mira

(Oleh: Mira Lubis)

Ada negara-negara yang kita kenal dari berita. Ada juga negara yang perlahan masuk ke hati kita lewat buku dan film. Bagi saya, Iran termasuk yang kedua.

Saya mulai merasa kenal dengan Iran bukan karena pernah tinggal di sana, bukan juga karena benar-benar memahami politiknya dari awal. Kedekatan itu justru datang dari perjumpaan yang lebih sunyi melalui koleksi novel dan film-film milik pribadi. Dari membaca novel Shah of Shahs karya Ryszard Kapuściński, lalu dari menonton film-film Iran yang dibuat oleh sutradara-sutradara ternama Iran seperti Asghar Farhadi, Mohsen Makhmalbaf, dan Abbas Kiarostami. Dari sana, Iran tidak lagi terasa sebagai nama negara yang jauh. Ia berubah menjadi wajah-wajah manusia, rumah-rumah sederhana, percakapan yang tertahan, dan kehidupan yang terus berjalan di tengah tekanan sejarah. 

Novel Shah of Shahs adalah buku reportase-reflektif tentang runtuhnya pemerintahan Shah Mohammad Reza Pahlavi dalam Revolusi Iran 1979. Yang saya rasakan ketika membaca Shah of Shahs adalah suasana mencekam dari sebuah kekuasaan yang tampak besar, tetapi sebenarnya rapuh. Kapuściński menuliskan novel ini seperti seseorang yang berdiri di tengah puing-puing sejarah dan bertanya: bagaimana sebuah rezim yang begitu kuat bisa kehilangan pijakan? Buku itu mengajarkan bahwa kekuasaan sering kali runtuh bukan hanya karena serangan dari luar, tetapi karena ia lama-kelamaan tidak lagi mampu mendengar denyut kehidupan rakyatnya sendiri.

Setelah itu, film-film Iran seperti membuka pintu lain. Kalau Kapuściński memperlihatkan Iran dari sisi sejarah dan kekuasaan, maka para sutradara Iran memperlihatkan negeri itu dari sisi yang jauh lebih intim. Film ‘A Separation’ (2011) karya Asghar Farhadi membuat saya merasa bahwa konflik terbesar manusia sering lahir bukan dari perang besar, melainkan dari ruang tamu, dari percakapan keluarga, dari rasa malu, harga diri, utang, cinta dan pernikahan, dan kebohongan kecil yang pelan-pelan membesar. Britannica menulis bahwa Farhadi dikenal melalui drama-drama yang memeriksa persoalan etika serta kontradiksi sosial di Iran modern. Itu terasa sekali dalam film-filmnya: tidak ada tokoh yang sepenuhnya jahat atau sepenuhnya benar. Semua orang rapuh. Semua orang terluka, dan mencoba bertahan dengan caranya masing-masing. 

Pada film-film Mohsen Makhmalbaf seperti Close Up (1990), saya merasakan Iran yang lebih gelisah, lebih politis, dan kadang lebih getir. Latar hidup si sutradara sendiri lahir dalam kemiskinan, aktif dalam gerakan anti-Shah saat muda, lalu dipenjara sebelum akhirnya beralih ke dunia cerita dan film. Ini membuat karya-karyanya terasa sangat dekat dengan sejarah tubuh dan sejarah negara sekaligus. Dalam banyak filmnya, ada rasa bahwa manusia kecil selalu sedang bernegosiasi dengan kekuasaan, dengan nasib, dan dengan luka sosial yang diwariskan dari masa ke masa.

Film Taste of Cherry (1997) karya Abbas Kiarostami (berkisah tentang seorang pria yang berkeliling mencari seseorang yang bersedia menguburkannya setelah ia bunuh diri) terasa seperti perjalanan sunyi yang sederhana namun mengguncang, karena dengan tenang mengajak kita merenungkan makna hidup, kematian, dan pilihan manusia tanpa pernah menggurui. Britannica mencatat bahwa Kiarostami dikenal karena terus-menerus bermain di batas antara kenyataan dan fiksi, sementara Iranica juga menulis bahwa hidupnya dibentuk oleh masa-masa bergolak dalam sejarah Iran modern dan oleh kedekatannya dengan puisi. Mungkin itu sebabnya film-filmnya terasa ringan di permukaan, tetapi lama membekas dalam hati dan pikiran saya. Pada film-filmnya, jalanan desa, anak kecil, mobil, bukit, dan percakapan sederhana bisa berubah menjadi pertanyaan besar tentang hidup, kesepian, dan martabat manusia.

Semakin saya membaca dan menonton, semakin saya merasa bahwa Iran adalah negeri yang tidak bisa dipahami hanya dari satu pintu. Ia bukan hanya negara tentang revolusi, tentang agama, tentang konflik nuklir, atau tentang hubungan buruk dengan Barat. Iran juga adalah negeri para penyair, para pembuat film, para ibu yang cemas, anak-anak yang tumbuh di bawah bayang-bayang aturan, dan warga biasa yang tetap berusaha menjalani hidup sehari-hari dengan kewarasan dan harga diri.

Karena itu, melihat situasi Iran sekarang rasanya lebih menyayat. Beberapa minggu terakhir, Iran kembali berada dalam tekanan yang sangat berat. Reuters dan AP melaporkan bahwa setelah gelombang protes besar pada awal 2026, negara melakukan penangkapan massal, dan pada 19 Maret 2026 tiga orang yang ditahan terkait protes itu dieksekusi di Qom. Laporan AP juga menyebut adanya kekhawatiran bahwa lebih banyak eksekusi akan menyusul. Di saat yang sama, konflik Iran dengan AS dan Israel juga sedang memanas, termasuk ancaman terkait Selat Hormuz dan infrastruktur energi, yang membuat situasinya makin tegang baik ke dalam maupun ke luar.

Dalam suasana seperti itu, saya kembali teringat pada koleksi Iran saya. Buku Shah of Shahs terasa seperti peringatan bahwa sejarah kekuasaan sering berulang dalam bentuk yang berbeda. Dan di tengah situasi yang keras ini, saya juga semakin paham mengapa film-film Iran begitu kuat. Mungkin karena ketika ruang politik menyempit, kesenian justru berbicara dengan cara yang lebih halus. Tanpa harus berteriak dan tampil menonjol, kesenian memperlihatkan dampaknya dalam tubuh manusia: dalam gugup seorang ayah, diam seorang anak, tatapan seorang perempuan, atau langkah seseorang di jalan yang sepi. Di situlah saya merasa film Iran bukan sekadar karya seni yang bagus, melainkan bentuk kesaksian.

Pada akhirnya, Iran yang saya kenal dari buku dan film bukanlah Iran yang hitam-putih. Ia penuh luka, tetapi juga penuh keindahan. Ia keras, tetapi sekaligus puitis. Ia menyimpan sejarah kekuasaan yang panjang, tetapi juga tradisi kemanusiaan yang sangat halus. Mungkin itu yang membuat saya terus terus mencari novel dan film-filmnya. Bukan karena saya merasa sudah memahami Iran sepenuhnya, tetapi justru karena setiap buku dan setiap film dari sana mengingatkan bahwa di balik politik yang rumit, selalu ada manusia-manusia yang ingin hidup dengan tenang, mencintai, berbicara, dan didengar.

Our Social Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *