(Oleh: Petani Landau Garong/ Sintiya Priguna, jam’ah, Sumarno, Iskandar, Derais)
Di belakang kampung terdapat beberapa petak sawah, diantaranya milik pak Udin yang di pinjam oleh bu Itam untuk di garap.
Bu Itam sangat cermat dalam merawat padinya, dia tidak membiarkan rumput liar tumbuh di sawah itu. Di setiap sudut dan titik tertentu di sawah itu di buatnya orang-orangan sawah untuk mengusir burung.
Setelah beberapa bulan padi itu pun tumbuh subur dan hampir berbuah, tiba saatnya untuk bu Itam memberikan pupuk buah agar padi berbuah lebat. Sesuai dengan harapan bu Itam, padi itu pun berbuah lebat.
Namun, ketika padi hendak menguning, padi itu pun banyak yang tumbang karena tak mampu menahan berat buah padi dan di tambah musim hujan yang disertai angin membuat batang padi tidak kuat dan tumbang. Menyadari hal itu, bu Itam menjadi resah karena sawah itu dekat perkampungan yang memungkinkan padinya menjadi sasaran ayam-ayam kampung yang hidup bebas tanpa di kandang.
Ia berusaha mengumpulkan bambu untuk membuat pagar untuk menghalangi ayam masuk ke sawah, namun sebelum ia menyelesaikan pembuatan pagar itu, padi yang sudah menguning dan siap di panen itu pun sudah diserbu oleh rombongan ayam kampung yang lapar itu.
Karena banyaknya ayam yang datang ke sawah, padi yang berdiri pun tak luput dari serbuan ayam, alhahasil padi bu Itam pun hampir sebagian rusak akibat serangan ayam kampung yang tidak hanya makan namun juga merusak.
Musim panen telah tiba, ada rasa kecewa namun tak berdaya, bu Itam hanya bisa pasrah dan dengan kemampuan seadanya untuk mengatasi ayam-ayam kampung yang tiba-tiba menjadi hama tak terduga.