WhatsApp Image 2025-11-10 at 09.28.56
(Oleh: Aldo Topan Rivaldi) Ada satu kalimat yang, entah lucu entah getir, sering saya dengar dan sampai sekarang kadang masih bikin senyum miris: “Apa-apa aku ditolong senior.” Kalimat itu bisa diucapkan penuh sarkasme—seolah-olah bantuan selalu punya kadar pahit—atau justru diucapkan dengan nada syukur, mengingat tangan-tangan yang pernah menolong kita ketika dunia terasa sempit. Bagi saya, senioritas dalam organisasi bukan hitam-putih. Ia adalah spektrum: dari ketegasan yang mendisiplinkan sampai kelakuan yang menyakiti—dan di antara keduanya ada banyak hal yang membentuk siapa kita hari ini.

Oleh: Aldo Topan Rivaldi

Ada satu kalimat yang, entah lucu entah getir, sering saya dengar dan sampai sekarang kadang masih bikin senyum miris: “Apa-apa aku ditolong senior.” Kalimat itu bisa diucapkan penuh sarkasme—seolah-olah bantuan selalu punya kadar pahit—atau justru diucapkan dengan nada syukur, mengingat tangan-tangan yang pernah menolong kita ketika dunia terasa sempit. Bagi saya, senioritas dalam organisasi bukan hitam-putih. Ia adalah spektrum: dari ketegasan yang mendisiplinkan sampai kelakuan yang menyakiti—dan di antara keduanya ada banyak hal yang membentuk siapa kita hari ini.

Waktu kuliah, aktif di barisan Muhammadiyah — Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Pemuda Muhammadiyah, hingga MDMC — pengalaman “ditolong” senior datang dalam wujud yang aneh-aneh tapi berkesan. Saya ingat jelas, ada masa-masa ketika saya dipaksa memimpin event besar, dipaksa berani berorasi di depan massa, bahkan dipaksa memimpin masa aksi. Kalau ada kesalahan teknis, hukuman “seri” segera menunggu: satu ronde push-up 12 kali. Kalau kesalahannya lebih fatal, jumlah seri bertambah. Di satu latihan dinamika sidang, saya didandani sebagai pimpinan sidang yang harus menghadapi kekacauan palsu: kursi ‘terbang’, meja yang ‘patah’, dan yang paling absurd—ada yang membawa replika sajam. Atmosfer dibuat sedemikian mencekam sampai beberapa orang menangis, bahkan beberapa mahasiswi pingsang. Senior berteriak seolah-olah dunia benar-benar sedang runtuh.

Kalau dipikir sekarang, itu keras. Tapi ada sesuatu dari tekanan itu yang membentuk keberanian. Di momen ketika suara kita gemetar, ketika detak jantung rasanya mau copot, kita dipaksa menemui ketakutan itu—bukan untuk dipermalukan, setidaknya tidak selalu begitu—melainkan untuk dilatih: bagaimana menenangkan massa, bagaimana mengambil keputusan cepat, bagaimana berpidato dengan kepala tegak meski nyali kopong. Pengalaman itu, meski tak nyaman, lantas menjadi bekal nyata ketika nantinya saya dihadapkan pada situasi yang lebih berbahaya atau lebih menegangkan di dunia pekerjaan.

Di sekretariat—tempat yang sebenarnya penuh cinta tapi sering berantakan—posisi formal tidak selalu membebaskan. Saya pernah menjadi ketua, tapi ketika senior datang tetap saja saya mendapat giliran untuk membuat kopi, belanja ke warung, atau sekadar diminta membeli rokok. Lucunya, senior tak pernah meminta kembali uang kembalian. Dulu saya sering marah dalam hati, merasa diremehkan. Sekarang saya tertawa sendiri: mungkin itu cara mereka memberi “saku” tanpa harus terlihat memberi. Mereka tahu saya butuh makan; mereka tahu saya butuh uang saku. Cara mereka mungkin kasar, tapi niatnya yang sering kali menyelamatkan.

Di dunia NGO, perlakuan “dipaksa” berwujud revisi laporan yang berulang-ulang. Saya pernah membuat laporan dari pagi sampai pagi lagi, berhari-hari, hingga hampir tak ingat nama sendiri. Waktu itu sakit, lelah, dan jengkel setengah mati. Namun ketika saya membuka arsip lama dan membaca hasil kerja itu, saya tertawa getir—laporan itu terlihat seperti dibuat oleh anak TK. Tapi lihat sekarang: kemampuan menulis, menyusun argumen, menyajikan data—semua itu berkembang karena paksaan itu. Senior memaksa saya ikut pelatihan, memaksa saya menulis minimal satu tulisan per bulan. Awalnya saya membenci prosesnya; lama-lama saya kecanduan membaca, menulis, mengomentari peristiwa. Ketika suatu waktu saya mendapat pekerjaan yang menuntut penyusunan dokumen teknis (misal: perencanaan tataguna lahan perhutanan sosial), saya bisa mengerjakannya karena terbiasa dituntut untuk menulis sejak dulu.

Bantuan senior juga datang dalam bentuk yang sangat praktis: pekerjaan. Setiap kali mereka mendapat peluang—tim survei, enumerator, penelitian—mereka cenderung menominasikan junior-junior yang sedang menganggur. Mereka melobi, memberi referensi, menasihati. Pernah, ketika dompet saya tinggal Rp3.000 dan masa kerja selesai, ada senior yang diam-diam transfer—kata mereka, “titipan jajan.” Ada yang meminjamkan rumah, atau menawari kostan dengan harga yang jauh di bawah pasaran. Di masa-masa yang terasa seperti “ospek kehidupan”, banyak kali tangan-tangan seniorlah yang membantu saya bertahan.

Jujur, saya menyadari: tanpa “galak”-nya senior-senior itu—tanpa terbentur, tanpa dipaksa, tanpa dimaki karena sekretariat berantakan—mungkin saya tidak akan berdiri di posisi saya hari ini. Mereka bukan malaikat; mereka juga tidak sempurna. Ada pengalaman yang menyakitkan, ada perlakuan yang melampaui batas—fisik atau emosional—yang tidak bisa kita legitimasikan. Tapi ada juga banyak cinta yang tersamar di balik teriakan, banyak bantuan yang disalurkan dengan cara-cara aneh.

Kalau harus memberi penilaian, saya ingin dua-duanya: mengakui sisi positif senioritas — disiplin, transfer keterampilan, jaringan, dan perlindungan — sambil tetap menegaskan batas. Senior yang baik membimbing tanpa menghancurkan, menuntut tanpa merendahkan, memberi tugas yang membangun bukan menyakiti. Bentuk-bentuk senioritas sehat yang saya bayangkan sederhana: jelasnya konteks, persetujuan (atau paling tidak penjelasan), tidak ada hukuman fisik yang melukai, dan saluran untuk umpan balik. Rotasi tugas, mentoring berstruktur, dan perhatian tulus pada kesejahteraan junior bisa mengubah praktik “dipaksa” menjadi proses pembelajaran yang bermartabat.

Di ujungnya, tulisan ini adalah ungkapan terima kasih. Saya berterima kasih kepada mereka yang memaksa saya menulis sampai saya jadi penulis kecil yang percaya diri, kepada mereka yang memaksa saya berorasi sampai saya tak lagi gemetar, kepada mereka yang memberi pekerjaan, pinjaman, bahkan sekeping uang yang diselipkan seperti rahasia kebajikan. Saya percaya, rezeki, jodoh, dan maut di tangan Allah SWT—tetapi kadang-kadang kuasa itu lewat tangan manusia yang berani bertanya, “Kau butuh apa?” dan kemudian bertindak, meski caranya berantakan.

Senioritas, bagi saya, bukan warisan otoritas semata. Ia adalah cerita—cerita keras, lucu, manis, menyakitkan—yang menenun keberanian, keterampilan, dan rasa syukur dalam diri kita. Bila kita boleh berdoa, saya berharap generasi senior berikutnya bisa menolong dengan lebih bijak: tegas tanpa kasar, memaksa tanpa merusak, memberi tanpa membuat malu. Karena pertolongan yang baiklah yang membuat seorang junior kelak menjadi senior yang lebih manusiawi.

Our Social Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *