(Foto Ilustrasi: IDN Times)
(Foto Ilustrasi: IDN Times)
(Oleh : Mei Purwowidodo)
Sudah beberapa kali, tanpa sengaja, saya mendengar kekaguman warga luar Kalimantan Barat terhadap perkembangan Kota Pontianak.
Mereka menilai kota ini tumbuh pesat, tertata rapi, enak dinikmati, dan nyaman dikunjungi. Kerindangan pepohonan di sejumlah ruas jalan memberi kesan sejuk, menjadikan Pontianak terasa ramah bagi siapa pun yang datang.
Dalam perspektif kepemimpinan, peran Wali Kota Edi Kamtono yang tampak bekerja dalam diam, tetapi dengan arah yang cukup jelas: ke mana Pontianak hendak dibawa.
Sebagai kota perdagangan, Pontianak memang perlu memiliki daya tarik, bukan hanya sebagai pusat transaksi ekonomi, tetapi juga sebagai ruang hidup yang layak, nyaman, dan berkelas. Di titik ini, upaya penataan kota yang konsisten patut diapresiasi.
Namun, secara objektif, pembenahan masih perlu dilanjutkan. Persoalan genangan air, misalnya, masih menjadi pekerjaan rumah yang serius. Kontur tanah Pontianak yang rendah terhadap permukaan air menuntut pemikiran dan tindakan yang lebih sistematis, mulai dari sistem drainase, tata ruang, hingga pengendalian pembangunan agar tidak memperparah kondisi eksisting.
Soal kebersihan kota, kemajuan sudah terlihat. Tetapi kesadaran warga masih perlu terus diedukasi. Kota seindah apa pun akan sulit dipertahankan jika perilaku warganya belum sepenuhnya selaras. Pontianak yang bersih, tertib, dan hijau akan semakin sedap dipandang dan menyejukkan mata.
Tantangan berikutnya adalah kepadatan lalu lintas. Jika tidak cepat diantisipasi, kemacetan bisa menjadi “penyakit” baru kota ini. Pengaturan jam masuk sekolah dan jam kerja yang lebih fleksibel dan terkoordinasi layak dipertimbangkan.Demikian pula pengembangan moda angkutan massal yang efektif, terjangkau, dan nyaman agar ketergantungan pada kendaraan pribadi dapat ditekan.
Bila berbagai persoalan ini dapat diurai satu per satu, Pontianak berpeluang besar menjadi kota pilihan bagi warga luar untuk berkunjung saat akhir pekan.
Di situlah identitas Pontianak sebagai kota perdagangan sekaligus kota tujuan wisata urban akan benar-benar menemukan bentuknya: hidup, produktif, dan membanggakan.