Oleh: Tri Budiarto (1422/KT/77)
(Ketua Umum Senat Mahasiswa Fahutan UGM, Periode: 1980-1982)
Dibawah rumpun bambu yang lebat dan wingit
Sejumlah lelembut berdebat sengit
Kadang teriak, kadang terbahak bahkan ada yang menangis
Mereka bincangkan peristiwa tragis
Semua duduk bersila di atas nisan kuburan tua
Si rambut gimbal memegang palu, memimpin sidang
Si mata merah berapi-api jelaskan fakta bernama bencana
Si lidah panjang tertawa, tak jelas makna
Lihat itu sebelah sana….., teriaknya dengan garang
Ratusan orang meregang nyawa
Tertimpa pohon dan tergilas muntahan batu berbalut lumpur
Tak mungkin dikenali satu-persatu
Semua yang tewas, orang miskin desa yang baik hati
Mereka tak pernah ganggu hutan tutupan yang kita jaga
Hanya ambil kayu bakar dan pucuk pakis belaka
Sangat menjaga alam dan hormati kehidupan kita, sejak beribu tahun
Terkadang alam bisa berbuat tak adil
Orang baik jadi martir, mereka tumbal dari bencana
Perusak hutan duduk anggun, menghitung kepingan harta
Lelembut-pun bertambah rasa kecewa
Lelembut geram menahan marah dan dendam
Hutan tutupan itu rumah kita
Sekarang hancur tinggal cerita dan air mata
Lelembutpun kehilangan istana wingitnya
Aroma jasad membusuk mulai terendus kuat
Dihirup lelembut saat merasa lapar
Sekarang aroma itu tidak lagi menjadi makanannya
Lelembut inginkan darah segar, dari jazad para perusak alam
Pasukan lelembut juga punya hati dan rasa
Para lelembut juga sahabat alam dan orang miskin desa
Masyarakat lelembut murka ketika tempat bermainnya sudah berserak
Kerajaan lelembut akan mencari para perusak semesta, sampai ke pintu neraka
(Jakarta, 29 Januari 2026)