Kejatuhan Sang Kaisar dan Para Penjilat-100kb

(Oleh: Al-Fakir)

Sejarah banyak memberikan pelajaran berharga tentang sifat kekuasaan. Salah satu pola yang terus ber ulang dari masa ke masa adalah kehancuran seorang pemimpin akibat racun dari lingkungan sekitarnya.

Pemimpin yang mengelilingi dirinya dengan sycophant (penjilat sejati) pasti akan menemui ahir yang sangat tragis.

Sycophant, adalah para penjilat sejati, mereka berada dalam lingkar kekuasaan yang selalu memuji, menyetujui, dan membenarkan setiap ucapan atau tindakan pemimpin semata-mata demi mencari keuntungan pribadi.

Para penjilat ini berkolaborasi menciptakan gelembung ilusi yang membuat penguasa merasa sempurna, maha tahu dan kebal dari segala kesalahan.

Saat seorang penguasa dibuai oleh pujian-pujian dan kehilangan pijakan pada realitas yang sebenarnya, kehancuran tinggal menunggu waktu.

Bagai mana nasib penguasa yg terlalu banyak dijilat, kita melihat nasib para Kaisar Romawi yg berahir tragis.

Kaisar Caligula

Pada masa kekuasaanya para senator dan pejabat istana bersaing ketat untuk memberikan sanjungan setinggi langit kepadanya.

Meraka mendukung Caligula hidup dalam fantasi bahwa dirinya adalah seorang dewa yang hidup di bumi. Pujian tiada henti ini membuat sang Kaisar bertindak semakin brutal dan irasional.

Caligula bahkan merencanakan pengangkatan kuda kesayanganya menjadi konsul tertinggi di Roma, dan para penjilat di sekitarnya, tetap bertepuk tangan, meng amini rencana gila tersebut.

Lingkungan yang dipenuhi Sycophant ini ahirnya memicu kebencian mendalam secara diam-diam. Pada ahirnya, Caligari di tikam hingga tewas oleh anggota pengawal Pretoriannya sendiri, kelompok yang seharusnya mempertaruhkan nyawa untuk melindungi sang Kaisar.

Kaisar Naro

Kaisar ini memiliki obsesi luar biasa pada dunia seni dan merasa dirinya adalah musisi, penyair serta penyanyi terhebat di dunia.

Setiap kali Nero tampil di panggung teater, para penjilat di sekitarnya akan bersorak meriah dan memberikan penghormatan yang sangat berlebihan.

Mereka rela duduk berjam-jam mendengar pertunjukan sang Kaisar demi mempertahankan posisi dan kekayaan mereka di istana.

Akibatnya Nero terus sibuk dengan pantasinya, dan mengabaikan krisis nyata yang sedang melanda Roma, kebijakanya semakin kacau balau.

Saat rakyat dan pihak meliter ahirnya melakukan pemberontakan besar, Nero langsung kehilangan semua dukunganya dan memilih mengahiri hidupnya sendiri dalam pelarianya yang sangat meyedihkan.

Kaisar Comodus

Kaisar ini lebih suka menghabiskan waktu bertarung di arena gladiator dari pada mengurus roda pemerintahan. Ia sering membantai hewan buas dari tempat yang aman dihadapan puluhan ribu penonton.

Para senator dan bangsawan yang hadir di Colosseum akan bersorak sorai dan memberikan puji-pujian palsu kepadanya, karena mereka sangat takut di eksekusi.

Commodus sampai mengubah nama kota Roma dan nama bulan dalam kalender menjadi nama dirinya sendiri. Pujian buta dari para Sychopant menutupi fakta bahwa Romawi sedang meluncur deras menuju jurang kebangkrutan moral dan finansial.

Masa pemerintahanya berahir dengan kejam, ketika ia di cekik sampai mati oleh rekan gulatnya sendiri di tempat pemandian.

Kaisar Domitianus

Ia sangat menyukai pemujaan absolut dan menuntut semua pejabat untuk memanggilnya dengan gelar ” Dominus et Deus” yang bermakna “Tuan dan Dewa.”

Para anggota senat Romawi menunduk dan mematuhi aturan ini, demi mengamankan nyawa dan jabatan politis mereka. Sikap otoriter yang selalu di benarkan oleh para penjilatnya membuat Domitianus menjadi sosok paranoid tingkat tinggi. Ia mengeksekusi banyak tokoh penting atas dasar kecerugian semata.

Ketakutan yang menyebar luas di dalam istana pada ahirnya memicu sebuah konsfirasi berdarah. Domitianus tewas di tikam dalam kamarnya sendiri oleh para stap istana yang sehari-hari melayani kebutuhan pribadinya.

Dari ke empat kaisar diatas, kita bisa mengambil kesimpulan yang sangat jelas. Para Sycophant adalah penyakit mematikan bagi sebuah kepemimpinan. Mereka secara sistimatis menutup mata dan telinga penguasa dari kebenaran yang pahit di lapangan.

Seorang pemimpin yang cerdas selalu membutuhkan suara-suara jujur yang berani memberikan kritik di saat ia mulai salah melangkah.

Kekuasaan yang hanya disokong oleh puji-pujian palsu pasti akan menjadi rapuh dan sangat mudah runtuh dari dalam. Sejarah telah membuktikan secara nyata bahwa pemimpin yang terlalu banyak di jilat selalu berujung pada nasib yang sangat tragis.

Semoga Indonesia selalu di isi oleh orang hebat, bukan para penjilat, dan semoga kita semua menjadi orang hebat, bukan penjilat.

“Sebaik-baiknya jihad, menyampaikan kalimat kebenaran dihadapan penguasa yang menyimpang/zalim “(HR. Abu Dawud. Tamidzi dan Ibnu Majah)

Barakallahu fiikum aj’main.

Sudut sempit sukamiskin, gerimis subuh.

Our Social Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *