WhatsApp Image 2026-08-29 at 19.44.47-100kb

SINTANG — Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) kembali menjadi ancaman serius bagi masyarakat Kota Sintang. Ketika api muncul di lahan-lahan yang berdekatan dengan permukiman dan asap mulai mengganggu aktivitas warga, relawan Unit SAR Muhammadiyah memilih untuk turun langsung melakukan respon.

Sejak 20 Agustus 2026, sekitar 20 relawan Unit SAR Muhammadiyah di bawah MDMC Kabupaten Sintang telah melakukan respon terhadap Karhutla, terutama pada lokasi-lokasi kebakaran yang berada di sekitar permukiman.

Namun, bergerak di tengah situasi darurat bukan berarti para relawan memiliki sumber daya yang cukup.

Saat ini tim hanya memiliki satu unit mesin pemadam. Ketersediaan selang juga masih terbatas. Kondisi tersebut membuat relawan menghadapi kesulitan ketika harus menjangkau sumber air yang berada jauh dari titik api.

Persoalan lainnya muncul dari kondisi kemarau yang membuat akses terhadap bahan bakar menjadi semakin sulit. Keterbatasan pasokan BBM di Sintang turut menjadi tantangan tersendiri bagi relawan yang harus bergerak dari satu lokasi ke lokasi lainnya.

Situasi di lapangan menunjukkan bahwa persoalan Karhutla tidak berhenti pada munculnya api. Ketika lahan yang terbakar berada di sekitar permukiman, waktu menjadi sangat penting. Semakin lambat api ditangani, semakin besar pula risiko kebakaran meluas dan asap mengganggu masyarakat.

Kondisi tersebut bukan sekadar kekhawatiran. Pada 23 Agustus, misalnya, kebakaran sekitar tiga hektare lahan gambut di Mengkurai, Kelurahan Kedabang, Kecamatan Sintang, membuat tim gabungan memprioritaskan pemadaman dan pendinginan di sekitar permukiman warga. Penanganan juga menghadapi keterbatasan pasokan air. (KPH Sintang Timur)

Sehari kemudian, kebakaran kembali dilaporkan di kawasan Rawa Mambok, Kecamatan Sintang. Pada 29 Agustus, tim KPH Sintang Timur kembali menangani kebakaran lahan gambut di kawasan tersebut. (KPH Sintang Timur)

Rangkaian kejadian tersebut memperlihatkan bahwa kebutuhan terhadap kapasitas respon di tingkat lokal semakin mendesak. Relawan yang berada dekat dengan masyarakat membutuhkan dukungan agar dapat bergerak lebih cepat ketika laporan kebakaran diterima.

Atas kondisi tersebut, Forum Belajar Stakeholder Kapuas Raya (Forstar) dan MDMC Kabupaten Sintang melakukan rapat konsolidasi pada Sabtu, 29 Agustus 2026 untuk membangun kolaborasi dalam memperkuat respon Karhutla.

Ketua Unit SAR Muhammadiyah, PAM-PAM, mengatakan bahwa keterbatasan peralatan menjadi salah satu persoalan utama yang dihadapi relawan.

“Di lapangan kami harus berpacu dengan waktu. Tetapi kemampuan kami juga terbatas. Mesin pemadam hanya satu, selang masih kurang, dan sumber air tidak selalu mudah dijangkau. Karena itu dukungan dari berbagai pihak sangat kami perlukan,” ujar PAM-PAM.

Kolaborasi tersebut tidak hanya diarahkan untuk menambah perlengkapan pemadaman. Forstar akan membantu membangun sistem dukungan bagi relawan, termasuk dalam hal logistik, pendanaan, administrasi, publikasi dan dokumentasi, serta penyediaan sumber daya yang dibutuhkan selama respon berlangsung.

Ketua Harian Forstar, Chariyandika, mengatakan bahwa masyarakat sipil perlu membangun mekanisme solidaritas ketika menghadapi bencana yang berdampak luas.

“Yang kita hadapi bukan hanya api. Ada asap, ada masyarakat yang terdampak, ada relawan yang bekerja dengan keterbatasan, dan ada kebutuhan yang harus dipenuhi dengan cepat. Karena itu, kolaborasi menjadi penting. Relawan di lapangan harus diperkuat, sementara masyarakat yang terdampak juga harus mendapatkan perhatian,” kata Chariyandika.

Sebagai bagian dari rencana kolaborasi, Forstar dan MDMC juga menyiapkan konsep Rumah Oksigen di Kota Sintang. Fasilitas tersebut direncanakan menjadi salah satu bentuk dukungan bagi masyarakat yang terdampak kabut asap.

Selain itu, distribusi masker dan vitamin akan dilakukan kepada masyarakat terdampak. Penggalangan bantuan juga akan dikembangkan sesuai kebutuhan yang ditemukan di lapangan, termasuk apabila terdapat warga yang mengalami kerugian akibat kebakaran.

Data UPT KPH Wilayah Sintang Timur menunjukkan bahwa hingga pertengahan Agustus 2026, area terdampak Karhutla di Kabupaten Sintang telah mencapai sekitar 139,82 hektare. Sejumlah kebakaran yang terjadi sepanjang Agustus juga tercatat berada pada lahan gambut, termasuk di wilayah Kecamatan Sintang. (KPH Sintang Timur)

Di sisi lain, kondisi kabut asap telah memengaruhi kehidupan masyarakat. Pemerintah Kabupaten Sintang melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan bahkan sempat menerapkan pembelajaran daring pada sejumlah jenjang pendidikan akibat kondisi kabut asap dan kualitas udara yang tidak sehat. (RRI.co.id)

Bagi MDMC dan Forstar, situasi tersebut menjadi pengingat bahwa penanganan Karhutla membutuhkan lebih dari sekadar pemadaman ketika api sudah membesar.

Dibutuhkan relawan yang siap bergerak, peralatan yang memadai, dukungan logistik, sistem informasi yang baik, serta solidaritas masyarakat untuk melindungi warga yang terdampak.

Sebab ketika api mendekati rumah warga, yang dipertaruhkan bukan hanya lahan yang terbakar, tetapi juga keselamatan, kesehatan dan ruang hidup masyarakat.

Our Social Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *