Kisah Yunus_ Doa di Kedalaman-100kb

(Oleh: Al-Fakir)

Satu kalimat sederhana. Tapi dibaliknya ada seluruh makna taubat: mengaku salah, kembali dan melepas ego.

Dari banyak kisah-kisah tentang Nabi, kisah Nabi Yunus AS, adalah salah satu yang manusiawi, karena di dalamnya ada ruang bagi rasa kecewa, marah, dan keinginan untuk lari dari takdir.

Nabi Yunus diutus ke kaum Ninewa (Irak Modern), ia berdakwah bertahun-tahun, tapi kaumnya menolak. Ia marah. Ia merasa gagal. Lalu pergi, meninggalkan kaumnya sebelum Allah memerintahkanya untuk pergi.

Kalau bahasa kita sekarang: “Saya udah capek. Saya udah berusaha. Tapi gak ada hasil. Fik, saya menyerah.”

Kita sering melakukan hal yang sama. Ketika doa tak dikabulkan, kita berhenti berdoa. Ketika kerja keras tak dihargai, kita menyerah.

Ya gimana ya?, capek juga barangkali, manusiawi.

 

Kita sering di cap generasi yang tidak punya resiliensi (kemampuan beradaftasi dan tetap teguh dalam situasi sulit), daya tahanya lemah, manja, kurang tangguh.

Nabi Yunus juga manusia, punya rasa punya hati, jgn samakan dia dengan pisau belati.

Literally, Ia kecewa. Dan Allah menegur dengan cara yang paling keras: dengan menjadikanya “tamu” se ekor ikan besar di dasar laut.

Coba kita bayangkan gimana kegelapan dan mencekamnya suasana itu dilautan samudra, tengah malam, benar-benar menyesakan dada, harus diuji dengan hal yang diluar cahaya.

Sunyi, gelap, dingin, tidak ada arah tidak ada harapan.

Tapi disitu justru Nabi Yunus menemukan Allah kembali di titik tergelapnya itu.

Ia tidak menyalahkan nasib. Ia tidak mengutuk laut. Ia tidak menyalahkan kaumnya.

Di abadikan di dalam Al-Qur’an, Nabi Yunus berdoa dengan sesal dan dari lubuk hati yang terdalam.

“La ilaha ila anta subhanaka inni kuntu minazh-zhalimin”

“Tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sungguh aku termasuk orang yang zalim.” (QS. Al- Anbiya: 87)

Menyesali perbuatan bukan tentang masa lalu. Tapi tentang kesadaran dan berani jujur, kalau kita memang salah dan zalim.

Kita sering menyesal. Merasa sudah benar. Dan keras hati serta ego selangit.

Padahal tanpa menyesal, kita tidak bisa bertumbuh. Tanpa mengakui salah, kita tidak pernah menjadi lebih baik.

 

Nabi Yunus tidak ditolak karena ia salah berdakwah. Ia ditelan ikan karena Ia tidak sabar. Tapi penyesalanya mengembalikan martabatnya dihadapan Allah.

Allah tidak menolak orang yang jatuh, Yang ditolak adalah orang yang tidak mau bangkit lagi.

Hari ini, kita mungkin tidak ditelan ikan besar. Tapi kita “ditelan” oleh banyak hal: rasa bersalah, stress, kesepian, hutang, kegagalan, defresi, kehilangan arah.

Itulah “ikan” kita masing-masing. Dan Allah sedang menunggu kita berkata; ” Ya Allah, aku salah. Tapi aku ingin kembali.”

Karena Taubat adalah puncak kesabaran.

 

Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan; Allah memerintahkan ikan untuk tidak melukai Nabi Yunus sedikit pun, seolah memberi pesan bahwa ujian bukan untuk menghancurkan, tapi untuk menyadarkan.

Kadang Allah tidak mengubah keadaan terlebih dahulu.

Di ubah dulu hati kita.

Baru dunia berubah mengikuti.

Belajar menyesal bearti belajar jujur.

Dan jujur bearti berani melihat bahwa bahwa kita tidak selalu benar.

Kisah Nabi Yunus mengajarkan satu hal penting;

Rasa bersalah bukan ahir segalanya.

Ia adalah awal dari perjalanan.

Barakallahu fiikum aj’main.

Subuh, sudut sempit ujung lorong sukamiskin.

Our Social Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *