(Oleh: Al – Fakir)
Orang yang benar benar tenang ternyata memiliki satu kebiasaan yang jarang dimiliki kebanyakan orang.
Kebiasaan itu adalah:
Mereka membedakan ihktiar dan takdir.
Mereka bersungguh-sungguh pada apa yang mampu dilakukan.
Karena hati paling lelah adalah hati yang ingin menguasai sesuatu yang bukan wilayahnya.
1. Tidak sibuk memikirkan kemungkinan buruk.
Mereka tahu overthingking seringkali kahir dari keinginan untuk memastikan masa depan.
Padahal masa depan bukan berada dalam genggaman manusia.
Yang Allah perintahkan adalah berusaha.
Bukan mengetahui seluruh ahir cerita.
2. Tidak memaksa semua orang memahami dirinya.
Mereka menerima bahwa manusia memiliki keterbatasan.
Tidak semua orang mampu memahami luka yang kita rasakan.
Maka daripada mengejar pengakuan manusia, mereka lebih memilih ridha Allah.
3. Tidak menggantungkan ketenangan pada keadaan.
Jika hati hanya tenang ketika semua berjalan sesuai keinginan, maka ketenangan akan selalu rapuh.
Orang yang tenang belajar berkata,
“Ya Allah apapun keputusan-Mu, engkau lebih mengetahui apa yang terbaik bagiku.”
4. Mereka membatasi hal-hal yang mengganggu hati.
Tidak semua berita harus dibaca, tidak semua komentar harus di jawab, tidak semua perdebatan harus di menangkan.
Menjaga hati juga bagian dari amanah yang Allah titipkan.
5. Mereka banyak berprasangka baik kepada Allah.
Bukan berarti selalu memahami hikmah setiap musibah.
Namun mereka yakin, Allah tidak pernah menzalimi hamba-Nya.
Sekalipun hikmahnya belum tampak hari ini.
6. Mereka memperbanyak zikir ketika pikiran mulai gaduh.
Psikologi mengenalnya sebagai proses menenangkan sistem emosi.
Sedangkan seorang mukmin mengetahui.
Hati menjadi tentram, karena mengingat Allah, bukan semata karena teknik menenangkan diri.
Kesimpulan: Barangkali yang membuat hati kita begitu lelah Bukan karena ujiannya terlalu besar.
Tetapi karena kita terus memikul sesuatu yang Allah tidak pernah meminta kita memikulnya.
Tugas kita adalah beribadah dan berihktiar.
Sedangkan hasil ahir adalah ketetapan Allah.
Firman Allah:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram.”(QS. Ar-Ra’d, 28).
Ayat ini menjelaskan bahwa sumber ketenangan sejati bukan berasal dari harta, jabatan,manusia, ataupun keadaan yang sempurna.
Allah menjadikan zdikir sebagai sebab yang menghadirkan ketentraman hati bagi orang-orang yang ber-iman.
Semoga Allah menjadikan hati kita termasuk hati yang tenang dalam mengingat-Nya.
Barakallahu fiikum aj’main
Sudut sempit sukamiskin, subuh.