(Oleh: Al-Fakir)
Kalau Allah mau laut Merah bisa terbelah sebelum nabi Musa tiba.
Tetapi kenapa Allah tidak melakukanya?
Kalau Allah berkehendak, Fir’aun bisa langsung di hancurkan.
Tanpa pengejaran, tanpa kepanikan, tanpa laut yang menghadang.
Tapi yang terjadi justru sebaliknya, didepan terbentang laut.
Dibelakang pasukan Fir’aun semakin dekat.
Tidak ada jalan, tidak ada tempat tersembunyi.
Tidak ada harapan menurut logika manusia.
Bahkan orang-orang bersama Nabi Musa berkata, ” kita pasti tersusul”, saat itu
Mereka tidak sedang melihat laut. Mereka sedang melihat ahir dari segalanya.
Pertanyaannya
Kalau Allah memang ingin menyelamatakan nabi Musa, kenapa laut itu tidak dibelah sebelum mereka sampai?
Karena Allah ingin mengajarkan sesuatu, bahwa Mukjizat datang pada waktu yang Allah tentukan.
Bukan pada waktu yang kita inginkan.
Lalu Allah perintahkan nabi Musa mengangkat tongkatnya.
Secara logika apa hubungan tongkat dengan laut yang terbelah, Tidak ada.
Tetapi, ketetapan Allah, tidak harus selalu masuk akal terlebih dahulu.
Barulah setelah itu, laut terbelah.
Jalan yang tidak pernah ada, tiba-tiba terbuka. Bukan karena tongkat itu, tapi karena Allah.
Dan karena nabi Musa tetap taat.
Kalau hari ini kita sedang berdiri di depan “laut” kehidupan mu,
Laut hutang
Laut kegagalan
Laut sakit
Laut kehilangan.
Laut bisnis yang terasa buntu.
Laut ketidak adilan yg melingkarimu, sehingga membuat kita berada dalam sudut sempit tak berujung.
Jangan menyerah, Hanya hari ini jalannya belum terlihat.
Bisa jadi yang sedang Allah tunggu.
Bukan kemampuan kita,
Bukan kekuatan kita,
Tetapi, Ketaatan kita.
Karena ketika waktunya tiba, Allah akan mampu membuka jalan di tempat yang selama ini kita anggap mustahil untuk dilewati.
Dan ketika Allah membuka jalan itu. Tidak ada manusia yang mampu menutupnya.
Barakallahu fiikum aj’main.
Sudut sempit sukamiskin.