CATATAN PINGGIRAN DARI SUARA YANG DIABAIKAN DIBALIK KATANYA SUDAH MERDEKA
Penulis : Syahroni Pratama (Ketua PC IMM Kapuas Raya)
Kita semua tahu bahwasannya Indonesia sudah di jajah selama 3,5 abad. Pasca itu Indonesia telah resmi secara legitimasi merdeka pada 17 Agustus 1945.
81 sudah umur Indonesia pasca kemerdekaan secara resmi. Namun yang masih menjadi pertanyaan adalah “apakah Indonesia sudah merdeka seutuhnya?”
Saya menyadari bahwasannya Ketika Indonesia sudah dinyataan merdeka pada 17 Agustus 1945 itu belum menjadi final. Sebab masih banyak hal-hal yang mesti harus dibenahi dan menjadi catatan janji. Indonesia ada karena kesepakatan dan janji dari leluhur kita semua.
Ironisnya Indonesia masih jauh dari kata “Merdeka” itu sendiri. Sudah 81 tahun Indonesia masih terjebak dengan identitas sebagai negara berkembang. Jika kita melihat sejarah kembali, usia kemerdekaan Indonesia hanya beda 2 hari dengan Korea Selatan yang hari ini sudah menjadi salah satu Negara maju di global.
Kerusakan alam yang terus dikeruk oleh segelintir orang tanpa memperhatikan amdal teris berkelimpangan di Indonesia. Sungguh mirisnya lagi ternyata proyek sebesar itu terdapat kolusi yang di perankan tidak lain dari pemerintah itu sendiri.
Pendidikan selalu diabaikan. Fasilitas dan tenaga didik tidak pernah mendapat fasilitas yang layak. Rakyat kita disuruh kenyang ketimbang pintar. Saya teringat dengan kata Tan malaka “Pemerintah suka rakyat yang bodoh, agama butuh umat yang patuh, tapi kebenaran tidak butuh keduanya, sebab kebenaran suka memberontak” maknanya sampai saat ini pemerintah terus membiarkan rakyatnya tidak terdidik karena mereka takut jika suatu saat akan banyak lahir pemuda yang intelektual dan kemudian berbalik meruntuhkan kebobrokan para borjuis di Negara ini.
Saya merasa Negara ini diciptakan tidak untuk maslahat. Negara ini diciptakan oleh segilintir orang yang mendadak bahagia menjadi borjuis. Saya juga teringat sejarah bagaimana saat itu Tan Malaka kontra dengan cara soekarno yang memerdekakan Indonesia melalui perundingan. Sampai saat ini kita juga melihat budaya perundingan marak terjadi. Siapa yang punyak koneksi maka dia akan menang. Menurut Tan Malaka, kemerdekaan haruslah 100% diciptakan melalui revolusi.
Slogan Indonesia emas 2045 menurut saya hanyalah omong kosong. Bahkan di tahun 3000 pun jikalau keadaan Indonesia masih seperti ini makan yang hadir hanyalah Negara yang mendekati jurang kehancuran. Bukan emas, melainkan cemas. Kita dihadapi dengan berbagai macam fenomena pergolakan.
Hukum tak lagi berpihak secara adil, kebijakan yang penuh ketimpangan, kemiskinan belum terselesaikan, Pendidikan diabaikan, alam terus dirusak dan masih banyak lagi.
Jikalau kita perhatikan, banyak para pemimpin kita diletakkan di jabatan yang tidak sesuai dengan keahliannya. Ini juga membuktikan bahwasannya ilmu pengetahuan selalu diabaikan. Kemerdekaan Indonesia hanya akan hadir oleh masyarakat yang telah sadar, terdidik, dan berorganisasi. Kemerdekaan tanpa ilmu pengetahuan hanyalah omong kosong.
