(Oleh: Mira Lubis*)
Bayangkan suatu pagi di Pontianak. Kita keluar dari rumah, berjalan di trotoar yang teduh dan nyaman. Tidak perlu turun ke badan jalan karena trotoarnya cukup lebar. Tidak khawatir tersandung. Ada pohon peneduh, ada tempat duduk di beberapa titik, dan ketika harus menyeberang, ada zebra cross di beberapa tempat dan rambu-rambu pelengkap, sehingga kita merasa cukup aman.
Rasanya menyenangkan.
Tetapi setelah berjalan lima atau sepuluh menit, muncul pertanyaan sederhana: setelah itu kita naik apa? Kalau tempat yang dituju masih satu atau dua kilometer lagi, mungkin kita masih sanggup berjalan. Tetapi bagaimana kalau tujuannya kampus, rumah sakit, pasar, sekolah, kantor, atau kawasan lain yang berjarak beberapa kilometer, atau bahkan di seberang Sungai Kapuas?
Di sinilah sebenarnya pembicaraan mengenai trotoar mulai bertemu dengan pembicaraan mengenai angkutan umum.
Belakangan ini Pemerintah Kota Pontianak cukup serius berbicara tentang trotoar yang lebih humanis. Ini arah yang patut diapresiasi. Kota memang seharusnya tidak hanya dibangun untuk kendaraan. Kota juga harus memberikan ruang yang layak bagi manusia yang berjalan kaki.
Apalagi visi pembangunan Pontianak 2025–2029 sendiri menyebut kota yang maju, sejahtera, berwawasan lingkungan, dan humanis. Kata “humanis” menjadi penting karena ia mengingatkan kita bahwa pada akhirnya kota dibangun untuk manusia. Hanya saja, trotoar humanis sebaiknya tidak berhenti pada trotoar.
Berjalan kaki bukan seluruh perjalanan
Dalam kehidupan sehari-hari, jarang sekali perjalanan kita benar-benar dilakukan seluruhnya dengan berjalan kaki.
Kita berjalan dari rumah menuju kendaraan. Turun dari kendaraan, lalu berjalan lagi menuju kantor. Kita berjalan dari tempat parkir menuju pasar. Kita berjalan menuju dermaga, menyeberangi sungai, kemudian berjalan lagi menuju tempat tujuan.
Artinya, berjalan kaki hampir selalu menjadi bagian dari perjalanan yang lebih panjang.
Karena itu, dalam perencanaan transportasi dikenal satu prinsip sederhana: perjalanan dengan angkutan umum biasanya dimulai, diselingi, dan diakhiri dengan berjalan kaki.
Trotoar dan angkutan umum adalah hubungan yang sangat masuk akal. Kalau halte sulit dicapai karena tidak ada trotoar, orang akan malas menggunakan angkutan umum. Sebaliknya, kalau trotoar sudah bagus tetapi tidak ada moda yang bisa membawa orang lebih jauh, orang tetap akan memilih membawa sepeda motor atau mobil sejak dari rumah.
Trotoar dan angkutan umum akhirnya seperti dua potongan puzzle yang seharusnya dipertemukan. Hal ini juga bukan semata-mata gagasan akademik. Permen PU Nomor 03/PRT/M/2014 tentang jaringan pejalan kaki di kawasan perkotaan menempatkan prasarana pejalan kaki sebagai bagian dari sistem perkotaan yang perlu direncanakan secara aman, nyaman, dan terhubung. Lebih jauh lagi, Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan menyebut bahwa pemerintah kabupaten/kota wajib menjamin tersedianya angkutan umum untuk wilayahnya.
Jadi, menyediakan ruang bagi pejalan kaki dan menyediakan angkutan umum sebenarnya berada dalam satu napas yang sama: memberi warga pilihan untuk cara-cara bepergian.
Dari mempercantik kota menuju konektivitas internal kota
Trotoar memang dapat membuat wajah kota menjadi lebih baik. Pohon peneduh, lampu, bangku, material yang bagus, jalur disabilitas, dan ruang pedestrian yang rapi akan meningkatkan kualitas keindahan visual suatu kawasan.
Tetapi trotoar mempunyai fungsi yang jauh lebih besar daripada sekadar mempercantik kota. Trotoar adalah bagian dari jaringan mobilitas.
Mari kita bayangkan, apabila trotoar yang dibangun di Pontianak perlahan-lahan dihubungkan dengan halte kecil. Dari halte itu tersedia angkutan yang datang secara teratur. Tidak harus bus besar. Bisa berupa kendaraan yang ukurannya sesuai dengan kebutuhan dan karakter jalan-jalan Kota Pontianak.
Orang kemudian mempunyai pilihan. Ia bisa berjalan dari rumah menuju halte, naik angkutan umum, turun di dekat Pasar Flamboyan, kampus UNTAN, rumah sakit, sekolah, kawasan perkantoran atau ruang publik, lalu berjalan kembali menuju tujuan.
Pada saat itulah trotoar tidak lagi hanya menjadi fasilitas di pinggir jalan. Ia menjadi bagian dari kehidupan kota sehari-hari. Inilah yang dimaksud dengan bergerak dari trotoar humanis menuju mobilitas humanis. Mobilitas humanis melihat perjalanan dari sudut pandang manusia. Bukan semata-mata kendaraan.
Pertanyaannya bukan lagi hanya, “Berapa kendaraan yang bisa melewati jalan ini?” tetapi juga, “Berapa banyak orang yang dapat bergerak dengan aman, nyaman dan terjangkau?” Perbedaan cara bertanya ini kelihatannya kecil. Tetapi dampaknya terhadap cara kita merancang kota bisa sangat besar.
Pontianak tidak perlu menjadi Jakarta
Ketika mendengar istilah angkutan umum, kita sering langsung membayangkan bus besar, terminal besar, LRT, MRT, investasi mahal, atau sistem transportasi seperti Jakarta. Padahal ada banyak bentuk angkutan umum.
Sistem transportasi harus lahir dari karakter kotanya sendiri.
Kita bisa memulainya dari satu atau dua koridor. Pilih kawasan yang mempunyai banyak aktivitas: permukiman, kampus, sekolah, pasar, rumah sakit, kantor dan ruang publik. Sediakan kendaraan dengan ukuran yang sesuai. Buat halte yang sederhana tetapi nyaman. Atur jadwal dengan cukup jelas sehingga orang tidak merasa sedang membuang-buang waktu menunggu.
Buat eksperimen dulu. Lihat siapa yang menggunakan. Lihat dari mana mereka datang dan hendak ke mana. Pelajari jam-jam sibuknya. Dengarkan keluhan penggunanya. Setelah itu baru diperbaiki dan dikembangkan.
Pendekatan seperti ini jauh lebih masuk akal daripada menunggu sampai suatu hari Pontianak merasa sudah cukup mampu untuk investasi proyek angkutan umum besar-besaran. Sebab angkutan umum bukan sesuatu yang tiba-tiba muncul ketika kota sudah macet. Ia perlu dibangun dan dibiasakan sejak awal.
Menariknya, arah itu sebenarnya sudah mulai muncul. Pemerintah Kota Pontianak telah menyiapkan Tataran Transportasi Lokal atau TATRALOK dan pernah menyampaikan rencana pengembangan angkutan massal berbasis skema Buy the Service atau BTS. Arah pengembangan transportasi kota juga disebut menuju green mobility.
Artinya, peluangnya sebenarnya sudah sangat terbuka. Tinggal bagaimana gagasan tentang transportasi itu disambungkan dengan pembangunan ruang kota yang sedang berjalan.
Jangan lupa bahwa Pontianak adalah kota sungai
Ada satu hal yang menurut saya sangat penting: Pontianak tidak boleh membayangkan masa depan mobilitasnya hanya dari jalan raya. Kita hidup di kota yang lahir dari pertemuan Sungai Kapuas dan Sungai Landak. Jauh sebelum jalan menjadi struktur utama pergerakan kota, sungai telah menjadi jalur mobilitas masyarakat. Permukiman, perdagangan dan kehidupan sehari-hari Pontianak tumbuh bersama air. Karena itu, ketika berbicara tentang mobilitas masa depan, sungai seharusnya kembali masuk ke dalam pembahasan. Tidak berarti kita harus menghidupkan semua bentuk transportasi sungai seperti pada masa lalu. Kondisi kota sudah berubah. Pola perjalanan masyarakat juga berubah.
Tetapi di titik-titik tertentu, trotoar dapat terhubung ke dermaga. Dermaga dapat terhubung dengan penyeberangan sungai. Dari seberang, perjalanan dapat diteruskan dengan berjalan kaki, angkutan lingkungan, angkutan umum, sepeda, atau bahkan transportasi daring.
Gojek dan Grab pun tidak harus dianggap sebagai lawan dari angkutan umum. Mereka dapat menjadi bagian dari perjalanan, terutama untuk menghubungkan rumah dengan halte atau dermaga.
Jalan, sungai, angkutan umum dan berjalan kaki dapat menjadi satu jaringan.
Ini sangat mencerminkan Pontianak, dan trotoar bisa menjadi titik awal. Membangun sistem transportasi kota tentu tidak mudah. Ada persoalan anggaran, kelembagaan, kebiasaan masyarakat, trayek, operator, tarif, subsidi, parkir, sampai masalah siapa yang akan menggunakan.
Tetapi persoalan yang rumit bukan berarti kita tidak perlu memulainya. Dan kita tidak harus memulainya dari sesuatu yang besar. Cukup mulai dari trotoar. Ketika pemerintah membangun trotoar yang nyaman, sebenarnya pmerintah sedang mengatakan bahwa orang yang berjalan kaki itu penting. Anak sekolah penting. Orang tua penting. Penyandang disabilitas penting. Orang yang tidak mempunyai mobil atau sepeda motor juga penting.
Karena kota yang humanis bukan hanya kota yang enak dipandang. Bukan hanya kota dengan taman yang indah, bundaran yang cantik, lampu yang menarik atau trotoar yang rapi. Kota yang humanis adalah kota yang membuat kehidupan sehari-hari warganya menjadi lebih mudah. Termasuk ketika mereka hendak bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Karena itu, mungkin sudah waktunya kita melihat pembangunan trotoar di Pontianak bukan sebagai proyek yang berdiri sendiri.
Trotoar humanis dapat menjadi langkah pertama menuju sesuatu yang lebih besar: mobilitas humanis
Kota di mana berjalan kaki terasa nyaman, angkutan umum tersedia, sungai dan parit-parit besar menjadi bagian dari jaringan pergerakan, dan masyarakat mempunyai pilihan selain selalu harus membawa kendaraan pribadi. Jadi, kalau trotoar humanis itu sudah kita mulai, sayang rasanya kalau kita berhenti hanya di trotoar. Mari kita lanjutkan ke mobilitas humanis.
*Dosen Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Universitas Tanjungpura
