logo-dies-natalis (1)

(oleh: M. Hermayani Putera)

Hari ini, 20 Mei 2026, Universitas Tanjungpura (UNTAN) genap berusia 67 tahun. Ini bukan sekadar penanda usia sebuah institusi pendidikan tinggi, namun sekaligus momentum untuk membaca ulang arah sejarah, peran sosial, dan tanggung jawab masa depan kampus di tengah dunia yang semakin rapuh.

Selama puluhan tahun, UNTAN tumbuh bersama denyut kehidupan Kalimantan Barat, turut menjadi bagian dari perubahan sosial, ekonomi, budaya, hingga dinamika ekologis yang terus bergerak. Namun hari ini, ketika dunia memasuki abad penuh ketidakpastian, pertanyaan pentingnya bukan lagi: seberapa besar kampus telah berkembang? Melainkan: sejauh mana kampus mampu menghadirkan masa depan yang lebih baik bagi kehidupan?

Dunia sedang menghadapi krisis yang saling terhubung. Perubahan iklim, hilangnya biodiversitas, ancaman pangan, krisis air, polusi, dan ketimpangan sosial bukan lagi isu abstrak yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Intergovernmental Panel on Climate Change dalam AR6 Synthesis Report (2023) menegaskan bahwa perubahan iklim telah menyebabkan “gangguan luas terhadap sistem alam dan kehidupan manusia.” Sementara Food and Agriculture Organization mengingatkan bahwa sistem pangan global menghadapi tekanan serius akibat degradasi lingkungan dan keterbatasan sumber daya alam.

Dalam situasi seperti itu, perguruan tinggi tidak cukup hanya menjadi pusat produksi pengetahuan dan pencetak lulusan. Kampus dituntut menjadi ruang transformasi—tempat lahirnya solusi nyata, laboratorium masa depan, dan simpul kolaborasi lintas sektor.

Cara pandang terhadap kampus karena itu perlu berubah.

Kampus bukan sekadar kumpulan gedung kuliah, laboratorium, dan ruang administrasi. Kampus adalah sistem sosial-ekologis: ruang hidup tempat manusia, ilmu pengetahuan, budaya, teknologi, dan alam saling memengaruhi dalam hubungan yang dinamis. Pemikiran Elinor Ostrom tentang social-ecological systems mengingatkan bahwa keberlanjutan tidak mungkin dicapai jika manusia dan lingkungan dipisahkan sebagai entitas yang berdiri sendiri. Masa depan hanya dapat dibangun ketika institusi, masyarakat, dan ekosistem dipahami sebagai satu kesatuan yang saling terhubung.

Pada saat yang sama, Johan Rockström melalui konsep planetary boundaries memperingatkan bahwa dunia sedang mendekati batas-batas ekologis yang dapat mengancam keberlangsungan peradaban manusia. Krisis ekologis bukan ancaman masa depan; ia bahkan sudah hadir hari ini dalam bentuk banjir, kekeringan, konflik sumber daya, hingga kerentanan pangan.

Karena itu, kampus masa depan tidak boleh berdiri jauh dari realitas masyarakat.

Kampus perlu menjadi living laboratory—laboratorium hidup tempat mahasiswa, dosen, peneliti, komunitas, pemerintah, masyarakat sipil, dan pelaku usaha melakukan co-creation untuk menghadirkan solusi nyata. Di sana teori diuji oleh kenyataan, dan kenyataan diperkaya oleh ilmu pengetahuan. Pendidikan tidak berhenti di ruang kelas, tetapi hidup dalam praktik sosial dan ekologis sehari-hari.

Dalam konteks Kalimantan Barat, gagasan ini menjadi sangat relevan. UNTAN berada di jantung Borneo, salah satu kawasan tropis terpenting di dunia. Wilayah ini menyimpan hutan hujan tropis, lahan gambut, sungai, kawasan pesisir, serta kekayaan keragaman hayati dan pengetahuan lokal yang luar biasa. Namun di wilayah yang sama, tekanan ekologis juga semakin besar: deforestasi, kerusakan gambut, krisis tata air, dan ketimpangan pembangunan.

Karena itu, masa depan UNTAN tidak cukup hanya menjadi “kampus besar”. UNTAN perlu mengambil peran lebih strategis sebagai Tropical Living Ecosystem Campus—kampus berbasis ekosistem tropis yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi, kearifan lokal, dan aksi nyata dalam satu sistem kehidupan yang utuh.

Dalam model ini, kampus dipahami sebagai miniatur dunia nyata (microcosm), tempat berbagai tantangan masa depan dipelajari dan diuji secara langsung. Ketahanan pangan tidak berhenti sebagai teori, tetapi diwujudkan melalui pengembangan pangan lokal, agroforestry, dan inovasi sistem pangan tropis. Ketahanan air diterapkan melalui konservasi tata air dan pengelolaan sungai berbasis ekosistem. Energi terbarukan dikembangkan tidak hanya sebagai wacana akademik, tetapi juga sebagai praktik sosial yang dapat diakses masyarakat.

Namun transformasi besar tidak mungkin lahir dari kampus yang berjalan sendiri.

Perguruan tinggi masa depan bukan menara gading yang eksklusif, melainkan simpul kolaborasi yang terhubung dengan komunitas, masyarakat adat, organisasi masyarakat sipil, pelaku usaha, pemerintah, dan jejaring internasional. Dalam kerangka itu, gagasan tentang Tropical Living Ecosystem Summit menjadi penting sebagai ruang perjumpaan lintas pengetahuan dan lintas generasi untuk membicarakan masa depan kawasan tropis secara lebih adil dan berkelanjutan.

Dari Pontianak, dari jantung Borneo, UNTAN memiliki peluang besar untuk menjadi ruang dialog global tentang masa depan manusia dan ekosistem tropis dunia. Mungkin justru dari sini dunia kembali belajar bahwa kemajuan tidak selalu berarti menjauh dari alam, namun sebaliknya menemukan kembali cara hidup yang mampu menjaga keseimbangan antara pengetahuan, kemanusiaan, dan keberlanjutan kehidupan.

Our Social Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *