Iman dan Kepemimpinan dalam Harmoni-50kb

(Oleh: Al-Fakir)

Umat yang tidak profesional dan lemah financial, akan terus menjadi pihak yang mengajukan proposal bantuan.

Bukan pihak yang menentukan arah preradaban atau memberi solusi.

Ada sebuah penomena yang paradox di masa sekarang ini: “semakin sholeh seseorang semakin dia menangis di pojokan masjid, di majelis taklim , dan fokus membaca Al-Qur’an.

Sebaliknya semakin dia berdaya di dunia ini, menjadi pemimpin, menguasai ekonomi. Justru dia jauh dengan Al-Qur’an.

Fenomena inilah yang sekarang sedang hilang pada anak muda muslim.

Dua hal besar ini se akan-akan tidak lagi bertemu.

Dahulu orang-orang hebat yang dididik oleh Nabi Muhammad SAW, adalah orang-orang yang di dalam hatinya ada surga.

Namun ditanganya ada pundi-pundi keuangan dan kendali peradaban.

Sosok-sosok terbaik yang dijamin surga sperti Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf adalah figur paling berdaya di zamanya: memegang kendali ekonomi, punya aset melimpah, dan mandiri secara sosial politik.

Pribadi-pribadi yang:

Siang hari mereka:

– menjadi gubernur

– menjadi walikota

– menjadi panglima perang

– memegang neraca keuangan di pasar.

Dan di malam hari, mereka khusuk kepada Tuhanya dalam zikir-zikir yang panjang.

Innallaha yuhibbu adza’amila ahadukum’amalan an yutqinah.

“Sesungguhnya Allah menyukai apabila salah seorang diantara kamu mengerjakan suatu pekerjaan (hendaklah) dia melakukanya dengan tuntas (profesional/sempurna).”

Bahwa ketika kita mengejar karier, membangun profesionalisme, berusaha menjadi kaya, menjadi powerful itu adalah bagian dari profesionalisme, agar hidup lebih berdampak untuk umat.

Barakallahu fiikum aj’main.

Sudut sempit, lorong sukamiskin.

Our Social Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *