ChatGPT Image 21 Sep 2026 12.30.15-100kb

(Oleh: Al-Fakir)

Ada seorang raja yang paling suka satu hal di dunia ini yakni di Puji.

Ia mengelilingi dirinya dengan penjilat.
Orang yang tugasnya bukan mengatakan yang benar, tapi mengatakan yang ingin ia dengar.

Di istana itu kejujuran jadi barang paling langka.

Suatu hari datang dua penipu.
“Kami bisa memjahit kain paling indah di dunia” kata mereka. Tapi ini kain ajaib, hanya orang-orang cerdas yang bisa melihatnya.

Yang bodoh dan tidak becus tidak akan bisa.

Raja langsung tergoda, ia tidak perduli pada kainya. Ia cuma ingin tahu siapa di Istananya yang pantas di sebut bodoh.

Raja mengirim para pejabat kepercayaanya untuk memeriksa.
Satu persatu mereka masuk, menatap alat tenun yang kosong melompong; -tidak ada benang-, tidak ada kain-, tidak ada apapun.

Tapi tak seorangpun berani mengaku, “kalau aku bilang tidak lihat, aku dianggap bodoh, Habis Jabatanku.

Maka mereka keluar dengan wajah kagum: “Luar biasa indah Baginda”, para penjilat memuji kain yang Bahkan Tidak Ada.

Lalu tiba hari pawai: Raja berjalan keluar istana tanpa sehelai benangpun ditubuhnya.

Telanjang dada terbuka Tapi wajahnya bangga luar biasa.

Dibelakangnya para pejabat berjalan khidmat, memegangi ujung jubah yang tidak pernah ada, sambil tersenyum penuh hormat.

Pemandangan yang seharusnya memalukan, dirayakan seolah sebuah kemuliaan.

Diantara kerumunan, seorang anak kecil berkata polos, “tapi dia tidak pake baju.”

Dan sebenarnya semua orang sudah tahu anak itu mengucapkan yang semua mereka lihat, sejak tadi.

Bisik- bisik menyebar “dia benar. Rajanya telanjang.”

Sampai disini dongeng dalam mimpiku terhenti. Tapi ceritanya tidak hanya sampai disini.!

Karena hidup kita tidak berhenti disitu.
Karena di dunia nyata setelah rakyat berteriak, “dia telanjang” Sang Raja tidak malu, ia tidak berhenti.

Ia meluruskan punggung dan melanjutkan pawainya.
Para penjilat tetap setia di belakang, tetap memuji.
Pawai itu terus berjalan, seolah tidak ada yang berteriak.

Karena dalam pawai yang terus dipaksakan itu, selalu ada yang harus membayar.

Bukan rajanya, bukan para penjilat, tetapi Rakyat!

Kain emas yang tidak pernah ada itu, tetap ada tagihanya.
Dan yang menanggung selalu orang yg dipinggir jalan.

Kita sudah lama tidak bodoh, kita melihat, kita tahu, kita bahkan sudah ber kali-kali berteriak.

Tetapi pemimpin tertinggi negeri ini seperti raja dalam dongeng itu. Dikelilingi orang yang lebih sibuk, menjilat daripada belerja. Terus berjalan seakan teriakan kita hanya angin lalu. Dan kita capek.!
Bukan karena tidak berani, tetapi karena kita sudah berani.!
Berulang kali dan pawainya tetap jalan.

Jadi kalau hari ini kita merasa muak, itu wajar.

Muak melihat citra dirawat mati-matian, sementara hidup kita semakin susah.
Muak melihat yang menjilat naik, yang jujur disingkirkan!
Muak jadi rakyat di pinggir jalan, yang tepuk tanganya di paksa.! Padahal kita yang menanggung seluruh ongkosnya!.

Aku tidak sedang mengajak kita jadi anak kecil yang berani bersuara. Kita sudah lama bersuara.

Aku cuma ingin kita tidak lupa satu hal;
Raja yang terus berjalan telanjang itu hanya kuat, selama rakyat mau terus bertepuk tangan untuknya. Dan tepuk tangan itu kapanpun, bisa kita hentikan.

Simpan tulisan ini jika kamu muak, bagikan, biar yang dipinggir jalan tahu, ia tidak sendirian.

Barakallahu fiikum aj’main

Sudut sempit sukamiskin, subuh terbangun dari mimpi suara sumbang dibalik jeruji

Our Social Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *