(Oleh: Aktivis Autizs)
Tema Expo Sintang 2026: Bersama Membangun Sintang yang Maju, Sejahtera, Berkualitas dan Berkelanjutan Menuju Indonesia Berdaulat. Seharusnya bukan sekadar rangkaian kata-kata indah yang dipajang di baliho, panggung seremonial, dan sambutan pejabat. Tema tersebut memuat janji moral sekaligus komitmen politik bahwa pembangunan harus berpihak kepada rakyat, menjaga kualitas hidup masyarakat, dan menjamin keberlanjutan lingkungan. Namun ketika pameran pembangunan dan Kelam Tourism Festival digelar di tengah tragedi asap dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), publik berhak mempertanyakan: pembangunan macam apa yang sedang dirayakan?
Sulit berbicara tentang masyarakat yang “sejahtera” ketika ribuan warga harus menghirup udara yang tercemar. Sulit berbicara tentang kualitas hidup ketika anak-anak, lansia, dan kelompok rentan setiap hari terpapar asap. Lebih sulit lagi berbicara tentang pembangunan yang “berkelanjutan” ketika bencana ekologis yang sama terus berulang dari tahun ke tahun tanpa solusi yang benar-benar menyentuh akar persoalan.
Ironinya begitu telanjang. Di satu sisi, pemerintah menggelar pameran pembangunan untuk menunjukkan capaian dan keberhasilan. Di sisi lain, langit yang tertutup asap justru menjadi pameran kegagalan yang nyata. Asap adalah indikator yang tidak bisa dimanipulasi dengan baliho, dekorasi panggung, ataupun pidato seremonial. Asap adalah bukti bahwa persoalan lingkungan belum mampu ditangani secara tuntas.
Kelam Tourism Festival bahkan menghadirkan ironi yang lebih dalam. Festival yang dibangun untuk mempromosikan keindahan alam Bukit Kelam dan pariwisata Sintang justru berlangsung ketika alam yang menjadi aset utama daerah sedang berada dalam ancaman. Bagaimana mungkin berbicara tentang pesona wisata alam ketika masyarakat tidak dapat menikmati udara bersih? Bagaimana mungkin mengajak wisatawan datang menikmati keindahan daerah ketika warga setempat sedang berjuang menghadapi dampak kabut asap?. Yang dipertontonkan kemudian bukan lagi promosi wisata, melainkan kontradiksi yang menyakitkan. Di atas panggung, sintang sedang dirayakan. Di luar arena festival, sintang sedang hancur oleh kebakaran, PETI dan kegagalan pembangunan itu sendiri.
Persoalan yang paling mendasar bukanlah penyelenggaraan acara itu sendiri, melainkan rendahnya sensitivitas sosial dan ekologis para penyelenggara. Dalam situasi kebencanaan, yang dibutuhkan masyarakat adalah empati, keberpihakan, dan kesadaran bahwa keselamatan warga harus menjadi prioritas utama. Namun yang tampak justru upaya mempertahankan kemeriahan acara seolah tidak ada persoalan serius yang sedang berlangsung.
Tindakan seperti ini memunculkan kesan bahwa citra lebih penting daripada kenyataan. Bahwa seremoni lebih penting daripada substansi. Bahwa keberhasilan sebuah acara lebih penting daripada penderitaan masyarakat yang terdampak bencana.
Jika tema pembangunan yang diusung benar-benar diyakini, maka seharusnya penyelenggaraan Expo Sintang dan Kelam Tourism Festival menjadi ruang refleksi atas krisis lingkungan yang sedang terjadi. Seharusnya panggung tersebut digunakan untuk menggalang solidaritas, membangun kesadaran ekologis, dan menunjukkan komitmen nyata terhadap penanganan karhutla. Sebaliknya, ketika bencana hanya menjadi latar belakang yang diabaikan, maka tema “maju, sejahtera, berkualitas, dan berkelanjutan” kehilangan maknanya dan berubah menjadi slogan kosong.
Pembangunan tidak diukur dari ramainya panggung atau banyaknya stan pameran. Pembangunan diukur dari kemampuan pemerintah melindungi warganya ketika krisis datang. Kesejahteraan tidak diukur dari banyaknya acara yang digelar, tetapi dari kemampuan masyarakat menikmati kehidupan yang sehat dan aman. Keberlanjutan tidak dibuktikan melalui narasi pidato, melainkan melalui keberhasilan menjaga lingkungan dari kerusakan yang terus berulang.
Karena itu, penyelenggaraan Pameran Pembangunan dan Kelam Tourism Festival di tengah tragedi asap sesungguhnya menghadirkan paradoks yang pahit. Ketika pemerintah mengajak masyarakat merayakan pembangunan, masyarakat justru dipaksa merasakan dampak kegagalan pembangunan. Ketika slogan “berkelanjutan” dikumandangkan, lingkungan menunjukkan kenyataan yang sebaliknya. Ketika kemajuan dipamerkan, asap justru mengungkap persoalan yang belum terselesaikan.
Dan barangkali ironi terbesar dari semuanya adalah ini: di saat rakyat sedang berjuang menghirup udara bersih, pemerintah justru sibuk merayakan keberhasilannya. Jika situasi seperti ini terus dianggap normal, maka yang sesungguhnya terancam bukan hanya kualitas lingkungan, melainkan juga kepercayaan publik terhadap makna pembangunan itu sendiri.
