WhatsApp Image 2026-09-05 at 14.39.38

(Penulis: Syahroni Pratama/Ketua PC IMM Kapuas Raya)

Ada sebuah kutipan dari Tan Malaka bahwasannya “Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda. 

Idealisme (prinsip, keyakinan murni, dan mimpi tentang kebenaran atau perubahan) merupakan sesuatu yang sangat mahal, langka, dan hanya bisa secara utuh dipertahankan oleh anak muda. 

Berabad-abad yang lalu, filsuf timur berkembang di kawasan Asia seperti Tiongkok, India dan Persia sekitar abad ke 20-6 masehi. Disusul dengan lahirnya filsuf dari kalangan barat yang muncul pada abad ke 7-6 masehi.

Ada perbedaan yang sangat fundamental transisi goals antara anak muda di zaman kuno dan zaman modern saat ini. Bagi anak muda zaman kuno filsuf bukan hanya sekedar ilmu akademis, ia adalah jalan menuju kekuasaan, status sosial dan kehormatan. Sebagai contoh di kota Athena Yunani kemampuan ber-orasi dan berpikir kritis adalah modal utama untuk mencapai tingkat kekuasaan tertinggi. Begitu juga untuk menjadi selebritas di zaman kuno di lihat dari kemampuan berpikir dan berkomunikasi seperti Socrates, Plato dan Aristoteles.

Sangat jauh dengan kondisi anak muda saat ini. Goals anak muda yang dulunya menjadi seorang cendikiawan telah pudar bergeser. Saat ini penampilan wajah, bentuk tubuh, dan style pakaian menjadi fokus utama yang dikejar anak muda. Untuk dapat terkenal di era saat ini cukup dengan mengikuti trend sosial media dengan berjoget-joget sudah menjadi modal yang cukup. Konsep algoritma kebobrokan ini jika di bandingkan dengan zaman kuno sangat memalukan sekali. Karena saat ini kuantitas lebih utama dari kualitas.

Di dalam buku yang berjudul “Matinya kepakaran” menjelaskan kenapa saat ini orang-orang lebih percaya dengan teori konspirasi yang di buat-buat oleh segelintir orang dengan teori, data dan fakta yang bahkan itu bersifat paradoks. Mereka lebih percaya perkataan influencer dan artis walaupun hipotesis dan argumentasinya tidak benar ketimbang filsuf atau para pakar yang jelas-jelas ahli di bidangnya.

Menjadi sebuah kehancuran untuk anak muda dan setiap generasi mendatang jikalau ilmu pengetahuan sudah di kesampingkan. Kita melihat saat ini dengan keadaan Negara yang berada di titik krisis ini sedikit yang sadar dan berani menyuarakan kebenaran. Sebagian besar banyak yang tidak peduli dan banyak juga yang pro dengan kebijakan dan regulasi yang bobrok ini. 

Jelas era saat ini semua orang hanya peduli pada pencitraan. Mereka menganggap kelompok orang yang turun kejalan dan mengkritik adalah mereka yang arogan. Mereka menganggap orang-orang yang tampil di panggung dengan anggun adalah sebuah kehormatan.

Bahkan orang dengan nilai paling tinggi sekalipun dengan sejuta prestasi tidak luput dari keserakahan validasi yang selalu membuktikan kehebatan dirinya sendiri tapi lupa untuk peduli dengan orang lain. Padahal para filsuf dahulu yang jauh lebih hebat dari mereka dengan kecerdasannya tidak hanya membatu di akal saja, tapi itu seperti air yang mengalir untuk di bagikan dan dirasakan oleh banyak orang.

Setiap pemikiran dan perkataan para filsuf dulu membuat sebuah peradaban baru bagai cahaya di tengah kegelapan. Tidak seperti anak muda sekarang yang hadir lebih mengikuti trending topic dan prestasi serta kecerdasan untuk kehausan validasi semata.

Our Social Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *