ChatGPTImage1Mar202613.12.1

(Oleh: Al-Fakir)

Jangan Gantungkan Hati pada Penilaian Manusia

Syekh Said Ramadhan Al-Buthi Rahimahullah pernah berkata:

“Sekalipun kau tidak disukai, kau hanya tidak disukai manusia, lantas kenapa kau menderita? Sekalipun engkau dicintai, kau hanya dicintai manusia, lantas mengapa kau sangat bangga?”

Nasihat ini sederhana, tapi dalam sekali. Banyak di antara kita yang hidupnya naik-turun hanya karena penilaian manusia. Dipuji sedikit, melambung tinggi. Dicela sedikit, jatuh tak berdaya. Padahal manusia itu makhluk yang lemah, berubah-ubah hatinya, terbatas pengetahuannya.

Kalau ada yang tidak menyukai kita, itu tidak otomatis membuat kita hina di sisi Allah. Dan kalau banyak yang memuji kita, itu juga tidak otomatis membuat kita mulia di sisi-Nya.

Allah berfirman ;

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”

(QS. Al-Hujarat, 13) 

Ukuran kemuliaan bukan jumlah followers, bukan tepuk tangan, bukan reputasi sosial. Ukurannya adalah takwa.

Ridha Manusia Tak Akan Pernah Selesai.

Kalau kita menjadikan manusia sebagai standar kebahagiaan, kita akan lelah. Karena manusia tidak akan pernah sepenuhnya puas.

Rasulullah bersabda ;

“Barang siapa mencari ridha Allah meski membuat manusia marah, Allah akan ridha kepadanya dan menjadikan manusia pun ridha kepadanya. Dan barang siapa mencari ridha manusia dengan membuat Allah murka, maka Allah murka kepadanya dan menjadikan manusia pun murka kepadanya.”

(HR. Tirmidzi)

Hadits ini menata ulang orientasi hidup kita:

Yang utama adalah ridha Allah, bukan ridha manusia.

Jangan Terlalu Sedih, Jangan Terlalu Bangga.

Ketika dicela, jangan terlalu sedih. Ketika dipuji, jangan terlalu bangga. Karena semua itu ujian.

Allah  berfirman:

“Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu dan tidak terlalu gembira terhadap apa yang diberikan kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.”

(QS.Al-Hadit, 23)

Kesedihan berlebihan dan kebanggaan berlebihan sama-sama tanda hati yang belum stabil. Hati yang matang adalah hati yang tenang karena sandarannya benar.

Bangun Harga Diri dari Hubungan dengan Allah.

Kalau ingin kokoh, bangun harga diri dari hubungan dengan Allah.

Kalau ingin tenang, kuatkan keyakinan bahwa Allah melihat, Allah menilai, Allah yang menentukan akhir.

Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.”

(HR. Muslim)

Maka perbaikilah hati. Luruskan niat. Perindah amal.

Jika manusia tidak menyukai kita karena kita menjaga prinsip yang benar, bersyukurlah.

Jika manusia mencintai kita karena kebaikan dan akhlak, tundukkan hati, jangan sombong.

Penutup

Hidup ini bukan tentang menjadi yang paling disukai, tapi tentang menjadi yang paling diridhai.

Bukan tentang seberapa banyak yang memuji kita, tapi tentang apakah Allah menerima amal kita.

Semoga Allah menjadikan hati kita tidak rapuh oleh celaan, tidak mabuk oleh pujian, dan selalu bergantung hanya kepada-Nya.

Barakallahu fikum aj’main

Sukamiskin

Our Social Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *