(Oleh: Al-Fakir)
Hasad, bisa menyamar sebagai kritik, riya sebagai kebaikan, ujub sebagai percaya diri, marah sebagai ketegasan, cinta dunia sebagai ambisi.
Imam Al-Gazali mengatakan; hati bukan sekedar tempat perasaan berkumpul, melainkan pusat yang menentukan arah manusia: dari sana lahir niat,kecendrungan,keputusan, dan ahirnya perbuatan.
Karena itu seorang bisa tampak baik dihadapan manusia, sementara dalam dirinya sedang tumbuh penyakit yang perlahan mengubah seluruh hidupnya.
Pada titik ini kritik Imam al-Ghazali menjadi keras: memperbaiki prilaku tanpa memeriksa motif adalah pekerjaan yang menipu diri sendiri.
Seseorang dapat memperbanyak ibadah, pengetahuan, bahkan amal sosial, tetapi tetap menjadikan semua itu sebagai “bahan bakar” bagi egonya, jika yang diperbaiki hanya penampilan luar, bukan sumber batinya.
Karena itu, menyelami hati bukan berati terus-menerus mengikuti persaan, melainkan berani meng-interograsinya. Mengapa aku ingin di puji?
Mengapa keberhasilan orang lain menggangguku?
Mengapa aku marah ketika tidak dihargai?
Pertanyaan semacam ini akan membongkar sesuatu yang sering kita hindari, mungkin sebagian penderitaan bukan disebabkan oleh dunia, melainkan oleh cara hati kita memandang dunia.
Menurut Imam al-Ghazali, kesehatan sejati bukan sekedar terbebas dari masalah, tetapi memiliki hati yang kembali terarah kepada tujuan akhirnya, Allah dan keselamatan akhirat.
Maka, pertanyaan pentingnya, bukan sudahkah orang lain melihat kebaikanku, melainkan sudahkah aku berani melihat apa yang sebenarnya yang sedang hidup dalam diriku.?
Barakallahu fiikum aj’main.
Sudut sempit sukamiskin