(Oleh: Ely Nurhidayati)
Di antara hamparan pasir kehidupan yang gersang, Allah telah memilih batinmu untuk menjadi sebuah telaga yang luas. Kelebihanmu dalam merasakan duka sesama bukanlah sebuah beban, melainkan sebuah amanah langit yang disebut empati. Selama ini, engkau telah belajar bahwa menjadi sebuah telaga berarti harus siap menerima apa pun yang dilemparkan ke dalamnya, namun tetap menjaga agar airnya tidak pernah berubah menjadi keruh. Engkau adalah penampung bagi jiwa-jiwa yang lelah, tempat di mana duka mereka luruh dan ketenangan kembali tumbuh melalui ketulusanmu yang tanpa batas.
Sejauh mana pun engkau melangkah, kesadaran bahwa dirimu adalah perantara rahmat Allah harus selalu tertanam kuat. Setiap kali engkau memberikan rasa nyaman atau perlindungan kepada seseorang, itu adalah bukti bahwa Allah sedang menggunakan tanganmu untuk membelai hati hamba-Nya. Keberadaanmu yang menyejukkan adalah bentuk nyata dari kasih sayang Sang Khaliq. Jangan pernah merasa bahwa kebaikan itu lahir dari kekuatanmu sendiri, melainkan akuilah bahwa itu adalah cahaya-Nya yang kebetulan lewat melalui beningnya kejujuran hatimu.
Tentu saja, sebagai manusia, engkau pun pernah merasa letih dan penuh kekurangan. Ada kalanya engkau merasa dihantui oleh noda-noda masa lalu, ibadah yang belum sempurna, atau lisan yang sempat khilaf. Namun, ingatlah bahwa Allah Swt. berfirman dalam hadis Qudsi: “Jika hamba-Ku mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta.” Kegelisahanmu atas dosa-dosa adalah sinyal bahwa imanmu masih hidup dan berdenyut. Danau batinmu mungkin sesekali tersentuh lumpur, namun derasnya air istighfar dan kebaikan sosialmu akan selalu mampu membilasnya hingga bersih kembali.
Perjalananmu kali ini menuju Baitullah adalah saat yang paling tepat untuk mengadukan segala rapuhmu. Di depan Ka’bah kelak, lepaskanlah semua beban yang selama ini engkau pikul sendirian. Mintalah agar telaga di hatimu diperluas lagi, agar ketulusanmu tidak mudah goyah oleh distraksi yang menguras energi. Di sana, engkau tidak hanya membawa dirimu sendiri, tapi juga membawa doa-doa tulus dari setiap jiwa yang pernah merasa aman di sisimu. Biarkan air zam-zam menjadi penguat bagi setiap sel dalam tubuhmu untuk terus menjadi pribadi yang memanusiakan manusia.
Landasan utama yang harus kau pegang adalah janji Allah dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan” (QS. Hud: 114). Jangan biarkan rasa bersalah atas kelalaian ibadahmu membuatmu berhenti menebar manfaat. Justru, jadikanlah pengabdianmu kepada sesama sebagai cara untuk merayu Allah agar Dia menyempurnakan kekurangan sujudmu. Allah Maha Tahu bahwa engkau sedang berjuang di dua medan: memperbaiki hubungan dengan-Nya dan menjaga keharmonisan dengan ciptaan-Nya. Keduanya adalah jalan menuju rida-Nya yang tidak terpisahkan.
Engkau merindukan akhir yang baik, sebuah kepulangan yang wangi, bercahaya, dan penuh kemudahan. Hal ini sangat mungkin terwujud karena engkau telah terbiasa memudahkan urusan makhluk-Nya. Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang memudahkan urusan orang lain yang dalam kesulitan, Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat” (HR. Muslim). Bayangkan saat ajal menjemput kelak, para malaikat menyambutmu dengan lembut karena mereka mengenali aroma ketulusan yang sering engkau kirimkan ke langit melalui setiap bantuan yang engkau berikan dengan sembunyi-sembunyi.
Kematian bagi seorang pemilik telaga bukanlah sesuatu yang menakutkan, melainkan sebuah transisi menuju Telaga Keabadian yang sesungguhnya. Jika di dunia engkau sudah belajar menjadi tempat bernaung bagi orang lain, maka di alam kubur pun Allah akan menjadikan tempat peristirahatmu sebagai taman yang penuh cahaya. Tanah yang menerimamu akan terasa lapang karena engkau telah melapangkan hati manusia selama hidupmu. Setiap penggalian dan proses kepulanganmu akan dipercepat oleh tangan-tangan gaib sebagai balasan atas gerak cepatmu saat menolong sesama.
Gunakanlah sisa waktumu untuk terus memurnikan niat. Biarkan setiap interaksi menjadi laboratorium cinta-Nya. Jika kelak ada orang yang tidak sefrekuensi datang menguras energimu, tetaplah tenang seperti dasar danau yang dalam. Berikan kebaikan secukupnya, lalu kembalilah fokus pada Sang Pemilik Nyawa. Engkau diciptakan untuk menjadi besar, bukan untuk tenggelam dalam kebisingan dunia yang tidak bermakna. Jagalah mutiara empati itu agar tetap bersinar, karena itulah bekal paling berharga yang akan kau bawa saat menghadap-Nya nanti.
Akhirnya, wahai jiwa yang rindu akan keutuhan, teruslah berjalan menuju-Nya dengan penuh harapan. Jangan takut akan hari esok, karena Allah yang telah menjagamu hingga detik ini tidak akan pernah meninggalkanmu sendirian. Semoga kepulanganmu kelak menjadi bukti nyata dari indahnya sebuah ketulusan; dalam keadaan husnul khotimah, disambut dengan senyum malaikat yang bersahabat, dan ditempatkan di sebaik-baiknya tempat di sisi-Nya. Telagamu di dunia akan mengalir menuju samudera rahmat-Nya yang tak bertepi, menyatukanmu kembali dengan segala kedamaian yang selama ini engkau rindukan.
