(Oleh: Al-Fakir)
Semakin kita memahami hidup, semakin kita banyak diamnya.
Karena hati yang matang tahu kapan harus melepas, bukan membalas.
Semakin dewasa, kita semakin sadar..tidak semua hal butuh reaksi, tidak semua kata perlu dibantah, tidak semua luka harus diberi tahu.
Ada hal-hal yang lebih aman bila hanya Allah yang tahu.
Kita hidup di zaman serba gaduh, banyak bicara, sedikit yang benar-benar mendengar.
Banyak menilai, sedikit yang benar-benar memahami.
Dan diam sering kali menjadi bentuk ketenangan tertinggi.
Firman Allah, dalam Qur’an surah Al- Furkan, ayat 63 ;
“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih adalah mereka yang berjalan dengan rendah hati dan ketika orang-orang bodoh menyapa mereka, mereka menjawab dengan kata-kata yang baik.”
Orang beriman tidak mudah terpancing.
Diam, menjawab dengan baik, atau tidak membalas, itu bentuk kemulian hati.
Kadang diam bukan berarti kalah.
Diam justru tanda bahwa kita memilih kedamaian, daripada ikut panas dalam kegaduhan yang tidak ada ujungnya.
Rasulullah bersabda ;
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam.” ( HR. Buhkari no.6018 ).
Diam adalah ibadah bila ia menjauhkan diri kita dari dosa dan menjaga hati dari hal sia-sia.
Dunia semakin bising, semua berlomba bicara, membuktikan sesuatu.
Padahal terkadang, yang membuat hidup damai adalah memilih diam dan menyerahkan penilaian kepada Allah.
Kedewasaan mengajarkan;
Tidak semua perlu dijelaskan, tidak semua pantas diperjuangkan, dan tidak semua orang layak mengetahui isi hati kita.
Diam bisa jadi bentuk perlindungan diri.
Ketika kita memilih diam, Allah tahu apa yang kita tahan, apa yg kita simpan, dan apa yang kita maafkan diam-diam.
Dan Allah sedang menyiapkan balasan yang jauh lebih indah.
Belajarlah, dan temukan hal-hal yang menenangkan hati, belajar melepas, dan berdamai dengan hidup.
Barakallahu fikum aj’main.
Sukamiskin,