DSC_3032-100kb

MELAWI — Petani dari Desa Nanga Nuak, Tanjung Sari, Manggala, Landau Garong, dan Sungai Bakah mengikuti pelatihan penguatan kapasitas dan kelembagaan yang dilaksanakan Lembaga Gemawan. Pelatihan menjadi ruang bersama untuk memetakan persoalan petani sekaligus mendorong penguatan organisasi dan kerja kolektif di tingkat desa.

Persoalan yang dibahas tidak hanya berkaitan dengan produksi, tetapi juga harga hasil pertanian, mahalnya pupuk dan benih, keterbatasan alat dan modal, akses pasar, data anggota, serta lemahnya tata kelola sebagian kelompok tani. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penguatan sektor pertanian membutuhkan kelembagaan petani yang aktif, transparan, dan mampu memperjuangkan kepentingan anggotanya.

Kebutuhan setiap desa memiliki karakter berbeda. Landau Garong membutuhkan pembentukan dan penguatan organisasi, Manggala menekankan perbaikan tata kelola, kaderisasi, dan ekonomi, sementara Nanga Nuak mendorong penguatan akuntabilitas, advokasi, dan kemandirian organisasi. Di Sungai Bakah, perhatian diarahkan pada produksi, pasar, dan kelembagaan ekonomi. Sementara Tanjung Sari membutuhkan verifikasi dan penataan kembali kelompok tani agar sesuai dengan kondisi aktual di lapangan.

Pelatihan juga mendorong perubahan cara pandang terhadap kelompok tani. Organisasi petani tidak cukup hanya menjadi wadah penerima bantuan atau pelaksana program, tetapi harus berkembang menjadi organisasi berbasis anggota yang memiliki data, pembagian peran, kaderisasi, tata kelola, serta agenda kerja yang jelas. Kerja kolektif dapat dimulai dari kebutuhan konkret, seperti pembelian pupuk dan benih bersama, pemanfaatan alat pertanian, penyusunan kalender tanam, pengumpulan dan sortasi hasil, hingga pemasaran dan negosiasi harga.

Our Social Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *