ChatGPTImage17Jul202610.08.2

(Oleh: Al-Fakir

Kalau semua ketidakadilan diserahkan ke akhirat, lalu siapa yang berani membenahi umat manusia di dunia hari ini?.

Kadang kita terlalu cepat bilang kata tersebut, “biar serahkan ke ahirat saja” padahal ada ketidak adilan sebenarnya bisa kita cegah hari ini.

Masyarakat kita ada yang biasa pas lihat ketidakadilan langsung bilang; “tenang saja nanti juga ada balasan di akhirat.”

Seolah-olah agamis, urusan dunia cukup ditinggal, karena semua nya akan diselesaikan di hari ahir. Justru hal itu yang secara pelan-pelan akan membuat kita jadi pasif tanpa sadar.

Padahal islam tidak pernah mengajarkan kita untuk berlepas tangan. Dalam QS. Al-Baqarah 143, umat islam disebut sebagai umat pertengahan(Ummatan Washathan).

Menurut Quraish Shiab, dalam tafsir Al-Misbah, kata washath bermakna adil dan seimbang, pilihan terbaik berada di tengah. Tidak ekstrim ke “cuma dunia” dan tidak juga lari ke “cuma akhirat.”

Keadilan di akhirat itu pasti, tapi itu bukan alasan yang membuat kita diam di dunia. Dalam banyak prinsip syariat, kezaliman justru harus dicegah, bukan ditunggu balasanya.

Islam bukan agama pelarian, tapi agama tanggung jawab.

Bahkan dalam islam, ada konsep Sunnatullah dan Maqasid Syariah.

Allah menciptakan hukum sebab akibat di dunia. Doa itu penguat hati, tapi ihktiar adalah cara kita menghormati Sunnatullah.

Ditambah lagi, menjaga masyarakat dari ke zaliman adalah tujuan utama syariat(Maqasid Syariah). Tidak ada konsep “cukup berdoa saja, lalu berlepas tangan.”

Karena membiarkan kerusakan bearti mengabaikan perintah agama itu sendiri.

Lihatlah realita, mulai dari ketimpangan ekonomi, pemborosan anggaran, sampai kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat, dampaknya nyata di dunia, bukan di ahirat terlebih dahulu.

Data BPS dan laporan lembaga riset independen konsisten menunjukan bahwa orang kecil yang kena dampaknya duluan, bukan pelaku kebijakanya.

Kalau kita cuma bilang “biar nanti di akhirat dibalas,” itu sama dengan membiarkan keruskaan berjalan terus.

Dalam perspektif Islam, membiarkan kemungkaran yang bisa dicegah itu bukan sikap netral, tapi adalah bentuk pembiaran.

Rasulullah bahkan mengajarkan untuk mengubah kemungkaran dengan tangan, lisan, atau setidaknya hati( HR. Muslim. No.49 )

Masalah pembiaran ini sering dibungkus jadi terlihat “sabar” atau “tawakal.”

Padahal sabar  itu aktif, bukan pasif. Tawakal itu setelah kita menghormati Sunnatullah dengan berusaha, bukan pengganti usaha.

Maka yang bisa kita ubah mulai sekarang;

-Memahami isu publik, berhentilah mengabaikan, mulai perhatikan masalah sosial disekitar kita.

-Pahami kebijakan, edukasi diri terkait aturan dan anggaran yang berdampak pada masyarakat luas.

-Lawan apatis, sadari bahwa suara dan kepedulian kita adalah aksi nyata untuk kebaikan, tanpa harus menunggu jadi pejabat.

Iman ke hari pembalasan, harus membikin kita makin sensetif kepada ketidak adilan hari ini, bukan jadi alasan kita untuk menjadi diam.

Karena kalau kita cuma menunggu ahirat, kita sama saja sedang membiarkan dunia makin rusak tanpa kita sadari.

Maka jangan ubah tawakal jadi alasan apatis, peduli isu publik, mengawal kebijakan, membela suara rakyat yg dirugikan adalah juga bagian dari mencegah kemungkaran.

Karena iman yang sehat bukan cuma menunggu akhirat, tapi ikut menjaga dunia agar tidak semakin rusak.

Bahkan QS. An-Nisa ayat 135, memerintahkan orang beriman untuk tegak dalam keadilan, meskipun itu berat dan tidak selalu nyaman.

Barakallahu fikuum aj’main

Sukamiskin,

Our Social Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *