(Oleh: Al – Fakir)
Banyak orang-orang yg ujiannya lebih berat, tapi tidak seber-isik’ kita. Dan dari mereka kita belajar ” diam” yang paling menguatkan.
Ada yang di uji habis-habisan, tapi lisannya tetap terjaga.
Tangisannya tidak terdengar, keluhnya tidak diumbar.
Hanya hatinya yang sibuk mengadu pada Allah.
Sementara kita, sedikit goyah saja sudah riuh.
Sedikit kesulitan sudah ingin menyerah
Padahal banyak orang yang menahan pilu lebih sakit dari kita, tetapi tetap berdiri karena Allah.
Firman Allah ;
“Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah 155)
Allah sendiri yang memuliakan kesabaran.
Kesunyian yang kita tahan, air mata yang kita sembunyikan, semuanya dilihat dan dihargai oleh Allah tanpa terlewat.
Terkadang diam kita dalam ujian adalah tanda kuatnya iman.
Bukan karena kita tidak sakit, tapi karena kita memilih mengadu pada Dzat yang tidak pernah mengecewakan.
Sabda Rasulullah ;
“Barang siapa berusaha bersabar, Allah akan menjadikannya sabar.”(HR. Bukhari no.1469)
Kesabaran itu bukan bawaan lahir- Allah yang menganugerahkannya kepada hamba yang mau berusaha menahan diri.
Kita tidak tahu betapa beratnya beban orang lain.
Namun dari mereka kita belajar….bahwa ketenangan bukan datang dari kondisi tapi dari cara kita bergantung kepada Allah.
Sabar yang diam itu bukan tanda lemah, itu bukti bahwa hatimu sedang Allah jaga, agar tidak mencari pengakuan manusia tetapi pertolongan dari langit.
Jika ujian kita terasa riuh, tenangkanlah dirimu.
Allah tahu segalanya, bahkan sebelum kamu menangis.
Sungguh. bersabar itu tidak mudah, tapi pahalanya tidak pernah sia-sia.
Marilah kita belajar menenangkan hati, menguatkan ikhlas dan menerima takdir dengan sabar dan lebih lapang, dekat kepada Allah.
Barrakallahu fikum aj’main.
Sukamiskin,