22055-100kb

(Oleh: Fransiskus – Aktivis muda Swandiri Inisiatif Sintang)

Kapitalisme hari ini tidak hanya bekerja melalui perusahaan-perusahaan besar dan pasar global, tetapi juga hadir dalam kehidupan sehari-hari petani. Ia dapat dirasakan dari mahalnya biaya produksi, ketergantungan terhadap benih dan sarana produksi dari luar, lemahnya posisi tawar petani ketika menjual hasil produksi, hingga ketidakpastian harga yang membuat pendapatan petani sulit diprediksi.

Petani komoditas non-kelapa sawit dihadapkan pada persoalan yang tidak sederhana. Biaya produksi terus menjadi beban, sementara harga hasil pertanian tidak sepenuhnya dapat ditentukan oleh petani. Dalam banyak situasi, petani berada pada posisi sebagai price taker—penerima harga—bukan sebagai pihak yang memiliki kekuatan menentukan harga atas hasil produksinya sendiri.

Persoalan semakin rumit ketika petani berhadapan dengan rantai perdagangan yang panjang. Hasil produksi berpindah dari petani kepada pengepul atau tengkulak, kemudian menuju pedagang yang lebih besar hingga pasar yang lebih luas. Dalam rantai tersebut, petani sering kali berada pada posisi paling lemah. Ketika panen berlangsung bersamaan dan pasokan meningkat, harga dapat jatuh, sementara biaya produksi yang telah dikeluarkan tidak ikut turun.

Ketidakpastian tersebut memperlihatkan bahwa persoalan petani bukan semata-mata persoalan individu. Petani tidak dapat dibebani tanggung jawab untuk menyelesaikan sendiri persoalan harga, distribusi, modal, sarana produksi, akses pasar, maupun kebijakan pemerintah. Ada persoalan struktural yang harus dihadapi secara bersama-sama.

Di sisi lain, kebijakan pembangunan dan perdagangan yang terlalu berorientasi pada komoditas bernilai ekonomi tinggi dapat berisiko menggeser perhatian dari kebutuhan pangan masyarakat lokal. Ketika petani terus didorong untuk menghasilkan komoditas yang memiliki nilai pasar, keberagaman produksi pangan lokal dapat terpinggirkan. Padahal, ketahanan pangan tidak hanya berbicara tentang seberapa banyak pangan diproduksi, tetapi juga siapa yang menguasai produksi, distribusi, dan akses masyarakat terhadap pangan.

Karena itu, membicarakan persoalan petani tidak cukup hanya dengan membicarakan produktivitas. Kita juga harus membicarakan siapa yang memiliki alat produksi, siapa yang menguasai rantai perdagangan, siapa yang menentukan harga, dan seberapa kuat posisi petani dalam mengambil keputusan atas hasil produksinya sendiri.

Petani dan Persoalan Kolektivitas

Salah satu persoalan mendasar yang membuat petani sulit keluar dari kondisi tersebut adalah masih kuatnya pola gerak yang individual. Petani menghadapi persoalan yang sama, tetapi sering kali menyelesaikannya sendiri-sendiri.

Ketika harga bibit mahal, petani menanggungnya sendiri. Ketika harga jual turun, kerugian ditanggung sendiri. Ketika membutuhkan modal, petani mencari sendiri. Ketika berhadapan dengan tengkulak atau pembeli besar, petani melakukan negosiasi sendiri dengan posisi tawar yang terbatas.

Padahal, persoalan yang dihadapi bersifat kolektif.

Jika persoalannya kolektif, maka jawabannya juga harus dibangun secara kolektif.

Di sinilah organisasi petani menjadi penting. Organisasi bukan hanya tempat berkumpulnya petani, tetapi dapat menjadi alat perjuangan ekonomi dan politik petani untuk menghimpun kekuatan, membangun solidaritas, mengembangkan usaha bersama, memperkuat koordinasi, meningkatkan kapasitas anggota, sekaligus melakukan advokasi terhadap kebijakan yang menyangkut kehidupan petani.

Kolektivitas memungkinkan petani mengubah posisi tawarnya. Ketika hasil produksi dikonsolidasikan dalam jumlah yang lebih besar, petani memiliki peluang untuk bernegosiasi langsung dengan pembeli besar maupun industri. Dengan demikian, petani tidak harus selalu menerima harga yang ditentukan oleh pihak lain.

Kolektivitas juga dapat membuka ruang bagi efisiensi biaya. Pengadaan pupuk, benih, obat-obatan, maupun kebutuhan pertanian lainnya dapat dilakukan secara bersama sehingga memungkinkan pembelian dalam jumlah besar dengan harga yang lebih efisien. Demikian pula dengan biaya transportasi dan logistik yang dapat ditanggung bersama.

