ChatGPTImage3Feb202612.16.0

Oleh: Tri Budiarto (1422/KT/77)

(Ketua Umum Senat Mahasiswa Fahutan UGM, Periode: 1980-1982)


Dibawah rumpun bambu yang lebat dan wingit

Sejumlah lelembut berdebat sengit

Kadang teriak, kadang terbahak bahkan ada yang menangis

Mereka bincangkan peristiwa tragis


Semua duduk bersila di atas nisan kuburan tua

Si rambut gimbal memegang palu, memimpin sidang

Si mata merah berapi-api jelaskan fakta bernama bencana

Si lidah panjang tertawa, tak jelas makna 


Lihat itu sebelah sana….., teriaknya dengan garang 

Ratusan orang meregang nyawa

Tertimpa pohon dan tergilas muntahan batu berbalut lumpur

Tak mungkin dikenali satu-persatu


Semua yang tewas, orang miskin desa yang baik hati

Mereka tak pernah ganggu hutan tutupan yang kita jaga

Hanya ambil kayu bakar dan pucuk pakis belaka

Sangat menjaga alam dan hormati kehidupan kita, sejak beribu tahun 


Terkadang alam bisa berbuat tak adil

Orang baik jadi martir, mereka tumbal dari bencana

Perusak hutan duduk anggun, menghitung kepingan harta

Lelembut-pun bertambah rasa kecewa


Lelembut geram menahan marah dan dendam

Hutan tutupan  itu rumah kita

Sekarang hancur tinggal cerita dan air mata

Lelembutpun kehilangan istana wingitnya


Aroma jasad membusuk mulai terendus kuat 

Dihirup lelembut saat merasa lapar 

Sekarang aroma itu tidak lagi menjadi makanannya

Lelembut inginkan darah segar, dari jazad para perusak alam


Pasukan lelembut juga punya hati dan rasa

Para lelembut juga sahabat alam dan orang miskin desa

Masyarakat lelembut murka ketika tempat bermainnya sudah berserak 

Kerajaan lelembut akan  mencari para perusak semesta, sampai ke pintu neraka


(Jakarta, 29 Januari 2026)

Our Social Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *