Ali Khamenei Lelaki yang Membuat Israel Tak Bisa Tidur Dan Hadis Tentang Nasibnya
(Oleh: Al-Fakir)
Masyhad, 19 April 1939. Dinding tanah. Angin dingin. Tidak ada harta yang diwariskan, hanya satu hal yang lebih beharga dari segalanya; keberanian berbicara kebenaran dihadapan penguasa zalim.
Ayahnya, Ayatullah Jafar Khameni, adalah ulama yang hidupnya habis untuk kitab dan umatnya, bukan untuk jabatan dan kemewahan.
” Ayah saya seorang ulama, bukan orang kaya.” – Ali Khamenei
Dari gubuk itu kelak lahir sosok yang kelak membuat CIA dan Mossad kehilangan tidur selama 35 tahun belakangan ini.
Enam kali ia masuk penjara. Disiksa SAVAK; dinas rahasia rezim Syah Mohammad Reza Pahlevi yang terkenal kejam tidak mengenal batas.
27 Juni 1981, bom tersembunyi dalam perekam suara meledak di mimbar masjid. Tangan kananya cacat selamanya.
Namun setiap kali ia keluar dari penjara, suaranya justru lebih keras. Setipa kali tubuhnya di lukai, jaringan justru lebih luas.
Ada manusia semakin ditekan, semakin kuat akarnya menghujam bumi.
Raja-raja bergelimang emas, membisu soal Palestina. Presiden-presiden berdasi rapi, mengangguk di depan Washington.
Tetapi lelaki ini malah tinggal di rumah biasa, menolak kontrak dengan perusahaan minyak asing,menolak bank-bank Barat masuk ke negaranya.
Sanksi berlapis di jatuh kan. Pembunuhan karakter dilancarkan. Rencana-rencana gelap di rancang , sebagian bocor dari dekumen intelejen CIA dam Mosad. Semuanya gagal.
Sebab bagaimana caranya menghancurkan seseorang yang sejak kecil didik untuk tidak memcintai dunia?
Barat menyebutnya proxy war: seolah perlawanan rakyat Gaza, Lebanon, dan Yaman hanyalah bidak catur di tangan Teheran. Tapi coba tanyakam kepada rakyat Gaza yang pintu bantuanya ditutup satu persatu, siapa yang masih mau bediri saat bangsa Arab dan negara muslim lainya sibuk dengan urusanya sendiri?.
Dibawah kepemimpinanya, Iran membangun jaringan dukunganya ke Hisbullah di Libanon, ke faksi-faksi perlawanan di Gaza, ke milisi di Irak pasca invasi amerika 2003, ke gerekan Huothi di Yaman. Barat menyebut itu ancaman regional. Mereka menyebutnya pertahanan maju, mencegah perang masuk ke perbatasan Iran sendiri.
Dua narasi. Satu peta. Yang mana kebenaran?, biarlah sejarah yang menimbang.
Dibalik semua keteguhan itu, ada peringatan yang lebih tua dari semua ini, yang tidak memandang siapa pemimpinya, tidak memandang apa mazhabnya.
Rasulullah SAW, bersabda; ” Akan terjadi berbagai fitnah. Yang duduk diam lebih selamat dari yang berdiri. Yang berdiri lebih selamat dari yang berjalan. Yang berjalan lebih selamat dari yang berlari menuju fitnah itu.”(HR. Bukhari Mislim)
Bukan peringatan peringatan tentang musuh dari luar. Ini peringatan tentang badai yang lahir dari dalam. Tentang siapa yang makin vokal, makin aktif, makin menonjol, makin tamlak, maka makin pula berbahaya keamanan dirinya.
Sejarah Islam punya pola yang menyakitkan untuk dibaca, namun berbahaya untuk diabaikan. Utsman bin Affan, khaligah ke tiga. Hafizh Al-Qur’an. Dibunuh bukan oleh tentara Roma atau Persia. Dibunuh oleh mereka yang datang sambil membawa mushaf, yang mengepung rumahnya empat puluh hari, lalu menyerangnya saat ia sedang membaca Al-Qur’an.
Ali bin Abi Thalib RA; sepupu dan menantu Nabi. Tidak pernah kalah di medan perang manapun. Jatuh di subuh 19 Ramadhan 40 H, oleh pedang beracun Ibnu Muljam, seorang lelaki yang mengira pembunuhan itu adalah ibadah. Keduanya tidak jatuh karena musuh luar. Keduanya jatuh karena fitnah dari dalam.
Inilah yang para ulama sebut Al-Fitnah Al-Kubra. Itu masa awal Islam, bagai mana jika di fitnah serupa di ahir zaman?, tentu jauh lebih Kubro. Ibarat kata sesuai hadis peristiwa pembunuhan Utsman dan Ali adalah Sugro, dan pembunuhan pemimpin yang akan kita hadapi adalah yang benar-benar kubro.
Kita berbeda mazhab &manhaj denganya, dan itu tidak perlu kita tutup-tutupi dan sembunyikan, kita Ahlussunah, dan perbedaan itu nyata, dalam, dan prinsipil. Tapi hari ini, bukan soal perbedaan fikih, aqidah, atau mazhab yang perlu kita renungkan.
Peringatan Nabi Muhammad tentang fitnah tidak diturunkan untuk satu kelompok saja. Ia diturunkan untuk seluruh umat. Dan finah itu sedang terjadi, bukan dalam buku sejarah, melainkan didepan mata kita hari ini; umat yang terpecah karena label. Pemimpin yang jatuh, bukan musuh, tapi oleh penghianatan dari dalam oleh sesama pemimpin muslimin lainya. Suara-suara yang seharusnya bersatu, sibuk saling melemahkan.
Sebelum kita menghakimi siapapun, ada pertanyaan yang lebih mendesak; Dizaman penuh fitnah ini dimana posisi kita berdiri?. Disamping pemimpin yang diperangi oleh pelaku Genosida, atau justru duduk di sebelah pelaku itu sendiri.
Sejarah tidak berhenti berulang. Hadis Nabi Muhammad tidak pernah salah.
Yang berubah nama dan wajahnya. Polanya?, selalu sama.
“Saya sudah tua, tubuh saya lemah. Namun pertarungan ini bukan milik saya. Ini milik pemuda Iran. Anda tidak melawan seorang pria, tapi sebuah bangsa yang mempertaruhkan martabatnya.”
Ayayollah Ali Khamenei.
Setidaknya beliau wafat dalam keadaan tidak menggadaikan tuhannya demi dunia.
Barrakallahu fiikum aj’main
Sudut sempit diujung lorong sukamiskin, lelah menunggu kedatangan Ombusdman.
