ChatGPTImage12Agu202613.10.4

(Oleh: Al-fakir)

Agar hati lebih tenang menerima ketetapan Allah, Rasulullah mengajarkan kita untuk  memahami Takdir.

Rasulullah SAW, adalah pribadi yang paling ridha dengan takdir Allah, beliau mengajarkan, memberi tuntunan, agar hati tetap lapang menerima semua ketentuan Allah.

1. Meyakini semua sudah di tulis.(QS. Al-Qamar, 49 dan QS. Al-Hadit,22-23).

Rasulullah  bersabda;

“Sesungguhnya yang pertama kali Allah ciptakan adalah Pena. Allah berfirman: “Tulislah,’Ia berkata: ‘Apa yang harus kutulis?’ Allah berfirman; ‘Tulislah takdir.segala sesuatu sampai hari kiamat.'( HR. Abu Dawud, shahih).”

Dengan yakin bahwa semua sudah tertulis di Lauhul Mahfuzh, hati menjadi lebih tenang.

2. Tetap berusaha dengan Ikhtiar.(Ar-Ra’ad, 11)

Rasulullah  bersabda: “Bersemangatlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah.”(HR. Muslim).

Takdir bukan alasan untuk malas, kita tetap wajib berusaha sebaik-baiknya.

3. Doa sebagai jalan Takdir.

Rasulullah bersabda; “Tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali doa.”(HR. Tirmidzi, hasan shahih)

Doa adalah bagian dari takdir itu sendiri. Maka jangan pernah berhenti berdoa(sebelum-saat-sesudah)

4. Ridha dengan ketentuan Allah. (QS. At-Taghabun, 11, Al-Baqarah, 216, Ali Imran, 120)

Rasulullah, mengajarkan kita doa;

“Rodhii tu billaahi rabbaa wabil islaami diinaa wabimuhhammadin shallalaahu alaihi wassalam nabiyaa.”

(“Aku ridha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan muhammad sebagai nabi.”) (HR. Tarmidzi, shahih)

Dengan ridha Allah, hati akan terasa lebih lapang, meski takdir terasa amat berat.

Singkatnya, yang perlu kita pahami dan lakukan agar kita lebih tenang menjalani ketetapan Allah.

-Semua sudah ditulis, jadi jangan gelisah.

-Tetap berikhtiar dan selalu yakin kepada Allah.

-Berdoa sebelum, saat dan sesudah melakukan sesuatu merupakan sebab syar’i yang bisa ditempuh.

-Ridha adalah kunci ketenangan hati.

“Hati akan tenang bila yakin semua takdir Allah adalah yang terbaik.”

Baraakallahu fiikum aj’main.

Subuh, sudut sempit sukamiskin.

 
Our Social Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *