gbr4 (1)
Di Desa Permata, Kecamatan Terentang, banjir adalah tamu musiman yang kerap datang tanpa diundang. Terletak di dataran rendah yang dikelilingi sungai dan parit-parit alami, desa ini kini menghadapi pola banjir yang berubah: lebih sering, lebih mendadak, dan tak lagi mengikuti musim seperti dulu.

Di Desa Permata, Kecamatan Terentang, banjir adalah tamu musiman yang kerap datang tanpa diundang. Terletak di dataran rendah yang dikelilingi sungai dan parit-parit alami, desa ini kini menghadapi pola banjir yang berubah: lebih sering, lebih mendadak, dan tak lagi mengikuti musim seperti dulu. “Kalau ada kabar di hulu banjir, seminggu lagi di sini ikut banjir,” kata seorang warga. Informasi itu biasanya didapat dari obrolan dan pantauan di media sosial, tanpa sistem peringatan dini resmi.

Bagi warga, banjir bukan lagi sekadar bencana alam, tetapi bagian dari ritme hidup yang harus dihadapi. Namun, di balik adaptasi itu, perempuan memegang peran penting — meski selama ini jarang diakui dalam program penanggulangan bencana. Mereka menjaga agar kualitas hidup keluarga tetap terjaga: tidur yang nyaman, makan yang cukup, dan penghasilan yang tidak terhenti.

Hal itu terlihat jelas saat sesi Focus Group Discussion (FGD) dalam kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Mandiri yang diinisiasi Universitas Tanjungpura dan berkolaborasi dengan River Cities Network (RCN)–Kapuas, bertempat di Aula Kantor Desa Permata, Sabtu, 3 Agustus 2025. Dalam forum itu, ketika ditanya apa yang pertama kali diselamatkan saat banjir, ibu-ibu peserta menjawab: kasur. Alas tidur dianggap prioritas, karena menyangkut kenyamanan dan kesehatan keluarga, khususnya bayi dan anak-anak. Disusul kemudian surat-surat penting seperti akta lahir, ijazah, surat tanah, dan dokumen administrasi lain yang harus diamankan.

“Kalau tidur tetap nyaman dan makan tetap ada, banjir bukan hal yang terlalu menakutkan,” ujar salah satu peserta FGD. Ia menjelaskan, rumah warga umumnya sudah dibangun panggung sehingga jarang terendam. Tantangan terbesar justru gangguan pada aktivitas harian: memasak, menoreh getah, merawat kebun, memanen hasil, atau memancing kepiting. Banjir berarti penghasilan tertunda dan dapur sulit beroperasi normal.

Selain itu, ibu-ibu mengeluhkan pemadaman listrik saat banjir. Tanpa listrik, komunikasi terganggu karena ponsel tak bisa diisi daya, sinyal melemah, dan informasi sulit diakses. Mereka mengusulkan adanya catu daya alternatif untuk lampu, pengisian ponsel, dan menjaga koneksi internet. Mereka juga menyarankan dibuatnya grup WhatsApp khusus banjir sebagai jalur informasi cepat, meskipun kendala sinyal di desa masih menjadi PR besar.

Isu lain yang mencuat adalah soal hewan liar, khususnya ular, yang ikut terdampak banjir dan masuk ke permukiman. Warga menyadari bahwa ular juga korban bencana, tetapi interaksi dengan manusia bisa berbahaya. Karenanya, mereka menilai penting adanya pengetahuan mengenali jenis ular, cara pencegahan, penanganan gigitan, serta penyediaan obat anti-bisa dan desain rumah yang aman dari hewan melata itu.

Salah satu hasil menarik dari FGD adalah peta banjir yang dibuat langsung oleh ibu-ibu. Peta ini menunjukkan wilayah rentan banjir, area yang sering dilewati ular, dan titik-titik strategis untuk evakuasi. Meski mereka mengaku “tidak hafal titik lokasi pasti”, mereka tahu perkiraan wilayah rawan. Peta ini menjadi modal penting untuk menyusun strategi pemanfaatan ruang yang lebih adaptif.

gbr1 (2)
gbr2 (2)
Ket: Pembuatan peta rawan bencana banjir oleh ibu-ibu warga Desa Permata, Kecamatan Terentang, Kubu Raya.

Ketua tim PKM Mandiri ini, Dr. Mira Sophia Lubis — dosen Prodi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Fakultas Teknik Untan sekaligus Principal Investigator RCN–Kapuas — menegaskan bahwa tujuan program ini adalah menjadikan perempuan bukan sekadar penerima bantuan, melainkan penggerak utama dalam mitigasi banjir.

“Selama ini perempuan sering dianggap korban, padahal mereka punya pengetahuan praktis yang bisa menyelamatkan keluarga dan komunitas. Kami ingin mengangkat peran itu ke tingkat yang lebih strategis,” ujarnya.

Kegiatan ini melibatkan tim dosen dan mahasiswa Prodi PWK Untan, juga dihadiri oleh Kiki Prio Utomo, M.Sc, selaku Local Principal Investigator RCN–Kapuas, yang juga merupakan dosen Prodi Teknik Lingkungan UNTAN. Kolaborasi ini memperkaya perspektif teknis dan lingkungan dalam diskusi, terutama dalam memahami dinamika banjir dan dampaknya pada ekosistem lokal. Selain itu, dukungan mitra lokal yang dipimpin oleh Jamaludin, ST., M.Ling., Pendamping PKH Kubu Raya, turut memfasilitasi komunikasi dengan warga dan memastikan kegiatan berjalan sesuai konteks sosial desa.

gbr3 (1)
Ket: Tim dosen dan mahasiswa Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Tanjungpura, berfoto bersama Pak Jamaludin (paling kiri) selaku mitra lokal.
gbr5 (1)
Ket: Tim dosen dan mahasiswa Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Tanjungpura

FGD di Desa Permata berlangsung sekitar dua setengah jam di balai desa, difasilitasi dengan alat bantu visual yang mudah dipahami. Suasana dibuat santai agar warga bebas berbagi cerita dan ide. Seluruh prosesnya didokumentasikan dalam video singkat berdurasi 3–5 menit, yang memuat cuplikan diskusi, testimoni, dan pesan edukasi.

Dari forum ini, tergambar jelas bahwa strategi penanganan banjir yang dibutuhkan warga bukan semata pembangunan infrastruktur besar. Mereka menginginkan keselamatan, penghasilan yang tetap ada, dan kualitas hidup yang tidak menurun meski air menggenang. Artinya, fokusnya bukan hanya pada rumah atau perabotan, yang memang sudah disesuaikan dengan kondisi banjir, tetapi pada aktivitas harian yang mendasar, yaitu: tidur yang nyaman, dapur yang tetap mengepul, dan mata pencaharian yang terjaga.

Upaya seperti ini adalah langkah awal menuju Desa Permata yang benar-benar menempatkan perempuan sebagai garda depan ketangguhan kampung. Jalan masih panjang, tapi benihnya sudah ditanam, lewat percakapan, peta, dan kesadaran kolektif yang dibangun dari pengetahuan lokal mereka sendiri.

Penulis: Tim publikasi PKM mandiri PWK Untan

Our Social Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *