Ilustrasi. banjir di Jakarta (Foto: Pradita Utama/detikFoto)
Ilustrasi. banjir di Jakarta (Foto: Pradita Utama/detikFoto)
Oleh: Tri Budiarto (1422/KT/77)
(Ketua Umum Senat Mahasiswa Fahutan UGM, Periode: 1980-1982)
Walau engkau bukan lagi ibu kota negara
Engkau tetap tempat berlabuhnya air bah
Muara dari segala lumpur dan sampah yang melimpah
Membuat penguasa menjadi gerah
Banjir Jakarta terus berulang
Genangan pekat dan kotor makin meluas
Cuaca ekstreem menanggung gugat
Perubahan iklim selalu dihujat
Orang pandai perdebatkan akibat
Tak temukan cara selesaikan penyebab
Kata indah teruntai seperti akrobat
Ramaikan seminar penanda beradab
Danau dan situ telah berubah wajah
Rumah manusia bertengger menggantikannya
Air hujan mengucur deras, mencari rumahnya yang telah hilang
Rumah air telah di rampas manusia
Air tak pernah murka pada manusia
Ia hanya tanyakan hak-nya yang telah sirna
Air juga punya nyawa dan keluarga
Yang ingat jalan pulang menuju rumahnya
Jalan pulang air semakin berkurang
Yang tersisa, menjadi tempat sampah raksasa
Plastik dan barang organik penuhi gorong-gorong
Penghalang air menuju samudera
Para ahli gemar berdalil tentang daya tampung sungai
Hampir tak pernah menghitung tentang daya serap tanah
Tak mampu angkakan daya dukung lingkungannya
Panik ketika temukan angka pendangkalan karena sedimentasi
Bencana banjir tanggung jawab bersama
Kotori sungai juga kebiasaan bersama
Mengumpat dan saling menyalahkan keahlian kita
Selesai banjir-pun kita segera lupa bersama
Banjir Jakarta tak pernah tunggu datangnya purnama
Ia tak mau diatur manusia
Banjir hanya ingin sekadar berkata
Kembalikan segera rumah air-ku
(Jakarta, 29 Januari 2026)