keramik-100kb

Foto: Dok. PKM PWK FT Untan

PONTIANAK — Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Mandiri Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura menggelar sosialisasi pengelolaan kekayaan intelektual di SMK Negeri 6 Pontianak, Selasa (15/9/2026). Kegiatan ini mengajak siswa dan mahasiswa memahami pentingnya mencatat identitas pencipta serta mendokumentasikan proses pembuatan karya sebagai bekal pengembangan ekonomi kreatif.

Kegiatan bertajuk “Penguatan Ekonomi Kreatif Berbasis Kriya Lokal melalui Fasilitasi Pencatatan Kekayaan Intelektual di SMK Negeri 6 Pontianak” dilaksanakan oleh tim yang terdiri atas Dr.Ars Ely Nurhidayati, S.T., M.T., Charmyllia, S.T.,M.P.W.K., dan Marisca Jessica Yastri, S.P.W.K., M.URP. Dr. Ir. Erni Yuniarti, S.T, M.Si. , Hukma Zulfinanda, S.P.W.K, M.P.W.K. Kegiatan diikuti oleh 47 peserta, terdiri guru dan siswa/i SMK Negeri 6 Pontianak serta mahasiswa/i program studi Perencanaan Wilayah dan Kota FT Untan.

Materi sosialisasi berangkat dari karya yang dekat dengan keseharian siswa, seperti motif tekstil, ornamen keramik, ilustrasi, dan karya visual lainnya. Pembahasan mencakup pengenalan hak cipta, perbedaan pencipta dan pemegang hak, serta persiapan dokumen untuk pencatatan karya. Peserta juga diperkenalkan pada perbedaan fungsi hak cipta, merek, dan desain industri.

Ketua Tim PKM, Charmyllia, S.T.,M.P.W.K, menjelaskan bahwa kesadaran menyimpan jejak penciptaan dan menghargai unsur budaya lokal menjadi poin kunci dalam kegiatan ini. “Kami melihat potensi karya kriya siswa SMKN 6 Pontianak sangat besar. Melalui pendampingan ini, kami ingin memastikan karya kreatif siswa tidak hanya indah secara estetis, tetapi juga memiliki perlindungan hukum dan nilai ekonomi di masa depan. Pengembangan produk lokal harus tetap disertai penghargaan terhadap pengetahuan dan budaya asal,” ujar Charmyllia.

Pihak sekolah menyambut positif hadirnya program pendampingan ini dalam mendukung pengembangan karya siswa di lingkungan sekolah. “Kegiatan ini sangat membuka wawasan guru dan siswa. Selama ini kami berfokus pada proses produksi karya, tetapi belum memahami secara mendalam pentingnya dokumentasi serta prosedur legalitas Kekayaan Intelektual,” ungkap perwakilan SMKN 6 Pontianak.

Pembahasan juga menyoroti penggunaan unsur budaya lokal sebagai inspirasi. Peserta diajak mengenali sumber inspirasi dan menjelaskan kontribusi kreatif yang mereka tambahkan pada karya. Dengan begitu, pengembangan produk tetap disertai penghargaan terhadap pengetahuan dan budaya masyarakat asalnya.

Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan signifikan pada pemahaman peserta. Berdasarkan hasil menunjukkan rata-rata nilai meningkat dari 70,59 menjadi 82,35 pada skala 100, atau naik 11,76 poin. Hasil ini menggambarkan perubahan pemahaman pada kelompok responden tersebut setelah mengikuti sosialisasi. Tanggapan terhadap pelaksanaan kegiatan juga cenderung positif. Survei yang diisi menghasilkan rata-rata penilaian 4,25 dari skala 5 pada empat aspek yang diukur. Sebanyak 80 persen responden memberikan skor 4 atau 5 untuk kesesuaian materi dengan kebutuhan mengelola karya. Persentase yang sama diberikan pada manfaat kegiatan bagi tindak lanjut karya di sekolah, sedangkan 85 persen memberikan skor 4 atau 5 untuk kemudahan memahami penjelasan pemateri.

Kegiatan ini menempatkan pengelolaan karya sebagai bagian dari penguatan ekonomi kreatif di lingkungan sekolah. Dokumentasi yang tertib membantu karya siswa tetap dapat ditelusuri dan dikembangkan, sekaligus menjaga penghargaan terhadap orang-orang yang menciptakannya.

Our Social Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *