(Oleh: Al-Fakir)
Meminjam syair lagunya Iwan Fals.
Bangunlah putra putri ibu pertiwi, mari mandi dan gosok gigi, setelah itu kita berjanji. Garuda bukan burung perkutut, Sang Saka bukan sandang pembalut.
Tiba-tiba,
Ketua MPR-nya bisa diutus oleh presiden : saya berangkat ke Iran sebagai utusan khusus Presiden.
Tiba-tiba;
DPR nya jadi juru bicara presiden.
Tiba-tiba;
Presidenya diberi penghargaan oleh Kapolri.
Tiba-tiba;
Militer-nya mengurus Koperasi dan bertani.
Tiba-tiba;
Polisi-nya mengurus dapur makan bergizi.
Tiba-tiba;
Undang-undangnya disahkan tanpa partisipasi.
Tiba-tiba;
Hukum-nya di kangkangi.
Tiba-tiba;
Asisten artis diangkat menjadi komisaris.
Tiba-tiba;
Semua relawan kebagian jabatan.
Tiba-tiba;
Jampidus mengundurkan diri
Kalau sudah begini, yakinkah kita kalau Indonesia kita baik-baik saja?
Rasanya jelas;
– jelas indonesia cacat kelola
– indonesia tidak baik-baik saja
– indonesia penuh inkompetensi
– indonesia jauh dari demokrasi
– jelas indonesia (isi sendiri)
Karena pada ahirnya, mengelola negara itu tidak cukup punya ambisi dan bisa orasi, apalagi modal imajinasi dan halusinasi.
Ahir kata, bangunlah putra-putri ibu pertiwi, indonesia kita butuh revolusi.
Barakallahu fikum aj’main
Sukamiskin
(sesekali nulis situasi politik, sudah lama tidur di bui)