Dari Kebun dan Sawah ke Tulisan: Petani Melawi Belajar Menceritakan Persoalannya
Melawi — Bagi sebagian petani, pelatihan mungkin dibayangkan sebagai kegiatan yang hanya berisi penyampaian materi dari narasumber. Namun, pelatihan lapangan penguatan kapasitas petani dan kelembagaan yang melibatkan petani dari Desa Nanga Nuak, Tanjung Sari, Manggala, Landau Garong, dan Sungai Bakah memberikan pengalaman yang berbeda. Petani tidak hanya mendengarkan, tetapi juga diajak berbicara, berdiskusi, berbagi pengalaman, dan mencoba secara langsung apa yang dipelajari.
Salah satu bagian yang menarik dalam kegiatan tersebut adalah ketika petani diajak berlatih menulis tentang kondisi dan persoalan yang mereka alami menggunakan pendekatan 5W+1H. Petani belajar bertanya: apa yang terjadi, siapa yang terlibat, di mana terjadi, kapan terjadi, mengapa persoalan itu terjadi, dan bagaimana prosesnya. Materi juga memperkenalkan satu pertanyaan penting dalam menulis, yaitu “So What?”, atau mengapa persoalan tersebut penting untuk diketahui.
Latihan tersebut membuat petani melihat bahwa pengalaman sehari-hari di kebun, sawah, kelompok tani, maupun dalam pemasaran sebenarnya memiliki nilai untuk diceritakan. Selama ini persoalan petani sering hanya dibicarakan dalam percakapan sehari-hari. Melalui latihan menulis, petani mulai belajar menyusun pengalaman tersebut menjadi cerita yang lebih jelas berdasarkan fakta.
Dari proses itu muncul kesadaran baru bahwa petani bukan hanya orang yang mengalami persoalan, tetapi juga memiliki pengetahuan dan pengalaman yang dapat dibagikan kepada orang lain. Petani mulai memahami bahwa mereka dapat mencatat sendiri apa yang terjadi di wilayahnya, menyampaikan kebutuhan kelompok, dan menceritakan persoalan pertanian berdasarkan kondisi nyata yang mereka temui.
Pengetahuan baru lainnya adalah bahwa komunikasi tidak harus berjalan satu arah. Dalam pendekatan komunikasi partisipatif, petani didorong untuk aktif bertanya, bercerita, mencoba, dan memberikan saran, sementara pendamping atau penyuluh juga belajar dari pengalaman petani. Dengan demikian, proses belajar menjadi ruang untuk saling berbagi pengetahuan, bukan sekadar menerima informasi.
Bagi petani yang belum pernah mengikuti pelatihan seperti ini, pengalaman lima desa tersebut menunjukkan bahwa pelatihan dapat menjadi ruang untuk menemukan pengetahuan baru dari pengalaman sendiri. Petani belajar bahwa kemampuan menulis, berbicara, mengorganisasi pengalaman, dan menyampaikan persoalan secara jelas merupakan bagian dari penguatan kapasitas. Lebih jauh, proses tersebut dapat membantu petani membangun keberanian untuk menyampaikan aspirasi dan memperkuat kelompok sebagai wadah bersama.
Pada akhirnya, pelatihan bukan hanya tentang memperoleh materi baru, tetapi tentang menemukan cara baru untuk melihat persoalan yang selama ini dihadapi. Dari apa yang mereka tanam, masalah yang mereka temui, hingga kehidupan kelompok tani, petani belajar bahwa pengalaman mereka sendiri adalah sumber pengetahuan yang penting dan dapat menjadi dasar untuk membangun perubahan bersama.
