(Oleh: M. Hermayani Putera Ketua Majelis Lingkungan Hidup, PW Muhammadiyah Kalimantan Barat. Aktif di Gerakan Pembaharu (GAHARU) Pontianak)
Setiap kali bencana datang, selalu ada
orang-orang yang memilih untuk datang mendekat.
Ketika sebagian orang berusaha menjauh dari
asap, banjir, longsor, atau reruntuhan, para relawan justru bergerak ke arah
sebaliknya. Membawa apa yang mereka punya. Tenaga, waktu, makanan, obat-obatan,
kendaraan, bahkan sekadar keberanian untuk hadir dan menemani.
Para relawan mungkin tidak mengenakan
pakaian kebesaran. Tidak pula membawa jabatan atau kekuasaan. Tetapi di tengah
situasi yang serba sulit, kita sering menemukan sesuatu yang jauh lebih
berharga: kepedulian.
Kerelawanan sesungguhnya bukan hanya
tentang membantu orang lain. Sebuah kata kerja yang sederhana: ketika ada yang
sedang kesulitan, kita memilih untuk hadir dan tidak membiarkannya sendirian.
Di situlah saya melihat ada jejak
kenegarawanan.
Kenegarawanan sering kita bayangkan sebagai
sesuatu yang besar: tentang pemimpin, keputusan penting, atau tentang bagaimana
seseorang memikirkan masa depan bangsanya. Padahal, kenegarawanan bisa saja
tumbuh dari hal-hal yang sangat sederhana, dari kepedulian yang dilakukan tanpa
banyak bicara.
Kita bisa menemukannya dalam diri
bapak-bapak dan ibu-ibu yang memasak di dapur umum untuk korban bencana;
anak-anak muda yang mengangkut air dan makanan; tenaga kesehatan yang tetap
membuka layanan di tengah situasi sulit; hingga warga yang membantu mengevakuasi
tetangganya.
Relawan yang berjibaku memadamkan api
sesungguhnya bukan hanya sedang menyelamatkan manusia. Mereka juga sedang
menjaga hutan, satwa, udara, dan ruang hidup yang menjadi milik kita bersama.
Mereka mungkin tak pernah berpikir sedang
melakukan sesuatu yang bernama kenegarawanan.
Mereka hanya merasa ada yang membutuhkan
pertolongan. Sesederhana itu.
Kenegarawanan bukan tentang harus selalu
berada di depan. Kadang cukup dengan berdiri di samping mereka yang sedang
kesusahan. Atau berada di belakang, ikut memastikan dari jauh bahwa sebuah aksi
kemanusiaan bisa terus berjalan.
Bukan tentang siapa yang paling berjasa,
tetapi tentang kesediaan untuk mengambil bagian.
Bencana mengingatkan kita bahwa kehidupan
ini saling terhubung. Ketika hutan terbakar, bukan hanya pohon yang kehilangan
tempat hidup. Udara yang kita hirup ikut berubah. Ketika banjir datang, bukan
hanya rumah yang terendam. Sekolah, pekerjaan, kesehatan, dan kehidupan banyak
keluarga ikut terdampak.
Satu hal yang terjadi di satu tempat,
sering kali membawa akibat ke tempat yang lain. Kita hidup dalam ruang yang
sama, berbagi udara yang sama, dan bergantung pada alam yang sama.
Karena itu, merawat sesama dan merawat alam
sebenarnya bukan dua pekerjaan yang berbeda. Keduanya adalah bagian dari
ikhtiar menjaga kehidupan.
Para relawan mengajarkan itu dengan cara
yang paling nyata: hadir, bekerja, dan bergerak tanpa banyak bertanya apa yang
akan mereka dapatkan.
Tentu, kerja kerelawanan tidak boleh
membuat kita lupa bahwa penanganan bencana adalah tanggung jawab bersama.
Pemerintah, lembaga, dunia usaha, organisasi masyarakat, kampus, media, dan
tentu saja warga, semuanya punya peran.
Justru di sinilah kekuatan kerelawanan
menemukan maknanya. Para relawan mengingatkan kita bahwa negara akan semakin
kuat ketika kepedulian tumbuh di antara warganya. Ketika kita tidak hanya
menunggu siapa yang akan bergerak, tetapi bersedia mengambil bagian sesuai
dengan kemampuan kita.
Mungkin inilah salah satu wajah Indonesia
yang sering luput kita lihat.
Di tengah berbagai persoalan, masih ada
begitu banyak orang yang memilih untuk peduli. Mereka turun tangan, menyisihkan
waktu, tenaga, bahkan apa yang mereka punya. Ada keyakinan sederhana yang terus
hidup: penderitaan orang lain bukan urusan orang lain.
Dan mungkin, dari kepedulian-kepedulian
kecil semacam inilah kita menemukan kembali sesuatu yang penting tentang
Indonesia: bahwa kita masih punya alasan untuk saling menjaga.
Dari sanalah harapan itu tumbuh.
Semangat kerelawanan mungkin terlihat
sederhana. Tetapi ketika dilakukan dengan ketulusan, semangat itu meninggalkan
jejak kenegarawanan.
Jejak itu tidak selalu tertulis dalam
sejarah.
Kadang hanya tertinggal di jalan berlumpur,
di dapur umum, di posko pengungsian, di tengah kepulan asap, atau di wajah
seseorang yang akhirnya bisa tersenyum karena tahu bahwa dirinya tidak
sendirian.
Bangsa ini tidak selalu membutuhkan
orang-orang yang ingin terlihat sebagai pahlawan.
Kita hanya perlu lebih banyak orang yang
mau peduli, bersedia hadir, dan dengan ceria gembira berkata:
“Ada yang sedang membutuhkan. Mari kita
bergerak.”
Pontianak, 29 Agustus 2026

Teruslah menulis saudaraku