(Oleh: Al-Fakir)
Saudaraku,
Sering kali kita berdoa meminta rezeki, jodoh, atau kesembuhan dari penyakit, namun setelahnya, kita diam terpaku menunggu keajaiban jatuh dari langit.
Kita lupa bahwa Allah memiliki hukum sunnatullah (sebab akibat) di alam semesta ini.
Allah mendidik kita untuk memiliki harga diri.
Allah tidak ingin hamba-Nya menjadi pemalas yang hanya berpangku tangan.
Kita mencoba melihat para nabi.
Mukjizat mereka yang dahsyat selalu diawali dengan aksi fisik yang sederhana.
Nabi Musa harus memukul air laut, Siti Maryam harus menggoyang pohon kurma, dan Nabi Ayub harus menghentakan kaki ketanah.
Apakah pukulan tongkat itu yang membelah laut? bukan.
Apakah goyangan tangan lemah itu yang menjatuhkan kurma? bukan.
Itu semua adalah kuasa Allah.
Tetapi, aksi-aksi kecil itulah yang menjadi “Trigger” (pemicu) turunya pertolongan Allah.
Kita hanya perlu menekan “saklar”. Kita hanya perlu melangkah satu jengkal.
Karena Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sampai kaum itu mau mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.
Sudahkah kita mengerjakan 1% bagian kita hari ini?.
Renungkan:
Jika Allah Mahakuasa, mengapa laut merah tidak terbelah begitu saja tanpa harus di pukul tongkat nabi Musa?.
Pernahkah terbersit di benak kita mengapa Allah yang MAHA BERKEHENDAK ( KUN FAYAKUN), sering kali memberikan perintah yang seolah ” merepotkan” hamba-Nya, sebelum menurunkan pertolongan?
Allah bisa saja membuat perut Maryam kenyang tanpa harus menggoyangkan pohon kurma.
Allah bisa saja menyelamatkan nabi Nuh tanpa harus bersusah payah memaku kayu membuat kapal.
Namun Allah tidak melakukanya.
Ada satu hukum yang sedang Allah ajarkan kepada kita.
Hukum itu bernama Sunnatullah (sebab akibat).
Allah tidak akan memanjakan kita layaknya bayi yang harus disuapi.
Allah ingin kita bergerak, mengeluarkan keringat, dan menunjukan kesungguhan.
Allah ingin kita ” menekan saklar” terlebih dahulu, baru kemudian Allah menyalakan “cahaya”-Nya.
Mari kita buktikan pada kisah kisah terdahulu.
PERTAMA.
Tongkat Nabi Musa.
Kita bayangkan suasana mencekam di tepi Laut Merah.
Debu berterbangan, suara derap kuda Firaun semakin dekat, dan aroma asin air laut memenuhi rongga hidung.
Dalam kepanikan itu, Allah memerintahkan;
“Pukulkanlah tongkatmu ke laut itu”. (QS. Asy-Syu’ara;63).
Secara fisika apa hubunganya memukul air dengan membelah lautan?, NOL BESAR.
Pukulan tongkat kayu tidak akan mungkin memisahkan milyaran liter air laut.
Tetapi poin-nya bukan pada kekuatan pukulan itu.
Allah hanya meminta ketaatan. !
Pukulan tongkat itu adalah simbol Ihktiar 1 % dari Nabi Musa.
Seolah Allah berkata;
“Musa, lakukan bagian kecilmu (memukul), sisanya biarkan Aku yang mengurusnya. (membelah laut),”.
KEDUA.
Pohon qurma Maryam.
Bayangkan rasa sakit konstraksi melahirkan yang meremas perut, ditambah rasa lapar dan haus ditengah gurun yang panas menyengat.
Maryam sendirian dan sangat lemah.
Lalu perintah itu datang;
“Dan goyangkanlah pangkal pohon kurma itu ke arahmu.” (QS. Maryam.25).
Seorang atlet angkat besipun mungkin akan kesulitan menggoyang pohon qurma yang kokoh agar buahnya jatuh. Apalagi wanita yang kesakitan sehabis melahirkan?.
Sekali lagi ini bukan soal Tenaga.
Karena Allah tidak butuh tenaga Maryam, Allah hanya butuh melihat tangan Maryam bergerak dan berusaha.
Gerakan tangan yang lemah itu adalah “kode” bahwa hamba-Nya tidak menyerah. Dan benar saja, qurma-qurma matang itu berjatuhan.
KETIGA.
Hentakan kaki Nabi Ayyub.
Bertahun-tahun kulitnya di gerogoti penyakit, tubuhnya sulit digerakkan karena lumpuh.
Namun untuk sembuh Allah memerintahkan;
“Hentakkanlah kakimu.” (QS. Shaad:42).
Logikanya, bagaimana hentakan kaki orang sakit lumpuh bisa menggali mata air penyembuh?,
Tapi karena nabi Ayyub percaya dan bergerak, air itu memancarkan dingin, membasuh seluruh luka di tubuhnya.
Inilah yang disebut rumus 1% vs 99%.
Dalam hidup kita, pembagian kerjanya sangat jelas.
– 1% adalah bagian kita, manusia (Ihktiar);
Mengetuk pintu, melamar kerja, minum obat, belajar, memperbaiki kendaraan.
– 99% adalah bagian Allah (Hakikat);
Pintu terbuka, rezeki turun, kesembuhan datang, kecerdasan diraih.
Masalah terbesar kita hari ini adalah seringkali kita enggan mengerjakan yang 1%, tapi menuntut yang 99%.
Atau sebaliknya kita merasa sombong karena sudah mengerjakan yang 1%, lalu mengira keberhasilan itu murni karena kehebatan diri kita sendiri, padahal itu adalah hadiah dari yang 99%.
Allah itu “ibarat” arus listrik besar yang sudah standby didalam rumah kita, Pertolongan-Nya sangat dekat.
Namun lampu ruangan tidak akan menyala jika kita tidak mau berjalan kearah dinding dan menekan saklarnya.
Usaha kita (doa, kerja, belajar) hanyalah aktivitas menekan saklar itu, Kecil tapi vital.
Maka jangan pernah meremehkan ihktiar sekecil apapun.
Mungkin usaha kita hari ini terlihat tidak logis seperti memukul tongkat ke air.
Tapi percayalah Allah selalu menunggu kita untuk bergerak.
Lakukan bagian kita yang 1% dan biarkan Allah menyempurnakan yang 99% dengan caranya yang ajaib.
Barakalahu fikum aj’main
Sukamiskin
