WhatsAppImage2026-06-13at10.46.55

(Oleh: Chariyandika/aktifis Swandiri Inisiatif Sintang)

Pertanian masih menjadi sumber penghidupan utama bagi sebagian besar masyarakat di Kabupaten Melawi. Di berbagai desa, masyarakat menggantungkan kehidupan mereka pada komoditas seperti padi sawah, padi lokal, sayuran, hortikultura, karet, kelapa sawit, hingga usaha pertanian hidroponik yang mulai berkembang dalam beberapa tahun terakhir.

Dari hasil diskusi dilapangan, terlihat bahwa Melawi sebenarnya memiliki modal yang cukup kuat untuk mengembangkan sektor pertanian. Banyak petani masih mempertahankan padi lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun. Selain mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan setempat, padi lokal ini juga memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi benih unggulan yang bernilai ekonomi lebih tinggi.

Di beberapa desa, kelompok tani juga sudah terbentuk dan masih aktif. Keberadaan kelompok ini seharusnya menjadi kekuatan bagi petani untuk belajar bersama, berbagi pengalaman, mengembangkan usaha, hingga memperkuat posisi mereka di pasar. Namun kenyataannya, fungsi kelompok tani masih belum berjalan maksimal. Kelompok sering kali hanya aktif ketika ada program atau bantuan, sementara perannya sebagai wadah penguatan petani masih belum optimal.

Tantangan terbesar yang dirasakan petani saat ini adalah tingginya biaya produksi. Harga pupuk yang mahal, serta sulitnya memperoleh sarana produksi membuat biaya bertani semakin tinggi. Di sisi lain, hasil yang diperoleh belum selalu mampu menutupi biaya yang telah dikeluarkan.

Persoalan lain yang cukup sering muncul adalah ketergantungan pada cuaca. Sebagian besar lahan pertanian masih mengandalkan sistem tadah hujan. Ketika musim tidak menentu atau curah hujan berkurang, produksi ikut menurun. Kondisi ini diperparah dengan terbatasnya infrastruktur pendukung seperti irigasi dan alat mesin pertanian yang belum tersedia atau belum berfungsi secara optimal.

Masalah pemasaran juga menjadi keluhan yang hampir selalu muncul dalam setiap diskusi dengan petani. Sebagian besar petani masih menjual hasil panen secara sendiri-sendiri dengan akses pasar yang terbatas. Akibatnya, posisi tawar mereka menjadi lemah dan harga jual sering kali ditentukan oleh pembeli atau tengkulak. Tidak jarang petani merasa hasil kerja keras mereka selama berbulan-bulan tidak sebanding dengan pendapatan yang diperoleh saat panen.

Menariknya, di sisi lain terdapat kondisi yang cukup paradoks. Beberapa komoditas sebenarnya dibutuhkan oleh pasar, namun petani justru mengalami kesulitan menjual hasil panennya dengan harga yang layak. Hal ini menunjukkan bahwa persoalan utama bukan hanya pada produksi, tetapi juga pada bagaimana produk petani dapat terhubung dengan pasar yang tepat.

Meski menghadapi banyak tantangan, peluang untuk mengembangkan sektor pertanian masih sangat terbuka. Keberagaman komoditas yang dimiliki masyarakat menjadi kekuatan tersendiri. Selain itu, mulai muncul berbagai inovasi seperti hidroponik dan pengembangan benih lokal yang menunjukkan bahwa petani sebenarnya memiliki semangat untuk terus beradaptasi dan berkembang.

Hal lain yang patut mendapat perhatian adalah besarnya kontribusi perempuan dalam sektor pertanian. Di banyak desa, perempuan terlibat hampir di seluruh tahapan usaha tani, mulai dari penanaman, pemeliharaan, panen, hingga pascapanen. Namun kontribusi besar tersebut belum sepenuhnya diikuti dengan keterlibatan dalam pengambilan keputusan maupun pengelolaan kelembagaan pertanian.

Melihat berbagai kondisi tersebut, pengembangan pertanian di Melawi tidak cukup hanya melalui bantuan sarana produksi atau pelatihan sesaat. Yang dibutuhkan adalah pendampingan yang berkelanjutan, penguatan kelompok tani, peningkatan kapasitas petani, akses informasi pasar yang lebih terbuka, serta pembangunan sistem pemasaran yang mampu meningkatkan posisi tawar petani.

Pada akhirnya, Melawi memiliki semua modal dasar untuk membangun sektor pertanian yang kuat. Lahan masih tersedia, petani memiliki pengalaman panjang dalam bertani, komoditas lokal memiliki potensi yang besar, dan semangat masyarakat untuk berkembang masih sangat kuat. Tantangan yang ada memang tidak sedikit, tetapi dengan penguatan kelembagaan, akses pasar yang lebih baik, serta dukungan yang tepat sasaran, pertanian dapat menjadi penggerak utama peningkatan kesejahteraan masyarakat pedesaan di Kabupaten Melawi.

Our Social Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *