(Oleh : Mei Purwowidodo)
Kembali masyarakat Kalimantan Barat, khususnya Kota Singkawang dan Pontianak, menunjukkan kedewasaan sosialnya.Pada hari kelima belas Tahun Baru Imlek, Selasa 3 Maret 2026, perayaan Cap Go Meh berlangsung sukses dan penuh kemeriahan.
Arakan naga sebagai bagian dari tradisi budaya Tionghoa digelar bertepatan dengan bulan suci Ramadan. Momentum ini menjadi ujian sekaligus pembuktian bahwa toleransi di Kalbar bukan sekadar narasi, melainkan realitas yang hidup di tengah masyarakat.
Tanpa gesekan, tanpa riak yang berarti, seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman dan tertib. Ini adalah capaian peradaban.
Perayaan yang dipusatkan di Singkawang kembali menjadi magnet nasional bahkan internasional. Sejumlah tokoh nasional dan menteri hadir.
Para pengusaha besar asal Singkawang pulang kampung, memperlihatkan ikatan emosional yang kuat dengan tanah kelahiran. Wisatawan mancanegara pun memadati kota tersebut.Hotel dan homestay penuh, penerbangan dari Jakarta menuju Singkawang dilaporkan penuh penumpang. Perputaran ekonomi bergerak signifikan.
Singkawang semakin menegaskan dirinya sebagai kota pariwisata budaya yang diperhitungkan.
Cap Go Meh bukan lagi milik satu etnis, tetapi telah menjadi perayaan bersama lintas ras dan agama. Seluruh elemen masyarakat terlibat, berbaur, dan saling menjaga.
Dari perspektif pembangunan daerah, ini adalah modal sosial yang sangat mahal nilainya.Stabilitas dan harmoni adalah fondasi utama bagi investasi, pariwisata, dan pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Toleransi yang terawat akan menghadirkan rasa aman, dan rasa aman melahirkan kepercayaan.
Selamat bagi seluruh warga Kalimantan Barat. Semoga harmoni ini terus terjaga demi masa depan Kalbar yang aman, sentosa, dan semakin bermartabat di mata dunia.