Lebih jauh, organisasi petani dapat membangun distribusi yang lebih pendek. Semakin panjang rantai distribusi, semakin banyak pihak yang mengambil keuntungan dari proses tersebut. Karena itu, penguatan organisasi petani dapat menjadi salah satu jalan untuk memperpendek rantai distribusi, memperkuat hubungan langsung antara petani dan pasar, sekaligus meningkatkan bagian nilai ekonomi yang diterima petani.

Kolektivitas juga memungkinkan terbentuknya sistem permodalan bersama, peningkatan kapasitas anggota, pertukaran pengetahuan, pengembangan usaha, hingga penyelesaian persoalan yang tidak mungkin diselesaikan oleh seorang petani secara individual.

Dengan kata lain, organisasi petani bukan sekadar wadah administratif. Organisasi adalah alat untuk membangun daya tawar.

Dari Keresahan Menuju Persatuan

Gagasan tersebut kemudian menemukan ruang dalam kegiatan “Pembentukan Jaringan Petani Komoditas di Kabupaten Melawi” yang dilaksanakan selama dua hari, pada 14–15 September 2026, pukul 08.00–17.00 WIB, bertempat di Aula Kantor SUAR, Kabupaten Melawi.

Kegiatan tersebut mempertemukan petani dari lima desa, yaitu Desa Landau Garong, Manggala, Sungai Bakah, Nanga Nuak, dan Tanjung Sari. Masing-masing desa mengirimkan lima orang perwakilan kelompok tani, sehingga terdapat 25 orang perwakilan petani. Selain itu, hadir satu orang perwakilan pemerintah desa dari masing-masing desa, dua orang perwakilan Gemawan, lima orang pemateri dari SIS, serta dua orang dari SUAR.

Pertemuan tersebut lahir dari keresahan yang dirasakan bersama oleh para petani terhadap persoalan harga pasar, tekanan dari tengkulak, monopoli hasil pangan oleh pihak-pihak tertentu, mahalnya harga bibit, bantuan yang tidak tepat sasaran, rendahnya harga jual hasil pertanian, serta minimnya pendampingan terhadap petani secara berkelanjutan.

Keresahan tersebut memperlihatkan satu hal penting: persoalan petani di berbagai desa memiliki pola yang serupa.

Karena itu, pertemuan tidak berhenti pada proses berbagi cerita mengenai persoalan masing-masing desa. Para petani mulai membicarakan kebutuhan untuk membangun sebuah wadah bersama yang mampu menghimpun keresahan, memperkuat semangat kolektif, mengembangkan usaha, membangun koordinasi, dan melakukan advokasi kebijakan yang berpihak kepada petani.

Belajar dari Sejarah dan Membangun Kesadaran Kritis

Pada hari pertama, kegiatan dibuka oleh CO Gemawan, Chariyandika, kemudian dilanjutkan dengan sejumlah materi yang diarahkan untuk membangun pemahaman dan kesadaran kolektif peserta.

Heru dari Gemawan menyampaikan materi “Sejarah Gerakan Tani di Indonesia”. Materi ini menjadi penting karena gerakan petani hari ini tidak berdiri dalam ruang kosong. Perjuangan petani memiliki sejarah panjang dalam menghadapi berbagai bentuk ketimpangan penguasaan sumber daya, kebijakan, pasar, dan akses terhadap kehidupan yang layak.

Selanjutnya, Aldo Topan R. dari SIS menyampaikan materi “Aksi Massa dan Negosiasi”, yang membahas pentingnya memahami berbagai bentuk aksi dan strategi negosiasi sebagai bagian dari perjuangan organisasi.

Materi kemudian dilanjutkan dengan “Membangun Kolektivitas Petani untuk Memperkuat Ketahanan Ekonomi Menuju Cita-Cita Kedaulatan Pangan” yang disampaikan oleh Riki E.

Jaka Kembara menyampaikan materi “Membangun Kesadaran Kritis Melalui Analisis Sosial, Pohon Masalah dan Pohon Solusi”, sementara Irwansyah menyampaikan materi “Komunikasi Partisipatif untuk Penyuluhan dan Transfer Pengetahuan di Internal Serikat.”

Sementara itu, Sutaji menyampaikan materi “Menulis bagi Petani untuk Kampanye Publik serta Penguatan Kapasitas Internal.”

Rangkaian materi tersebut tidak hanya ditempatkan sebagai proses transfer pengetahuan dari pemateri kepada peserta. 

Selama kegiatan berlangsung, peserta aktif bertanya, berdialog, berdiskusi, serta mempresentasikan tugas-tugas yang dikerjakan secara kelompok maupun individual.

Proses tersebut memperlihatkan bahwa penguatan organisasi petani membutuhkan lebih dari sekadar pembentukan struktur. Ia membutuhkan kesadaran, pengetahuan, kemampuan membaca persoalan, kemampuan berkomunikasi, kemampuan melakukan negosiasi, serta kemampuan membangun kekuatan bersama.

Dari Jaringan Menuju Organisasi

Hari kedua menjadi momentum penting dalam proses pembentukan organisasi.

