(Oleh: Al-fakir)
Kadang kita merasa lelah, bukan karena hidup terlalu berat, tapi karena terlalu sibuk ingin disukai semua orang.
Tidak menyusahin orang lain saja…itu sudah hebat.
Yang paling penting bukan penilian manusia, tetapi bagai mana kita dihadapan Allah Azza wa Jalla.
Yang paling melelahkan itu bukan dibenci manusia, tetapi hidup demi penilian manusia.
Ada orang yg merasa capek, bukan karena kerja kerasnya, tapi karena terus berusaha terlihat “baik” dimata semua manusia.
Padahal, semakin kita ingin disukai semua orang semakin kita kehilangan diri kita sendiri.
Dan yang lebih menyakitkan, kita semakin jauh dari Allah, Rabb yang jiwa kita ada dalam genggaman- Nya.
Firman Allah, ( qs.Ali Imran, 134 ) ;
“Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik”.
Yang Allah nilai bukan seberapa banyak orang menyukai kita, tapi seberapa tulus kebaikan kita, meski tak terlihat manusia.
Tidak semua orang memahami kita.
Tidak semua orang menerima kita.
Yang penting Allah tahu niat kita.
Rasulullah bersabda;
“Termasuk baiknya islamnya seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.”(HR.Tarmidzi-hasan sahih)
Fokuslah pada memperbaiki diri, bukan sibuk mengatur penilaian orang lain.
Tenang itu bukan saat semua orang memuji kita, tapi saat hati kita tidak lagi bergantung pada pujian.
Kita tidak perlu jadi sempurna untuk terlihat baik dimata manusia.
Cukup jadi hamba yang terus memperbaiki diri dihadapan Allah Sang Pencipta.
Jangan habiskan hidup kita untuk membuktikan sesuatu kepada manusia, yang tidak bisa menentukan surga dan neraka kita.
Kadang, kita lelah bukan karena hidup kita berat, tapi karena kita terlalu banyak memikirkan komentar dan penilian orang.
Belajar untuk cukup;
Cukup tidak menyakiti,
Cukup tidak merugikan,
Cukup tidak menyusahkan,
Itu sudah kemulian
Allah tidak meminta kita jadi sempurna.
Allah hanya meminta kita Kembali..lagi dan lagi.
Dan saat kita berhenti mengejar penilian manusia…distulah ketenangan mulai Allah turunkan.
Kalau hati kita sering lelah karena manusia, mungkin kita perlu kembali menggenggam ketenangan yang benar.
Pelan-pelan kita belajar pulang…bukan ke manusia tapi ke Allah Azza Wa Jalla.
Barakallahu fikum aj’main.
Sukamiskin,