Hari ini, kita hidup dalam banjir hiburan. Dari scroll tanpa henti di TikTok, permainan online yang memakan waktu berjam-jam, hingga konten absurd yang viral tanpa sebab. Banyak yang menyebutnya sebagai era konektivitas dan kebebasan berekspresi. Tapi saya justru melihat sebaliknya: kita tengah berada di era pelarian massal. Pelarian dari realitas yang tidak memihak.
Bagi banyak orang, terutama mereka yang hidup dalam tekanan ekonomi dan sosial, hiburan menjadi satu-satunya ruang bernapas. Ia menawarkan pelarian cepat dari hidup yang terasa berat: dari gaji yang tak cukup, dari pekerjaan tanpa arah, dari kecemasan masa depan. Tak salah jika hiburan menjadi bagian dari rutinitas. Tapi yang jadi masalah adalah ketika pelarian ini berubah menjadi ketergantungan, bahkan ketidaksadaran.
Game online menjadi tempat membangun dunia yang lebih adil karena dunia nyata terasa terlalu kejam. Judol menjanjikan kekayaan instan karena sistem ekonomi tak memberi peluang yang setara. Media sosial menjadi ruang pelampiasan emosi, iri, dan eksistensi semu karena kehidupan sehari-hari tak memberi makna.
Fenomena ini bukan tanpa akar sejarah. Kita sudah melihat bagaimana kekuasaan memanfaatkan hiburan sebagai alat pengalihan. Dari “roti dan sirkus” di era Romawi, hingga tontonan kolonial untuk rakyat jajahan hiburan digunakan bukan untuk menyembuhkan luka, tapi untuk meninabobokkan kesadaran. Yang berubah hanya medianya dari arena gladiator ke layar 6 inci di genggaman kita.
Modernitas hari ini memproduksi pelarian dalam skala industri. Algoritma dirancang bukan untuk memberi makna, tapi mempertahankan atensi. Kapitalisme digital bekerja dengan logika semakin lama kamu terdistraksi, semakin besar nilai ekonomi mu. Maka bukan kebetulan jika kesadaran kita makin tumpul, jika refleksi makin langka, dan jika keberanian untuk melawan realitas makin jarang ditemukan.
Yang lebih mengkhawatirkan, pelarian ini membentuk lingkaran setan. Semakin kita terhibur, semakin kita teralihkan. Semakin teralihkan, semakin pasif. Dan ketika pasif menjadi budaya, maka kekuasaan baik politik maupun ekonomi bisa bekerja tanpa perlawanan.
Lalu, dimana peran pendidikan?
Pendidikan seharusnya menjadi benteng terakhir yang membangkitkan kesadaran, bukan sekadar mencetak pekerja. Ia harus mampu mengajarkan literasi hiburan kesadaran akan bagaimana kita mengonsumsi informasi, mengelola atensi, dan membedakan antara hiburan yang mencerahkan dan yang membius.
Pendidikan harus mulai mengajarkan keberanian untuk merenung, bukan sekadar mengejar ranking. Ia perlu membekali murid dengan alat berpikir kritis, kemampuan bertanya, dan keberanian untuk mempertanyakan sistem yang tak adil.
Pendidikan tak boleh tunduk pada pasar atau algoritma. Ia harus berdiri sebagai ruang yang mengembalikan manusia kepada dirinya: pada keinginan untuk memahami, bukan sekedar melupakan.
Kurikulum tak cukup hanya bicara soal kecakapan kerja, tapi juga harus menumbuhkan kesadaran sosial, etika digital, dan literasi emosional. Karena pada akhirnya, yang bisa membebaskan manusia dari pelarian yang tak sehat adalah kemampuan untuk menyadari dan pendidikan adalah jalan menuju kesadaran itu.
Ini bukan seruan anti hiburan. Tapi ajakan untuk sadar: bahwa tidak semua yang menghibur itu menyehatkan. Tidak semua yang menyenangkan itu membebaskan. Kita harus kembali bertanya untuk apa kita menghibur diri? Untuk pulih? Atau untuk lupa?.
Selamat Hari Pendidikan 02 Mei 2025.
Penulis: Riky Efendi