Kegiatan diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, dilanjutkan sambutan dari Heru dari Gemawan dan KATIMKER Roni Y.B.W. Selanjutnya, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Melawi, L. Budiyanto, menyampaikan sambutan sekaligus membuka kegiatan.

Proses kemudian berlanjut pada pembacaan dan penyepakatan agenda kongres serta tata tertib yang difasilitasi oleh Singlum dari SIS.

Dalam kongres tersebut kemudian dipilih pimpinan kongres dari lima desa. Mereka adalah:

Qinoy, utusan Desa Manggala;

Megi Suandi, Desa Nanga Nuak;

Tandi Rerong, Desa Sungai Bakah;

Didik Sukandi, Desa Tanjung Sari;

Iskandar, Desa Landau Garong.

Pimpinan kongres memiliki tugas untuk memimpin jalannya sidang kongres, menetapkan dan mengesahkan hasil pleno, serta menetapkan dan mengesahkan program kerja.

Sidang kemudian memasuki pembahasan Anggaran Dasar (AD), Program Kerja 100 Hari, dan rekomendasi eksternal.

Proses kemudian dilanjutkan melalui Pleno II dan III. Komisi digabung menjadi satu untuk membahas Garis Besar Haluan Organisasi (GBHO) dan pemilihan Ketua Kolektif di masing-masing desa melalui mekanisme musyawrah mufakat.

Dalam proses tersebut ditetapkan struktur kepemimpinan yang terdiri dari perwakilan lima desa:

Ahmad Ramsyah, perwakilan Desa Nanga Nuak;

Renaldi, perwakilan Desa Tanjung Sari

Sumarno, perwakilan Desa Landau Garong;

Elisabet, perwakilan Desa Sungai Bakah;

Temotius Zakariya, perwakilan Desa Manggala.

Proses tersebut kemudian mencapai puncaknya melalui Deklarasi Pembentukan Persatuan Petani Kabupaten Melawi (P2KM).

Deklarasi tersebut bukan sekadar perubahan nama dari sebuah jaringan menjadi organisasi. Ia merupakan upaya untuk mengubah keresahan yang selama ini dirasakan secara individual menjadi kekuatan yang diorganisir secara kolektif.

P2KM dan Jalan Panjang Perjuangan Petani

Pembentukan P2KM harus dilihat sebagai sebuah awal, bukan akhir.

Persatuan tidak otomatis menyelesaikan persoalan petani. Organisasi hanya akan memiliki arti apabila mampu menjawab persoalan nyata yang dihadapi anggotanya. Harga produksi, akses terhadap modal, sarana produksi, pasar, distribusi, pendampingan, hingga kebijakan pemerintah merupakan persoalan yang membutuhkan kerja organisasi secara berkelanjutan.

Di sinilah tantangan P2KM ke depan.

P2KM perlu membangun organisasi yang tidak hanya kuat secara struktur, tetapi juga kuat dalam kerja-kerja ekonomi dan advokasi. Petani harus memiliki ruang untuk belajar, berdiskusi, menyusun kebutuhan bersama, membangun usaha kolektif, memperkuat akses pasar, dan pada saat yang sama mampu menyampaikan kepentingannya kepada pemerintah maupun pihak-pihak lain yang memiliki hubungan dengan kehidupan petani.

Kekuatan organisasi juga tidak boleh hanya bergantung pada beberapa orang. Jika organisasi ingin menjadi alat perjuangan petani, maka pengetahuan, kepemimpinan, dan kemampuan mengambil keputusan harus tumbuh di antara anggota.

Sebab, tujuan akhir dari kolektivitas bukan sekadar membuat petani lebih banyak berkumpul. Tujuan utamanya adalah mengubah posisi petani dari pihak yang selalu menerima keadaan menjadi pihak yang mampu menentukan arah perjuangannya sendiri.

Persoalan kapitalisme yang dihadapi petani memang bersifat besar, struktural, dan tidak dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Namun, perubahan juga tidak akan dimulai apabila setiap petani terus berjalan sendiri-sendiri.

Dari lima desa di Kabupaten Melawi, sebuah langkah telah dimulai. Keresahan yang sebelumnya tersebar mulai dipertemukan. Pengalaman mulai dipertukarkan. Pengetahuan mulai dibangun. Dan dari proses tersebut lahir sebuah organisasi: Persatuan Petani Kabupaten Melawi (P2KM).

Pada akhirnya, kekuatan petani tidak hanya terletak pada luas lahan yang mereka kelola atau banyaknya hasil produksi yang mereka hasilkan. Kekuatan petani juga terletak pada kemampuan mereka untuk bersatu, mengorganisir diri, membangun solidaritas, dan memperjuangkan kepentingannya secara bersama-sama.

Dari keresahan menuju kesadaran.

Dari kesadaran menuju organisasi.

Dari organisasi menuju kekuatan kolektif petani.

Itulah pekerjaan panjang yang kini berada di hadapan P2KM.

Our Social Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *