Ulurkan Tangan Beri Dukungan-50kb

(Oleh: Al-Fakir)

Ketika seseorang sedang “tenggelam”, itu bukan waktu yang tepat untuk mengajarinya cara berenang.

Tapi ini bukan tenggelam di dalam air.

Kalimat ini mengajarjan kita tentang empati pada saat yang tepat. Ada waktu untuk menasihati, ada waktu untuk mendidik, tapi ada pula saat dimana yang paling di butuhkan hanyalah uluran tangan.

Bayangkan seseorang yang sedang tenggelam dilaut. Ia panik, kehilangan tenaga, dan berjuang sekedar untuk menghirup napas. Dimomen itu, teori berenang tidak akan menolongnya. Yang ia butuhkan hanyalah seseorang yang segera menolongnya keluar dari air.

Begitu juga dalam hidup: orang yang sedang berada di titik terendah, yang terjebak dalam masalah besar, atau dilanda duka yang mendalam, bukan butuh wejangan panjang, melainkan kepedulian yang nyata.

Sayangnya, kita sering terjebak dalam respon yang salah. Kita terlalu cepat memberi nasihat, menghakimi, bahkan berkata; “seharusnya kamu begini, seharusnya kamu begitu.” Padahal orang yang sedang terpuruk tidak butuh beban tambahan berupa kalimat “seharusnya.” Yang mereka butuhkan adalah seseorang yang berkata: “Aku ada disini untukmu. Aku siap mendengarkan. Aku akan menemanimu.”

Setelah mereka selamat, barulah pelajaran bisa disampaikan.

Setelah luka mereda, barulah ada ruang untuk menerima nasihat. Waktu yang tepat menjadikan nasihat bermanfaat, sementara waktu yang salah justru membuat luka semakin dalam.

Maka mari belajar peka terhadap situasi. Kadang, menyelamatkan lebih penting daripada mengajarkan. Menjadi telinga mendengar lebih bernilai daripada menjadi mulut yang menasihati. Dan seringkali, kehadiran yang tulus lebih menyembuhkan daripada kata-kata bijak.

Barakallahu fiikum aj’main.

Sekedar motivasi, sudut sempit sukamiskin

Our Social Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *