(Oleh: Al – Fakir)
Hari ini Tahun Baru Hijriah datang>
Namun ia datang tanpa hiruk pikuk;
Tak ada petasan yang membelah langit.
Tak ada kembang api yang berebut cahaya.
Tak ada terompet yang memaksa malam menjadi gaduh.
Seolah-olah Islam ingin mengajarkan kepada manusia, bahwa;
Yang perlu meledak bukan langit, tetapi kesadaran.
Yang perlu dibunyikan bukan terompet, tetapi hati yang terlalu lama tertidur.
Sebab Tahun Baru Islam bukan sekadar pergantian angka di kalender.
Di belakangnya berdiri sebuah peristiwa besar yang mengubah wajah sejarah manusia.
Namanya “HIJRAH.”
Hijrah bukan sekadar berpindah tempat. Hijrah adalah keberanian intuk;
Menanggalkan kelakuan buruk menuju akhlak mulia.
Menanggalkan kesombongan menuju kerendahan hati.
Menanggalkan kemalasan menuju ikhtiar.
Menanggalkan dendam menuju maaf.
Menanggalkan maksiat menuju taat.
Dan .
Menanggalkan dunia yang terlalu kita cintai, menuju akhirat yang terlalu sering kita lupakan.
Sayangnya.
Banyak manusia sibuk merayakan tahun yang baru, tetapi takut menanggalkan kebiasaan yang lama.
Kalendernya berubah.
Angkanya berubah.
Ucapan selamatnya berubah.
Tetapi pola pikirnya tetap sama.
Kesalahannya tetap sama.
Dosanya tetap sama.
Bahkan Jalan yang menjauhkannya dari Allah masih dipelihara seperti sahabat yang paling setia.
Padahal kalender tidak pernah berdosa.
Lalu mengapa setiap tahun yang kita ganti, justru cara berpikir yang lama tetap kita pertahankan?
Setiap tahun kita mengganti kalender yang usang.
Tetapi anehnya.
kita sering memelihara pola pikir yang jauh lebih usang daripada kalender itu sendiri, Inilah pelajaran terbesar dari hijrah.
Tidak ada kata terlambat untuk berubah;
Meski masa lalu penuh salah.
Meski langkah pernah tersesat.
Meski usia tak lagi muda.
Karena pintu taubat tidak pernah bertanya berapa banyak dosamu.
Ia hanya bertanya,
apakah engkau benar-benar ingin pulang?
Dan …Al-Qur’an pun mengingatkan,
“Dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah dipersiapkannya untuk hari esok.”
Namun hari esok yang dimaksud bukan sekadar tentang ;
Pekerjaan yang lebih baik,
Jabatan yang lebih tinggi,
Rumah yang lebih besar, atau
Tabungan yang lebih banyak.
Karena suatu saat, kita semua akan memiliki hari esok yang tidak lagi diawali oleh matahari.
Hari ketika umur selesai.
Hari ketika amal menjadi teman perjalanan.
Hari ketika jabatan kehilangan kuasa.
Hari ketika harta berhenti berbicara.
Hari ketika tidak ada lagi jalan lain, kecuali jalan pulang menghadap Allah.
Maka jangan sibuk memperbarui tahunmu tapi baruilah cara berpikirmu.
Karena waktu tidak pernah meminta dirayakan.Ia hanya meminta untuk dipertanggungjawabkan.
Dan sesungguhnya yang paling merugi bukan orang yang terlambat hijrah.
Tetapi orang yang mengira pergantian tahun adalah tanda bahwa dirinya telah berubah.
Sebab kelak, yang akan menghadap Allah bukan kalender di dinding rumahmu tetapi dirimu sendiri.
Barakallahu fikum aj’main
Sukamiskin
Ba’da Subuh,dilapas sukamiskin yang masih terasa sepi dan dingin ketika sebagian manusia sibuk menghitung pergantian tahun, dan langit diam-diam menghitung berapa kali seorang hamba menunda hijrahnya.
Refleksi : QS. Al-Hasyr ayat 18.
