GEMAWAN Dorong Penguatan Kelembagaan dan Akses Pasar Petani di Nanga Nuak dan Tanjung Sari
Melawi – Lembaga GEMAWAN terus memperkuat upaya pengembangan ekonomi berbasis komunitas melalui pendampingan dan pemetaan potensi pertanian di desa-desa dampingan. Pada April 2026, GEMAWAN melaksanakan rangkaian kegiatan konsolidasi, koordinasi, dan Focus Group Discussion (FGD) bersama petani, kelompok tani, pemerintah desa, serta pemangku kepentingan lokal di Desa Nanga Nuak dan Desa Tanjung Sari, Kabupaten Melawi.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Improving Community Commodity Based Economic Movement in West Kalimantan yang bertujuan memperbaharui data kelompok tani dan komoditas unggulan desa, sekaligus mengidentifikasi potensi, tantangan, kebutuhan petani, serta peluang pengembangan usaha pertanian yang lebih berkelanjutan.
Dari hasil pendampingan dan diskusi di kedua desa, terungkap bahwa sektor pertanian masih menjadi sumber utama penghidupan masyarakat. Berbagai komoditas seperti padi sawah, padi lokal, sayuran, hortikultura, karet, kelapa sawit, hingga hidroponik menjadi penopang ekonomi rumah tangga petani.
Di Desa Nanga Nuak, potensi utama terletak pada pengembangan padi lokal seperti Padi Robi atau Padi Tuah yang memiliki daya adaptasi tinggi terhadap kondisi lingkungan setempat. Desa ini juga memiliki enam kelompok tani aktif yang menjadi basis pengembangan pertanian. Sementara itu, di Desa Tanjung Sari, keragaman komoditas pertanian memberikan peluang besar untuk pengembangan ekonomi desa, termasuk munculnya inisiatif pertanian hidroponik yang mulai menunjukkan prospek pasar yang menjanjikan.
Meski memiliki potensi yang besar, hasil FGD menunjukkan masih terdapat sejumlah persoalan yang menjadi tantangan bersama. Di kedua desa, kelembagaan kelompok tani belum berfungsi secara optimal sebagai wadah penguatan kapasitas dan usaha bersama. Sebagian kelompok masih berperan sebatas sarana administratif untuk mengakses bantuan, sementara fungsi pengorganisasian produksi, pemasaran, dan peningkatan posisi tawar petani belum berjalan maksimal.
Selain itu, petani masih menghadapi berbagai kendala seperti keterbatasan akses terhadap pupuk dan sarana produksi, minimnya pendampingan teknis, tingginya biaya usaha tani, serta lemahnya akses informasi pasar. Ketergantungan pada tengkulak juga menyebabkan posisi tawar petani menjadi rendah dan harga hasil pertanian sering kali tidak menguntungkan.
Di Desa Nanga Nuak, tantangan lain yang dihadapi adalah ketergantungan pada sistem sawah tadah hujan yang membuat produksi sangat dipengaruhi kondisi cuaca. Sementara di Tanjung Sari, petani mengeluhkan masuknya produk dari luar daerah dengan harga yang lebih kompetitif sehingga menyulitkan pemasaran hasil produksi lokal.
Melalui proses analisis SWOT yang dilakukan secara partisipatif, para petani bersama pemerintah desa dan tim GEMAWAN berhasil memetakan berbagai kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang memengaruhi pengembangan sektor pertanian. Hasil analisis tersebut menjadi dasar dalam menyusun rencana tindak lanjut yang lebih terarah sesuai kebutuhan masyarakat.
Ke depan, GEMAWAN akan mendorong penguatan kelembagaan kelompok tani melalui pendampingan yang lebih intensif, peningkatan kapasitas petani melalui pelatihan dan praktik lapangan, pengembangan usaha kolektif, serta membangun konektivitas dengan penyuluh, instansi terkait, dan mitra pasar.
Selain itu, penguatan akses pasar dan pengembangan kemitraan yang lebih adil menjadi fokus penting agar petani tidak hanya mampu meningkatkan produksi, tetapi juga memperoleh nilai tambah dan kepastian pasar bagi hasil usaha mereka.
Rangkaian kegiatan ini menunjukkan bahwa desa-desa di Kabupaten Melawi memiliki potensi pertanian yang besar untuk dikembangkan. Namun, potensi tersebut memerlukan dukungan yang berkelanjutan melalui penguatan kelembagaan, peningkatan kapasitas petani, perbaikan akses pasar, serta kolaborasi yang lebih kuat antara masyarakat, pemerintah desa, dan berbagai pihak terkait.
Melalui pendekatan partisipatif dan berbasis kebutuhan riil masyarakat, GEMAWAN berharap pengembangan sektor pertanian tidak hanya meningkatkan pendapatan petani, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan dan kemandirian ekonomi desa dalam jangka panjang.
