1424745_720
elombang demonstrasi besar melanda Indonesia pada 28–29 Agustus 2025. Aksi yang bermula dari tuntutan buruh kemudian berkembang menjadi gerakan sosial yang melibatkan mahasiswa dan masyarakat luas, dipicu oleh peristiwa tragis yang mengguncang publik.

Gelombang demonstrasi besar melanda Indonesia pada 28–29 Agustus 2025. Aksi yang bermula dari tuntutan buruh kemudian berkembang menjadi gerakan sosial yang melibatkan mahasiswa dan masyarakat luas, dipicu oleh peristiwa tragis yang mengguncang publik.

Pada 28 Agustus, ribuan buruh dari berbagai elemen, termasuk KSPI, Partai Buruh, dan koalisi serikat pekerja, menggelar aksi di depan Gedung DPR/MPR RI Jakarta. Mereka menuntut penghapusan sistem outsourcing, penolakan upah murah, pembentukan satgas anti-PHK, serta reformasi pajak. Kenaikan upah minimum hingga 10 persen juga menjadi sorotan. Aksi awal berlangsung damai, namun memanas ketika massa mahasiswa bergabung. Kericuhan pecah saat sekelompok peserta melempar batu, petasan, dan mencoba memanjat pagar DPR. Aparat merespons dengan gas air mata dan water cannon, yang semakin memperburuk suasana.

Ketegangan mencapai puncaknya ketika sebuah kendaraan taktis Brimob menabrak Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online yang sedang mengantar pesanan di kawasan Pejompongan. Affan kemudian meninggal dunia akibat luka parah yang dideritanya. Peristiwa ini menjadi pemicu kemarahan publik, memunculkan solidaritas spontan, dan memperluas gelombang aksi ke berbagai daerah. Setelah insiden tersebut, massa bergerak menuju Mako Brimob Kwitang menuntut pertanggungjawaban, disertai aksi pelemparan dan pembakaran. Gelombang protes kemudian menjalar ke Surabaya, Medan, Bandung, Yogyakarta, hingga Pontianak. Di beberapa daerah terjadi bentrokan keras, pembakaran gedung, bahkan korban jiwa akibat kebakaran di gedung DPRD Makassar. Mahasiswa dan serikat pekerja bersatu menyuarakan tuntutan yang lebih luas: keadilan bagi Affan, penghentian praktik represif aparat, reformasi kebijakan ekonomi, serta pembubaran DPR yang dianggap tidak berpihak pada rakyat.

Presiden Prabowo Subianto menyampaikan rasa syok dan kecewa atas tindakan aparat. Ia memerintahkan investigasi menyeluruh, menahan tujuh anggota Brimob yang terlibat, serta menegaskan pentingnya keadilan bagi korban. Kapolri juga mendatangi keluarga Affan dan meminta maaf secara terbuka. Namun, bagi publik, permintaan maaf itu belum cukup. Tuntutan agar kasus ini dibawa ke ranah hukum terbuka dan pelaku diadili secara transparan terus menggema.

Kerusuhan ini berdampak luas. IHSG jatuh lebih dari 2 persen, sementara rupiah melemah mendekati Rp16.500 per dolar AS. Bank Indonesia harus melakukan intervensi di pasar valuta asing dan obligasi untuk meredam gejolak. Dari sisi sosial, kepercayaan publik terhadap aparat keamanan kembali dipertanyakan, dengan maraknya seruan perombakan menyeluruh institusi kepolisian. Pada 29 Agustus, aksi lanjutan digelar di berbagai kota. Mahasiswa UI dan BEM SI melakukan aksi di Polda Metro Jaya, sementara di Bandung, Surabaya, dan kota-kota lain, massa terus menekan pemerintah agar menindak tegas aparat pelaku kekerasan.

Gelombang demonstrasi 28–29 Agustus 2025 menegaskan bahwa krisis kepercayaan publik terhadap pemerintah dan aparat masih nyata. Tragedi Affan Kurniawan menjadi simbol bahwa perlindungan hak rakyat tidak boleh dikalahkan oleh tindakan represif. Publik kini menunggu: apakah negara benar-benar akan menegakkan keadilan, atau justru kembali membiarkan luka sosial ini menganga lebih dalam.

Oleh: Chariyandika

Our Social Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *