ChatGPT Image 17 Okt 2025, 01.05.49_11zon
(Oleh: M. Hermayani Putera) “Bayangkan tidak ada surga, tidak ada neraka di bawah kita. Bayangkan semua orang hidup untuk hari ini.”

Oleh: M. Hermayani Putera

“Bayangkan tidak ada surga, tidak ada neraka di bawah kita. Bayangkan semua orang hidup untuk hari ini.”

John Lennon menulis kalimat itu pada 1971, di tengah dunia yang masih bergolak oleh perang dan keserakahan. Imagine lahir bukan dari kemewahan, tapi dari kegetiran. Bersama Yoko Ono, Lennon merenungkan dunia yang hancur karena manusia lupa menjadi manusia. Ia pernah berkata, “Lagu ini mengajak orang membayangkan perdamaian. Kalau kamu bisa membayangkannya, kamu bisa membuatnya nyata.”

Kini, lebih dari setengah abad kemudian, dunia masih berkaca pada luka yang sama — terutama di Gaza, Palestina. Ketika pemerintah Indonesia menyiapkan pasukan perdamaian untuk dikirim ke sana, gema Imagine seolah menemukan ruang hidupnya kembali. Di tengah reruntuhan bangunan dan seruan keadilan, Indonesia hadir dengan keyakinan: membela perdamaian adalah bagian dari jati diri bangsa.

Sejak awal kemerdekaannya, Indonesia memang berdiri di sisi kemanusiaan universal. Amanat Pembukaan UUD 1945 menegaskan: “ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.” Dari sinilah lahir sejarah panjang Pasukan Garuda — simbol diplomasi damai Indonesia yang telah berkiprah di berbagai belahan dunia.

Pasukan Garuda pertama kali dikirim tahun 1957 dalam misi UNEF I ke Mesir, di tengah krisis Terusan Suez. Mereka datang bukan membawa senjata untuk menyerang, melainkan semangat untuk menenangkan. Setelah itu, langkah kaki para prajurit Garuda menjejak di Kongo (1960), Vietnam (1973), Libanon (sejak 1978 hingga kini), Bosnia-Herzegovina (1995), Sudan dan Darfur, hingga Republik Demokratik Kongo dan Lebanon Selatan dalam misi-misi PBB.

Di setiap misi itu, dunia menyaksikan pendekatan khas Indonesia: humanis, religius, dan berakar pada budaya gotong royong. Pasukan Garuda tidak hanya menjaga gencatan senjata, tetapi juga membangun jembatan, memperbaiki sekolah, menolong korban sipil, dan menjadi sahabat bagi masyarakat lokal. Dalam banyak laporan PBB, kontribusi mereka disebut sebagai “peacekeeping with heart” — penjaga perdamaian dengan hati.

Bahkan, di beberapa wilayah konflik, anak-anak setempat mengenal prajurit Garuda bukan sebagai tentara asing, tetapi sebagai “abang” atau “kakak” yang membantu mereka belajar dan tertawa. Itulah kekuatan sejati yang diakui dunia: pendekatan kemanusiaan dalam wajah militer yang lembut.

Kini, ketika Indonesia menyiapkan pasukan untuk Gaza, jejak itu kembali dihidupkan. Ini bukan sekadar misi politik atau simbol solidaritas, melainkan kelanjutan dari keyakinan bahwa perdamaian harus diperjuangkan dengan empati, bukan dendam.

Seperti dalam lagu Imagine, perdamaian dimulai dari keberanian membayangkan dunia tanpa luka — dunia di mana manusia hidup bukan untuk saling melukai, tapi untuk saling memahami. Pasukan Garuda membawa imajinasi itu ke medan yang nyata: menghadirkan kasih di tengah perang, menghadirkan harapan di antara puing.

Maka, ketika Imagine terdengar kembali di antara doa-doa untuk Gaza, biarlah kita semua ikut membayangkannya — dunia tanpa kekerasan, tanpa penjajahan, tanpa air mata yang sia-sia. Sebab seperti kata Lennon, “You may say I’m a dreamer, but I’m not the only one.”
Dan Indonesia, dengan pasukan damainya, adalah bukti bahwa para pemimpi itu masih ada — dan mereka bekerja untuk mewujudkan dunia tanpa luka.

Our Social Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *