian orang yang telah masuk Islam ingin berhijrah ke Madinah, tetapi dihalangi oleh istri dan anak mereka. Setelah mereka sampai di Madinah dan melihat orang lain telah lebih dahulu belajar agama, mereka ingin menghukum keluarganya. Maka turunlah ayat ini, disertai tuntunan: Wa in ta‘fū wa tashfahū wa taghfirū fa innallāha ghafūrur rahīm, “Jika kamu memaafkan, berlapang dada, dan mengampuni, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Islam tidak memutus kasih sayang keluarga, tetapi menolak ketaatan buta kepada keluarga ketika keluarga menghalangi kebenaran.

Ayat berikutnya lebih tegas: Innamā amwālukum wa awlādukum fitnah, “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah ujian.” Bagi pemimpin daerah, ayat ini harus dibaca dengan hati bergetar. Banyak kejatuhan moral bermula dari alasan keluarga. Proyek diberikan kepada kerabat. Jabatan diberikan kepada orang dekat. Izin dipermudah untuk kroni. Anggaran diarahkan untuk kepentingan politik keluarga. Pada titik itu, keluarga bukan lagi rumah kasih sayang, tetapi jalan tergelincirnya amanah.

Surah ini juga berbicara tentang musibah: Mā ashāba min mushībatin illā bi idznillāh, “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah.” Ayat ini bukan alasan untuk pasrah tanpa ikhtiar. Justru ayat ini membangun keteguhan hati agar manusia tidak kehilangan arah ketika menghadapi krisis. Banjir, longsor, kebakaran hutan, kemiskinan, kerusakan lingkungan, dan ketimpangan sosial harus dibaca sebagai panggilan perbaikan. Iman tidak boleh berhenti pada doa. Iman harus bergerak menjadi kebijakan yang melindungi bumi, menjaga hutan, menguatkan desa, dan membela rakyat rentan.

Untuk Generasi Z, At-Tagābun memberi peringatan agar tidak tertipu oleh popularitas digital. Dunia hari ini sering mengubah perhatian menjadi mata uang. Yang viral dianggap benar. Yang ramai dianggap penting. Yang estetik dianggap berhasil. Padahal, hidup tidak selesai di layar. Generasi Z perlu membangun ilmu, karakter, disiplin, dan keberanian etis. Teknologi harus menjadi alat karya, bukan tempat kehilangan diri.

Untuk Generasi Alpha, surah ini mengingatkan orang tua, sekolah, dan negara agar tidak hanya mendidik anak menjadi pintar secara digital. Mereka harus diajari adab, empati, tanggung jawab, literasi informasi, dan kesadaran spiritual. Anak adalah amanah, sekaligus ujian. Mereka bukan sekadar penerus keluarga, tetapi calon penjaga peradaban.

Surah ini ditutup dengan prinsip yang sangat manusiawi: Fattaqullāha mastatha‘tum, “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.” Allah tidak meminta manusia menjadi sempurna tanpa cela. Allah meminta manusia berusaha sekuat kemampuan untuk jujur, adil, taat, dan memperbaiki diri. Maka pemimpin harus memperbaiki tata kelola. Rakyat harus menjaga amanah sosial. Generasi muda harus menata arah hidup. Keluarga harus menjadi sumber kebaikan, bukan sumber pembenaran dosa.

Pada akhirnya, At-Tagābun adalah cermin. Ia bertanya kepada kita: apakah kita benar-benar untung, atau hanya tampak menang? Apakah jabatan membawa berkah, atau justru menambah beban? Apakah keluarga mendekatkan kita kepada Allah, atau menyeret kita pada penyimpangan? Apakah harta menjadi jalan manfaat, atau menjadi sebab lupa diri?

Di hari At-Tagābun, semua akan jelas. Maka sebelum hari itu datang, Indonesia perlu menata ulang nurani kekuasaannya, pendidikan generasinya, dan kejujuran bangsanya.  

#GuruBesar Universitas Tanjungpura  

#KetuaICMIOrwil Kalbar

Our Social Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *