ChatGPTImage15Jul202613.30.3

(Oleh: Jaka Kembara/aktivis Swandiri Inisiatif Sintang)

Beberapa tahun terakhir nama seperti Tan Malaka, Soe Hok Gie dan beberapa nama lainnya kembali banyak dibicarakan oleh generasi muda dan masyarakat. Buku-bukunya dibaca ulang, kutipan-kutipannya beredar luas di media sosial, wajahnya menjadi ilustrasi pada kaus, poster, dan berbagai karya kreatif lainnya. Mereka diposisikan sebagai tokoh yang cerdas, berani, dan melampaui zamannya. Namun, di balik meningkatnya popularitas tersebut muncul sebuah paradoks. Kekaguman terhadap tokoh-tokoh ini sering kali berhenti pada pengenalan terhadap sosok dan narasi heroiknya, tanpa diikuti upaya menghidupkan nilai-nilai yang menjadi inti perjuangannya. 

Fenomena ini dapat disebut sebagai kekaguman semu, yaitu keadaan atau kondisi ketika seseorang atau lingkungan mengapresiasi pemikiran seorang tokoh, tetapi tidak menerjemahkannya ke dalam tindakan nyata. Misalnya, seseorang mengutip gagasan Tan Malaka tentang pentingnya pendidikan rakyat, tetapi tidak pernah terlibat dalam kegiatan literasi masyarakat. Mengagumi keberaniannya melawan ketidakadilan, tetapi memilih diam ketika menyaksikan praktik yang dianggap tidak adil atau memuji gagasannya tentang organisasi rakyat, tetapi enggan berpartisipasi dalam kegiatan sosial di lingkungannya.

Jika kecenderungan seperti ini meluas, ruang publik dapat mengalami pelemahan partisipasi. Kritik lebih banyak hadir dalam bentuk unggahan media sosial daripada keterlibatan dalam organisasi, pendidikan masyarakat, atau pengawasan terhadap kebijakan publik. Akibatnya, berbagai persoalan sosial dan tata kelola yang terjadi tidak memperoleh respons kolektif yang memadai, bukan karena masyarakat tidak mengetahui adanya masalah, melainkan karena pengetahuan tersebut tidak berkembang menjadi tindakan bersama. Sebagai contoh kasus ramainya pemadaman listrik yang dilakukan oleh PLN, kuat dan besar komplen yang dilakukan di media sosial tapi lemah dalam aksi langsung, dengan pihak bermasalah yang abai terhadap media sosial maka kasus ini pun akan menguap tanpa kejelasan.

Terhadap situasi tersebut, pertanyaan yang harus kita jawab bersama adalah apa yang harus kita lakukan?. Jika membaca nilai-nilai dari banyak tokoh maka langkah pertama adalah membangun tradisi berpikir kritis. Membaca karya dari tokoh-tokoh tersebut hendaknya tidak berhenti pada hafalan kutipan, tetapi menjadi proses memahami konteks, mengkritisi keadaan, dan merumuskan solusi atas persoalan masyarakat saat ini. Membaca harus menghasilkan kesadaran bukan sekadar pengetahuan, dampaknya adalah sebuah keberanian moral berani menyampaikan kebenaran secara bertanggung jawab, menolak ketidakadilan, menjaga integritas, dan tidak bersikap apatis terhadap persoalan publik.

Selanjutnya, nilai-nilai tersebut tidak akan hidup apabila hanya dibicarakan di ruang diskusi atau media sosial. Nilai tersebut harus diwujudkan melalui keterlibatan dalam organisasi masyarakat, komunitas belajar, gerakan lingkungan, kegiatan literasi, pendampingan masyarakat, maupun berbagai bentuk kerja kolektif yang dapat memberi manfaat nyata. Sebuah perubahan tidak dapat bergantung pada tokoh tunggal, melainkan pada rakyat yang terorganisasi. Karena itu, generasi muda perlu belajar membangun organisasi yang demokratis, memperkuat solidaritas, melatih kepemimpinan, serta menciptakan ruang belajar yang terbuka bagi masyarakat. jika, semua hal tersebut terjalani dengan benar-benar mengimplementasi nilai dari tokoh-tokoh yang dikagumi maka akan terbangun budaya belajar, bekerja, dan mengabdi. Dengan demikian, kekaguman terhadap tokoh, bacaan yang kita baca atau pemebelajaran yang didapat, akan menjadi ilmu pengetahuan yang menyelesaikan persoalan masyarakat, bukan sekadar menjadi prestasi akademik atau identitas intelektual.

Our Social Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *