UTSMAN BIN AFFAN, KHAMENEI, SUMMAYAH BINTI KHAYAT, THOMAS BECKET, LEONIDAS, YOS SUDARSO
(Oleh: Al-Fakir)
Mereka yang memilih mati bermartabat.
Satu kesamaan mereka yang membuat kita harus diam sejenak.
Berbeda zaman, berbeda keyakinan, berbeda bangsa, tapi satu hal yang sama: mereka tahu untuk apa mereka hidup.
Mereka tahu betul apa yang sedang datang, bukan karena tidak punya pilihan, mereka punya pilihan dan mereka memilih tetap.
Lantas apa kiranya yang ada dalam dada mereka, yang tidak kita miliki?.
Ini bukan tentang siapa yg benar. Bukan soal mazhab. Bukan soal beda. Bukan soal agama. Bukan soal bangsa. Bukan soal aqidah, tapi soal se-yakin apa pada aqidah itu.
Ini tentang sesuatu yg jauh lebih tua dari semua itu. Suatu yg disebut manusia di setiap zaman dengan satu kata: Keyakinan.
Dan keyakinan itu bisa benar-benar terlihat aslinya saat maut mendekatinya
Bukan soal aqidah, tapi soal seyakin apa pada aqidah itu.
UTSMAN BIN AFFAN.
656 M. Madinah
Rumah Khalifah di kepung.
Ribuan pemberontak mengepung dari segala arah. Para sahabat datang bersenjata, mata mereka merah, tangan gemetar.
“Ijinkan kami membela engkau, wahai Amirul mukminin!” Utsman menggeleng, “Aku tidak mau ada darah yang tumpah karena aku.”
Seolah ia berkata kepada mereka; “Pergi !! Selamatkan diri kalian. Biarkan aku dan Rabbku menyelesaikan ini. ” Kala itu Utsman berpuasa dan menunggu waktu berbuka, ” aku ingin segera menyusul dan berbuka dengan Rasulullah dan sahabatku, Abu Bakar dan Umar.
Para sahabat menangis.
Tapi mereka menurut.
Mereka masuk kerumahnya. Pedang terangkat, Utsman sedang duduk. Al-Qur’an terbuka di hadapanya. Jari-jarinya menyentuh ayat-ayat itu dengan tenang.
Seolah tidak ada yang terjadi. Seolah dunia diluar sana tidak sedang roboh.
Tetesan darah pertamanya jatuh diatas mushaf yang sedang ia baca.
Ia tidak bergerak. Ia tidak berteriak. Ia hanya melanjutkan bacaanya.
Begitulah Utsman menemui Rabbnya, dalam keadaan paling damai yang pernah ada. Sebab ketakutan pada ajalnya, tidak sebanding dengan kerinduanya pada Rabbnya, Nabinya, dan orang-orang salih yang ia cintai namun telah mendahuluinya.
SUMMAYAH BINTI KHAYAT.
Mekkah. Padang pasir yang membakar.
Syahiddah pertama dalam Sejarah Islam.
Ia bukan panglima. Ia bukan Khalifah. Ia bukan raja. Ia hanya seorang ibu. Abu Jahal datang dengan tombak. Ia tawarkan satu hal. “Tinggalkan Muhammad, dan kau akan bebas merdeka.” Summayah meludah.
Suaminya Yasir, anaknya Ammar, disiksa di depan matanya. Rasulullah lewat, hanya bisa berbisik dengan mata berkaca-kaca
“Sabarlah, wahai keluarga Yasir. Sesungguhnya tempat kalian adalah surga.”
Tombak Abu Jahal menghujam dan menembus dadanya. Summayah adalah manusia pertama yang mati demi mempertahan kalimat ” La illah haillah..”
Seorang perempuan tua. Tubuh lemah. Tapi keyakinanya lebih keras dari baja manapun.
THOMAS BECKET
1170 M.
Katadral Centerbury, Inggris.
Empat Ksatria Raja Henry mendobrak pintu. Pengawalnya berteruak. “Lari mereka sudah masuk!” Thomas Backet berjalan pelan menuju altar. Berlutut dihadapan salib.
Para Ksatria menemukanya disana. Tenang tidak bergerak. “Untuk nama Yesus dan perlindungan gereja, aku telah siap mati untukmu.” Ayunan pedang pertama jatuh. Ia tidak menghindar.
Seorang uskup, seorang kristen – tapi di detik ter ahirnya, keyakinanya adalah baja yg tidak seorangpun yang bisa membengkokanya. Sejarah tidak mengenal batas agama dalam mencatat keberanian.
LEONIDAS
480 SM. Celah Thermopylae, Yunani.
Utusan Persia datang dengan senyum: “Xerces menawarkan hidupmu. Serahkan senjata, dan kau akan menjadi Gubernur Yunani.” Leonidas menjawab dua kata; ” Molon Labe.”- Datang dan ambilah sendiri.”
300 melawan 300.000. Leonidas tahu, tidak ada yang pulang dari sini. Ia tahu itu sejak awal. Tapi ia tetap berdiri, agar seluruh Yunani punya waktu untuk selamat.
Ia mati. Tapi peradaban yang ia lindungi dengan tubuhnya, hidup hingga hari ini.
SALVADOR ALLENDE
11 September 1973. Chile.
Pesawat tempur mengebom istana kepresidenan.
Pasukan kudeta mengepung dari semua sisi. Radio masih menyala. Allende berbicara umtuk terahir kali kepada rakyatnya.
Suaranya tenang, hampir seperti seseorang yang berpamitan sebelum tidur. Ditawarkan pesawat. Ditawarkan pelarian, namun ia tolak.
“Saya tidak mundur. Saya akan membayar dengan nyawa saya, sebagai kesetiaan kepada rakyat.”
Beberapa jam kemudian, ia ditemukan di dalam istana yg sudah hancur terbakar. Seorang yang tidak percaya Tuhan, tapi integritasnya di detik ter ahir, tak kalah dari orang-orang yang mengisi masjid tiap hari.
Itu seharusnya membuat kita malu dan bergegas memperbaiki diri.
YOS SUDARSO
15 Januari 1962. Laut Aru, Indonesia.
KRI Macan Tutul di kepung kapal perang Belanda. Kapal mulai bocor. Komandan lain memberi sinyal mundur.!
Yos Sudarso memilih maju. Mengorbankan kapalnya sebagai umpan, agar kapal-kapal lain bisa selamat membawa pasukan ke Irian Barat.
Radio kapal menyala satu kali terahir.
Suaranya tidak gemetar.
“Kobarkan semangat pertempuran!, KRI Macan Tutul tenggelam dalam pertempuran di laut secara gentlemen and brave.”
Kapalnya tenggelam dan ia tenggelam bersmanya. Ia tidak harus ikut tenggelam. Tapi ia memilih itu, seolah menegaskan.
“Aku boleh mati. Tapi perjuangan yang aku wariskan, tidak boleh ikut mati bersamaku.”
KHAMENEI
2026. Tehran
Serangan datang. Pengawalnya, orang-orang yang telah menemani puluhan tahun, tentu tak tinggal diam. Seolah mereka berkata dengan mata yang basah: “pergi. Kami yang akan menanggung ini. Pergilah.’ Khamenei menolak.
Apapun pendapat kita tentang pilihan-pilihan politiknya. Apapun perbedaan kita dengannya dalam hal aqidah dan mazhab. Tapi di detik itu ia memilih tetap.
Sesuatu yg nyaris mustahil kita pilih jika kita berada di posisi yang sama bukan??
Dan itu memaksa kita untuk diam sejenak.
Bukan untuk membenarkan kesalahan-kesalahanya. Tapi untuk mengakui jiwa ksatria nya sembari bertanya kepada diri sendiri; sebesar apa keyakinan kita, saat tidak ada yang melihat?.
Beragam nama
Beragam zaman
Beragam keyakinan yang berbeda beda.
Tapi satu hal yg sama diantara mereka semua: saat maut datang- mereka tidak goyah.
Lalu kita?
Dengan iman yang kita klaim sebagai yg paling benar. Dengan Islam yang kita warisi dari generasi ke generasi.
Sudah seyakin apa kita?
Bukan saat dikepung musuh, bukan saat pedang sudah dileher.
Tapi sekarang saat alarm subuh berbunyi dan tangan kita lebih cepat menekan snooze. Saat ada kesempatan berbuat curang dan tidak ada yang melihat. Saat memilih jujur, padahal dusta jauh lebih menguntungkan.
Keyakinan bukan di uji saat mudah. Keyakinan di uji saat tidak ada saksi selain Allah.
Barakallahu fiikum aj’main.
Hari-hari yang melelahkan, sudut sempit sukamiskin, yang membisu.
