Namaku Bowo. Usia 32 tahun. Status: pengangguran baru. Resmi di-PHK via email jam 2 pagi, lengkap dengan GIF kucing menangis—benar-benar efisiensi yang kreatif. Alasannya? Perusahaan butuh penyesuaian struktural. Padahal yang baru beli Alphard dan renovasi ruangannya jadi ala hotel bintang lima, ya bos juga. Tapi kami yang disapu, bukan karpet merah di kantornya. Sekarang hidupku bebas: bebas bangun siang, bebas nggak dengerin meeting Zoom, dan bebas dari gaji bulanan. Alarm sudah pensiun, karena bangun pagi sudah bukan keharusan. Sarapan pun kembali ke tradisi leluhur: nasi semalam yang dihangatkan. Nggak ada lagi croissant dan kopi kekinian, sekarang cukup nasi putih dan sambal sachet. Ibu masih berharap, “Kapan kamu kerja lagi, Nak?” Dan aku jawab dengan kalimat nasionalis: “Menunggu lapangan kerja, Bu.” Padahal yang dibuka sekarang bukan lapangan kerja, tapi lapangan kampanye buat calon-calon yang lupa jalan ke pabrik.
Di TV, menteri ekonomi bilang ekonomi Indonesia kuat. Aku percaya—kuat membuat rakyatnya tekuk lutut. Startup tempatku kerja dulu bilang mereka akan scale-up, ternyata yang di-scale cuma PHK-nya. Aku coba daftar kartu prakerja, tapi gagal. Katanya kuota penuh. Mungkin karena dipakai para influencer buat belajar “personal branding”, bukan tukang las yang kehilangan bengkel. Aku coba ikut pelatihan online dari pemerintah. Tutorialnya ngajarin cara bikin CV dan Excel dasar. Sementara di dunia nyata, HR sudah pakai AI buat sortir lamaran. Saya? Masih bingung bedain filter SUM dan VLOOKUP. Pernah iseng bikin konten YouTube. Judulnya: “Tutorial Menganggur Dengan Sopan.” Viewers-nya cuma 12, dan empat di antaranya aku sendiri. Monetisasi? Jangan mimpi. Teman nyuruh daftar jadi driver ojol, tapi aku cuma punya sepeda. Itu pun pinjaman. Mau beli motor, tapi harga bensin sekarang kayak saham: naik terus tanpa aba-aba.
Aku ikut demo kenaikan harga bahan pokok. Pesertanya cuma lima orang. Sisanya sibuk scroll TikTok dan cari cuan lewat jualan filter wajah glowing. DPR sibuk bahas revisi UU, tapi bukan UU perlindungan pekerja. Yang dibahas justru UU yang bikin mereka aman tidur siang. Katanya, “Anak muda Indonesia harus kreatif!” Saya sudah kreatif, Pak. Jualan kopi literan, admin grup WA RT, bahkan pernah jadi joki tugas anak tetangga. Tapi tetap kalah kreatif sama oknum yang bisa mark-up bansos dan lolos audit. Lowongan kerja sekarang ajaib: usia maksimal 27 tahun, pengalaman lima tahun, bisa kerja di bawah tekanan, gaji UMK. Saya 32 tahun, pengalaman kerja bertahan hidup di bawah tekanan tagihan.
Ikut CPNS? Pernah. Lolos administrasi, gugur di TWK gara-gara ditanya sejarah BUMN yang bahkan aku nggak tahu masih aktif atau nggak. Di TV, lagi-lagi disebut ekonomi tumbuh. Tapi di warung, harga minyak goreng dan cabe kayak ikut balapan MotoGP. Saya? Gajinya kalah dari tukang parkir Indomaret. Sekarang saya bantu-bantu tetangga. Jaga warung, antar paket. Dibayar pakai nasi bungkus dan senyuman. Ya sudahlah, setidaknya perut kenyang. Tahun ini, Indonesia bangga jadi tuan rumah konferensi internasional. Jalan mulus, drone terbang, hotel penuh. Tapi kami, pengangguran, cuma bisa nonton dari TV pinjaman. Katanya Indonesia Emas 2045. Tapi kami sekarang cuma jadi batu kerikil pembangunan. Dipijak, dilupakan, dianggap tidak ada.
Tapi saya masih bisa tertawa. Bukan karena lucu, tapi karena kalau tidak tertawa, mungkin saya sudah menangis. Hidup pengangguran 2025. Hidup kami—yang diam-diam bertahan di tengah data ekonomi yang katanya membaik, tapi realitanya makin menyesakkan. Dan hari ini saya masih di sini. Duduk di bangku taman, menatap langit Jakarta yang abu-abu, sambil mikir: mungkin saya memang pengangguran… tapi setidaknya saya masih manusia. Manusia yang tidak menyerah meski negara kadang lupa keberadaan kami.
Penulis: Aldo Topan Rivaldi